Puasa Bedug

Terbaru560 Dilihat

Pagi yang cerah. Burung  batu berkicau merdu di halaman  rumah. Suasana kabut di luar masih terasa bekasnya. Mengingatkan masa silam ketika emak menyuruh belajar puasa.

Hari masih pagi. Puasa pertama bagiku. Kala itu masih duduk di bangku kelas 2 SD. Senangnya libur sebulan penuh selama ramadhan. Aku dan bunda pergi berkunjung ke rumah nenek

Alam pedesaan yang sejuk dan segar. Suasana asri sangat terasa. Jalan di depan rumah masih berupa tanah lembut ( bahasa jawa: awu ). Sering kubuat jadi bahan mainan rumah-rumahan di kala senggang.

” Ke sawah yuk”, ajak temanku, Juminah

” Hayuk”, sahutku.

” Ikut?’, tanyaku pada Ida

” Iya lah”, sahut Ida

Kami bertiga melenggang ke sawah bersama. Suasana pedesaan yang masih alami. Udara segar sangat terasa. Angin semilir menambah sejuk suasana. Sepanjang perjalanan menuju sawah terlihat hamparan tanah lembut ( bahasa jawa: awu) terpampang di depan mata

Kami tiba di pinggir pematang. Melewati pematang sawah yang ada di dekat sungai. Disebelahnya ada tanaman mentimun. Sudah mulai berbuah dan besar-besar. Sepertinya akan segera panen.

” Disini saja,” kata Juminah

Kami bermain di air sungai yang banyak ikannya. Berusaha mengambil ikan dari sungai dengan tangan kosong. Namun seringkali lepas. Setiap dapat 1 lepas lagi. Selalu begitu. Hingga tidak ada 1 ekor ikan yang tertangkap. Padahal hari sudah beranjak siang. Rasa dahaga mulai terasa.

” Duh, panas sekali hari ini.” kataku pada Ida. Kulihat dia masih sibuk menangkap ikan. sambil main air tentunya

” Berteduh sebentar yuuk”, ajak Juminah.

Kami duduk di pematang pinggir sungai. Di seberang sungai ada tanaman tebu. Lumayan bisa digunakan untuk berteduh melepas lelah.

” eh, ada timun itu disana” kata Juminah

” diambil, yuk” ajak Ida

Bergegas mereka ambil 1 buah mentimun dan memakannya. Kelihatannya sangat segar. Aku menelan air liur memandang mereka

” Kamu tidak makan ? “, tanya Ida

Ingin sekali ikut makan mentimun bersama mereka. Baunya segar sangat terasa. Apalagi matahari mulai terik.  Ikut makan tidak ya, batinku. Tapi aku sedang puasa. Kata emak, kalau puasa tidak boleh makan dan minum. Meskipun tidak dilihat siapa-siapa.

” Noh, ” Ida melempar sebuah mentimun ke arahku. Huph, langsung kutangkap. Kutimang dan kupegang mentimun di tangan. Kucium baunya, segarrrr….. Mentimun masuk mulutku.

Pyarrr…..eits, seekor ikan meloncat-loncat didepanku. Mataku terpana memandang keelokannya. Mentimun terlepas dari tangan, saking kagetnya. Aku tidak jadi makan mentimun dan lebih tertarik dengan ikan yang melompat. Kukejar ikan, dan hup. Aku berhasil menangkap ikan itu.

Pulang ke rumah emak, membawa ikan di tangan. Sementara 2 temanku yang lain, membawa mentimun sekedarnya  untuk dibawa pulang.

” Kamu masih puasa, Wit? tanya emak

” Masih lah mak”, jawabku. Beruntungnya aku tidak jadi makan mentimun. Kalau tadi aku makan mentimun sudah pasti puasaku batal. Apa yang akan kukatakan pada emak, jika ditanya masih puasa apa enggak? Sudah pasti aku akan berbohong pada emak. ” Nih, mak. Aku dapat ikan” Aku menyerahkan ikan hasil tangkapan ke emak.

Sumringah dan senang terbias di wajah emak. Sambil bernyanyi kecil emak menimang-nimang ikan yang kudapat. Senangnya hatiku bisa membuat emak tersenyum.

” Ikannya digoreng ya. Buat makan nanti setelah dhuhur”, kata emak .

” Iya mak ”

Ikan segera dibawa ke dapur dan dibersihkan emak. Persiapan buka puasa bedug. Sebentar lagi aku berbuka. Sungguh terasa sangat lama. Kerongkongan mulai tercekat karena haus dan panas yang masih terasa. Perut mulai berdendng pertanda minta jatah.

Aku berlalu meninggalkan emak di dapur menuju mainanku. Main bekel ah. Lumayan bisa buat penghilag lapar dan dahaga. Aku main bekel sendiri

Bau harum ikan sangat menggoda. Adzan dhuhur masih 1 jam lagi.

“Wah, pasti enak nih.” Pikiranku mulai tidak konsen main bekel. Berkali-kali bola yang kulempar jatuh menggelinding.

” Mak, bedugnya masih lama kah ? Apa sudah boleh makan ?”, tanyaku sedikit teriak karena emak jauh di dapur sedangkan aku di teras rumah

” Bentar lagi”, jawab emak

Ah, emak selalu begitu. Setiap kutanya kapan bisa makan, selalu dijawab bentar lagi. Padahal masih lama.

Puasa ramadhan yang pertama buatku. Masih sering kucing-kucingan dengan emak. Masih sering ingin makan dan minum di tengah-tengah puasa. Perut sering berdendang pertanda minta makan. Namun aku berusaha tetap tidak makan meski kadang terasa sangat lapar. Demi emak, kucoba bertahan tidak makan dan minum. Aku sering menelan ludah jika haus sangat terasa. Semuanya demi emak. Mengapa? Karena kalau puasa , emak selalu menyiapkan makanan dan minuman yang enak-enak dan banyak ketika berbuka. Ah, senangnya puasa ramadhan dengan emak

 

 

 

Tinggalkan Balasan