Meraih kemenangan Ramadhan

Terbaru617 Dilihat

Mendengar kata Ramadhan, sudah pasti mulai terbayang di benak kita santapan nikmat yang selalu disiapkan ibu menjelang berbuka. Perut berdentang memberikan iramanya ketika menyaksikan sajian berbuka di depan mata. Ingin segera berbuka setelah sehari penuh menahan lapar dan dahaga.

Begitulah yang kita rasakan setiap ramadhan ketika mulai belajar puasa. Ibu selalu membangunkan  kita untuk makan sahur bersama. Padahal kita masih kecil. Masih merasa belum kuat berpuasa. Kalau tidak kuat, puasa bedug saja. Begitu yang selalu ibu katakan ketika memaksa kita untuk berpuasa.

Puasa bedug menjadi latihan buat kita yang masih kecil. Puasa bedug adalah puasa setengah hari. Ibu selalu melatih anak anaknya berpuasa ketika usia masih kanak-kanak. Menahan lapar dan  dahaga sudah pasti terasa. Menunggu bedug tiba terasa sangat lama

“Bedugnya masih lama? Naila lapar” kataku pada ibu sambil memegang perut yang mengempis

” Sebentar lagi”, jawab ibu

Ah, ibu selalu menjawab sebentar lagi. Padahal jam masih menunjukkan pukul 10. Masih dua jam lagi menunggu adzan dhuhur tiba. Padahal perut sudah berdentang. Tenggorokan mulai kering. Ah, segarnya bila bisa minum es degan yang dijual di depan rumah.

Sambil menunggu adzan dhuhur, kupakai dengan main bekel bersama teman-teman. Selesai bekel main dakon. Begitu terus sampai tidak terasa masuk waktu dhuhur.

Ketika adzan dhuhur berkumandang duhai betapa senangnya. Saatnya kuberbuka, makan dan minum yang disediakan ibu tercinta. Kuberlari menuju rumah  melupakan rasa lapar dan dahaga menemui ibu meminta diambilkan makan dan minum. Dan ternyata, makanan dan minuman sudah disiapkan ibu di rumah. Ah, senangnya mendapat santapan lezat ketika berpuasa. Ibu selalu masak yang enak-enak ketika berpuasa. Ada kolak, ada jajanan, dan makanan yang enak-enak.

Usai bedug, kita harus puasa lagi. Menahan diri tidak makan dan minum hingga maghrib tiba. Dan tentu saja, pergi main menjadi pilihan utama untuk melupakan lapar dan dahaga.

Begitulah puasa kita di masa kecil. Mengungkapkan lapar dan dahaga ketika puasa tidak dilarang. Sedangkan kalau sudah dewasa, malu rasanya bilang lapar dan dahaga ketika berpuasa. Padahal perut dan kerongkongan sudah teriak minta jatahnya

Mengapa orang harus berpuasa? Ternyata puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Banyak manfaat yang kita dapat dengan berpuasa.

Tubuh kita adalah sistem. Sebuah sistem yang perlu diistirahatkan di suatu masa. Cara mengistirahatkan sistem tubuh adalah dengan berpuasa. Seperti sebuah mesin mobil yang perlu diistirahatkan agar tidak terlalu panas. Oli harus diganti dan dikeluarkan

Demikianlah tubuh kita. Dengan berpuasa, tubuh akan mengeluarkan racun yang masuk ke dalamnya. Itulah sebabnya mengapa tubuh teras lemas ketika berpuasa. Ini karena sistem tubuh melakukan detok, mengeluarkan racun yang terlanjur masuk. Dengan berpuasa tubuh terasa lemas sehingga diharapkan mengurangi dan meredam amarah yang sering meledak ketika tidak berpuasa. Ketika tubuh mulai lemas, mulailah mencari kekuatan dari sumber yang lainnya.

Membaca Al quran mampu memberi energi baru buat tubuh yang lemas ketika berpuasa. Semangat membara akan mendadak ada ketika mulai membuka al quran. Mengaji sebisa mungkin untuk mengurangi rasa lapar dan dahaga. Dengan mengaji, rasa lapar dan dahaga yang biasanya muncul ketika berpuasa akan sirna dan terlupakan. Itulah hebatnya puasa Ramadhan. Selain membersihkan tubuh dari racun, puasa Ramadhan juga mampu membersihkan dosa dosa yang pernah kita lakukan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah dalam surat Al Baqarah 183

Hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Dengan berpuasa diharapkan kita menjadi orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang  meninggalkan maksiat.

Puasa Ramadhan juga memberi berkah yang luar biasa. Ketika masih kecil saja, ibu sudah menghidangkan makanan yang lezat buat kita. Ibu adalah malaikat kita. Bagaimana kalau sudah dewasa, siapa yang akan menjadi malaikat kita?

Al quran adalah malaikat penyelemat kita. Luangkan waktu untuk membaca dan bukannya menunggu waktu luang. Selama ramdhan bisa kita buat target untuk membaca. Misalnya 2 lembar setelah selesai melaksanakan shalat. Rata-rata 1 jus terdiri dari 10 lembar. Jika sehari 10 lembar maka 30 hari mencapai 30 juz. Itu artinya 1 kali khatam. Dan mulailah merasakan dampak yang terjadi. Inilah yang kita katakan puasa membawa nikmat.

 

 

 

Tinggalkan Balasan