Mempunyai guru favorit ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, alangkah senangnya. Ibu Sri, nama guruku. Kebetulan namanya sama denganku. Orangnya gemuk, cantik dan putih. Wajahnya bulat dan rambutnya bergelombang.
Ibu Guruku yang satu ini sering sekali mengingatkanku tentang pentingnya diam dan memperhatikan ketika gurunya mengajar di kelas. Selalu diingatkan seperti ini hingga pernah terpikir olehku, apakah aku termasuk orang yang banyak omong? Menurutku sih tidak. Aku selalu mendengarkan ketika guruku menyampaikan pelajaran di kelas. Sungguh sangat membuatku kecewa ketika guruku ini menyampaikan pada orang tuaku bahwa aku sering bicara di dalam kelas. Bu Sri menyampaikan hal ini pada saat ambil rapor. Loh, kok bisa dibilang ramai di kelas? Padahal aku selalu diam dan memperhatikan. Memang sih, temanku sebangku sering ngobrol dengan teman di depanku. Tapi bukan aku.
Pernyataan yang disampaikan Bu Sri membuatku menarik diri dari teman-temanku. Aku tidak mau mendapat marah dari orangtuaku. Tentu orangtuaku kecewa jika nilai yang kudapat ketika sekolah hasilnya pas-pasan. Ah, Bu Sri….mengapa aku kau katakan banyak omong? Padahal aku orangnya tidak banyak bicara.
Beda sekali dengan guruku ketika ku duduk di bangku kelas 1. Namanya Bu Santoso. Orangnya sudah tua dan sedikit kelihatan ompong. Wajahnya tirus dan kulitnya kecoklatan. Meski agak sedikit tua, namun Bu Santoso tidak pernah marah dan menegurku , baik di kelas ataupun diluar kelas. Bu Santoso juga tidak pernah melaporkan aku pada orang tuaku bahwa aku orang yang banyak omong. Jika bertemu, aku selalu dibelai rambutku. Sungguh senang hatiku berada di dekatnya. Meski jika mengajar , selalu disiplin dan tidak pernah toleran. Aku selalu mengikuti pelajarannya. Hanya Bu Sri, satu-satunya yang melaporkanku pada orangtuaku bahwa aku orangnya banyak omong. Sedihnya…
Bu Santoso, orang yang bisa membuatku membaca buku. Mulai dari belajar a-b-c hingga menjadi sebuah kata dan kalimat. Bu Santoso, guru kesayanganku kala aku sd di kelas 1. Sering bernyanyi di dalam kelas, namun juga sering membuatku takut jika sedang mendengarkan pelajarannya. suaranya keras menghentak-hentak. Sedikit takut jika di dalam kelas. Mungkin karena suaranya yang lantang sehingga seperti orang yang sedang marah. Namun jika diluar kelas, Bu Santoso sangat santun , lembut dan sayang pada kami semua.
Jika rambut kami berantakan, selalu disisirnya dengan rapi. Tidak perduli, apakah kami berasal dari orang kaya, ataukah dari keluarga pas-pasan. Bu Santoso selalu sayang dan kasih pada kami semua.
Berbeda dengan Bu Santoso, beda pula dengan Bu Lilik. Orangnya hitam manis dan selalu tersenyum. Rambutnya yang hitam selalu dibiarkan tergerai dan jatuh di pundaknya. Guruku yang satu ini suka sekali mengajar memasak. Masakan yang terenak pasti mendapat nilai 90, nilai yang lumayan tinggi untuk ukuran kami saat itu. Diajar Bu Lilik membuat hati merasa senang karena selalu mendapat nilai 90. Sayangnya aku tidak pernah mendapat ranking ketika Bu Lilik mejadi guru kelasku. Padahal aku tidak pernah mendapat nilai dibawah 90. Ada seorang temanku yang bernama Dewi, yang nilainya selalu dibawahku, tapi ternyata malah juara 1 di kelasku. Dewi, anak seorang pengusaha kaya, dan tinggalnya di pusat kota , dengan rumah yang sangat besar. Kami sering diajak main ke rumahnya Dewi.
Pak Agus juga salah seorang guruku yang selalu kuidolakan. Beliau selalu membuatku untuk ingin maju ke depan dan mengerjakan soal yang diberikan. Meski jawaban yang kuberikan sering salah, namun pak Agus tidak pernah mencela dan mencerca. Apalagi menghina. Tidak pernah. Mengajar agama, selalu menekankan betapa pentingnya melaksanakan shalat dan selalu mengaji. Beliau selalu menginatkan bahwa kami harus rajin mengaji. Demi sebuah janji. Janji siapa?
Pak Agus, satu-satunya guru yang selalu mengingatkan kami semua, anak didiknya, akan adanya kehidupan setelah di dunia. Ada kehidupan setelah kehidupan di dunia membuat kami menjadi takut akan apa yang telah kami lakukan selama ini. Betapa kusering menghindari teman-teman ketika diajak ngobrol dan bicara saat pelajaran. Selalu teringat jelas bagaimana orangtuaku marah padaku karena mendapat laporan bahwa aku sering ngobrol di kelas. Membuatku menarik diri dari pergaulan agar orangtuaku tidak mendapat malu akibat kata-kata guruku. Meskipun sama sekali aku tidak pernah melakukannya. Biarlah aku menjadi diam saja. Daripada dibilang banyak bicara. Memalukan.
” Jangan pernah tinggalkan shalat”, kata Pak Agus lantang. ” Apa kamu semua mau, kalau Pak Agus ditanya sama malaikat, karena ada muridnya yang tidak shalat?”, lanjut Pak Agus. ” Shalatlah. Jangan pernah ditinggalkan, jika kamu semua sayang dengan Pak Agus”.
Kalimat yang disampaikan Pak Agus terdengar sangat jelas. Beliau yang tidak pernah marah, masa sih harus masuk neraka karena kami, muridnya? Tentu saja aku tidak mau menjadi murid durhaka. Sejak saat itu aku selalu shalat, dan tidak pernah tinggalkan, meskipun masih sering telat dan menunda waktu shalat.
Berbeda dengan pak Agus, beda pula dengan Pak Ali. guruku yang satu ini pandai matematika. setiap mengajar selalu diberikan cara cepat dan trik-triknya. Masih teringat jelas, bagaimana pak Ali memberikan trik menghapal perkalian untuk bilangan tertentu. Misalnya cara menghitung perkalian 11. Cukup ditulis angka dan diberi tanda titik diantaranya. Tanda titik ini diisi dengan bilangan yang dihasilkan dari jumlah angka di kanan dan kirinya
Contoh perkalian 11 adalah 11 x 23 = 253. Hasil perkalian diperoleh dengan cara menuliskan 2.3 Tanda titik diisi dengan menjumlahkan angka 2 dan 3, sehingga diperoleh 5. Jadi hasilnya 253.
Ilmu ini kudapatkan dari Pak Ali, guru matematika yang badannya kurus dan berbadan tirus. Warna kulit yang kecoklatan dan sedikit tinggi sehingga menimbulkan kesan kurus. Meski demikian, guruku ini satu-satunya yang enak mengajar matematika sehingga semuanya berkesan mendalam.











