Tidak bisa menulis? Yuk, mulai menulis di YPTD

Terbaru1027 Dilihat

Sungguh bahagia tak terkira, ketika mendengar kabar, tulisan yang berupa artikel dimuat di majalah pendidikan. Meski belum membaca tulisan sendiri, dan hanya mendengar dari orang lain, namun kebahagian sudah pasti muncul. Syukur alhamdulillah, ternyata berhasil tembus juga di majalah offline.
Mendapat ucapan selamat dari seorang guru Bahasa Indonesia, menjadi hal yang luar biasa. Merasa tersanjung, sudah pasti. Apalagi yang mengucapkan adalah guru Bahasa Indonesia.
Namun gelisah sedikit menyeruak di dada, ketika guru tersebut sempat melontarkan kata-kata, saya tidak bisa menulis.
Suara tercekat berhenti di tenggorokan, pikiran melayang di awang menerawang jauh, tak tahu apa yang harus diucapkan. Ingin memberi motivasi, takut dibilang minteri ( merasa pandai )
Apalagi yang mengatakan seorang guru senior. Sudah pasti rasa sungkan muncul mengalahkan rasa yang lainnya. Hingga terbersit di dalam hati, ah mungkin hanya merendah saja. Sangat sesuai dengan perilaku yang halus dan tutur kata yang lembut. Sangat pas, dibalut dengan wajah yang ayu.

Pandainya merangkai kata yang tertuang di setiap chatingan di grup wa menjadi tidak kelihatan jika tidak ada kemauan. Ah, iya. Mungkin yang dimaksudkan bukan tidak bisa menulis tapi tidak mau mencoba menulis. Meski dalam kesehariannya pandai merangkai kata menjadi sebuah kalimat yang dipaparkan di setiap chatingan.
Menulis di status whatsapp, menulis di chatingan grup whatsapp sudah menjadi bekal untuk menulis. Merangkai kata menjadi kalimat, merangkai kalimat menjadi paragraf, merangkai paragraf menjadi paparan. Sungguh, ini hanya menunggu kemauan. Ada kemauan, harus diikuti dengan tindakan. Apa tindakan yang perlu dilakukan? Seperti yang om Jay katakan, menulislah setiap hari, dan rasakan apa yang terjadi.
Mau tahu apa yang terjadi? Jika setiap hari kita menulis, lalu tulisan itu dikumpulkan, maka jadilah sebuah buku. Tidak usah banyak, cukup 300 kata atau kurang lebih 3 lembar setiap hari.

Seorang guru, apalagi guru Bahasa Indonesia, jika mengatakan tidak bisa menulis tentulah hanya untuk merendahkan diri supaya tidak menimbulkan kesan sombong. Etka dalam pergaulan, dan empati di media sosial. Pandainya merangkai kata di sebuah media sosial, sesungguhnya menjadi dasar buat kita untuk mulai melangkah di dunia kepenulisan. Guru Bahasa Indonesia, sudah pasti dapat materi pelajaran membaca dan menulis. Dan bahkan mengajarkan kepada siswa-siswinya. Tidak seperti saya, berani merangkai kata menjadi kalimat, atas dorongan dan bisikan om Jay di grup belajar menulis. Meskipun saya berlatar belakang sains dan pernah menulis, namun saya tidak pernah berani menerbitkan baik di online melalui blogspot ataupun menerbitkan di YPTD, yang sudah pasti memiliki banyak pembaca. Mengapa?
Pengalaman memiliki blog yang sudah bertahun-tahun saya buat, saya isi dengan konten pendidikan, paling banter yang baca 5 orang. Sedangkan kalau saya kirim ke YPTD, banyak yang baca. Bukan karena tulisannya yang kurang bagus ( hehehe ke-pede-an) tapi memang yptd sudah memiliki branded dan memiliki konsumen yang gemar membaca. Nah…
Biasanya, seorang akan berhenti penulis ketika merasa tulisannya tidak dibaca orang. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri ini, mulailah menulis di YPTD. Mulailah membuat buku antologi, yakni buku yang dibuat bersama-sama dalam satu komunitas dengan 1 tema yang telah disepakati. Menulis di YPTD, sudah pasti dimuat. YPTD tidak bertanggung jawab terhadap konten. Isi dari tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Demikian juga membuat buku antologi. Sudah pasti dimuat. Ketika sudah mantap bergabung dalam grup membuat buku antologi, anda tidak usah kuatir bakal tidak dimuat. Sudah pasti dimuat. Sudah pasti terbit. Sebelum buku diterbitkan, ada seorang yang ditunjuk menjadi kurator dan juga ada yang ditunjuk menjadi editor. Nah, tunggu apalagi…

Seorang guru bahasa indonesia, sudah pasti bisa menulis. Tinggal menumbuhkan kemauan dan mulai menuangkan dalam sebuah karya. Yang terpenting dipikirkan sebelum mulai menulis adalah ketika ada masalah disekitar anda, lanjutkan dengan evaluasi, hingga menemukan sebuah solusi.
Tiga langkah itulah, yang patut dipahami sebelum menulis sebuah artikel atau cerpen. Ada masalah, dievaluasi, diberi solusi. Salah satu Yang membedakan artikel dengan cerpen adalah gaya kepenulisan. Tentu masih banyak perbedaan antara artikel dan cerpen yang dapat diperoleh di google.
Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

News Feed