
“Alvi apa yang kamu lakukan?!”
Alvi terkejut mendengar suara itu. Dia mengenali suara itu. Itu adalah suara ayahnya.
Alvi bergegas mengemasi majalah. Dia takut kena marah. Penyebabnya dia tidak minta izin lebih dulu.
“Maafkan Alvi, Ayah,” kata Alvi sambil merapikan majalah.
Alvi melihat ayahnya mendekatinya. Dalam hatinya merasa tidak tenang. Dia pun terburu-buru.
Satu majalah jatuh. Majalah itu dalam keadaan terbuka. Alvi segera mengambilnya.
Ayah Alvi mencegahnya. Alvi melihat ayahnya memungut majalah itu. Dia mengajak Alvi berdiri.
“Kamu cari gambar apa, Alvi?” tanya ayahnya sambil mengajak Alvi duduk.
Sambil menunduk Alvi menjawab, “Cari gambar rumah adat, Ayah.”
Alvi mengangkat kepala. Dia melihat ayahnya tersenyum. Dia pun membalasnya.
“Untuk apa gambar itu?” tanya ayah kemudian.
Alvi menjawab kalau dia ingin membuat kliping. Dia mendapat tugas dari sekolah. Gurunya membebaskan gambar apa saja boleh.
Ayahnya kembali bertanya, “Kalau boleh Ayah tahu, kenapa kamu memilih rumah adat?”
Alvi terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia merasa tidak punya alasan. Dia melakukan karena memang menyukainya.
“Ayah tidak marah?” tanya Alvi sambil mengambil majalah di atas meja.
Ayahnya menggelengkan kepala. Alvi yang melihatnya tersenyum juga. Keduanya kemudian menuju rak majalah bekas.
Alvi membongkar kembali majalah itu. Dia telah menemukan banyak gambar. Ditunjukkannya gambar itu pada ayahnya.
“Alvi tahu itu rumah adat mana?” tanya ayah sambil menunjuk gambar.
Alvi memperhatikan gambar rumah itu. Atapnya seperti tanduk. Dia menggelengkan kepala.
Ayahnya berusaha membantu menjelaskannya. Perlahan tetapi pasti Alvi pun memahami. Dia semakin tahu ciri-ciri rumah itu.
Ayahnya melanjutkan penjelasan, “Ini adalah rumah adat Minangkabau. Alvi tahu tidak namanya apa?”
Alvi mengangkat kepalanya sambil berkata, “Hmm… Apa, ya?”
Ayahnya kembali tersenyum. Dia meminta Alvi membaca keterangan di majalah. Dengan teliti Alvi pun melakukannya.
Tiba-tiba dia berteriak. Dia telah menemukan jawabannya.
“Rumah Gadang, Ayah!”
Ayahnya tertawa melihat Alvi kegirangan. Setelah itu ayahnya menemukan gambar lagi. Dia menunjukkan kepada Alvi kemudian bertanya.
“Kalau yang ini?”
Alvi menjawab dengan tepat. Gambar yang ditunjukkan ayahnya adalah rumah Joglo. Itu adalah rumah adat Jawa Tengah.
Alvi dan ayahnya kembali membongkar majalah. Alvi menemukan gambar lain lagi. Gambar rumah dengan atap bulat.
Alvi bertanya, “Rumah apa namanya ini, Ayah?”
Ayahnya menjelaskan kepada Alvi. Gambar itu adalah rumah Honai. Rumah Honai adalah rumah adat Papua.
Lebih lanjut ayahnya menjelaskan. Atap Honai terbuat dari kayu. Atapnya dibuat dari jerami.
Selanjutnya Alvi mencari di rak lain. Di sana dia menemukan satu gambar lagi. Rumah itu berbentuk seperti lumbung padi.
“Ayah… Kalau yang ini Alvi tahu,” kata Alvi menunjukkan gambar kepada ayahnya.
Ayahnya mendekat dan bertanya, “Apa coba namanya?”
Alvi menjelaskan, “He he he. Ini, kan, rumah adat kita, Ayah. Rumah adat masyarakat Lombok.”
“Seratus buat kamu! Kalau tahu, apa coba namanya?” tanya ayahnya.
Alvi dengan sigap menjawab, “Tahu, dong, Ayah! Ini adalah rumah lumbung. Rumah adat suku Sasak di Lombok. Betul, kan, Ayah?”
Ayahnya menganggukkan kepala. Setelah itu, Alvi pun mulai menggunting. Dia menggunting dengan hati-hati.
Tanpa terasa Alvi telah selesai menggunting. Setelah itu dia mulai menghitungnya. Dia menemukan sepuluh rumah adat.
Dia menunjukkan kepada ayahnya. Ada rasa bangga dalam dirinya. Dengan cekatan dia mulai menyiapkan alat dan bahan lainnya.
Alvi ke kamar mencari perlengkapan. Dia kembali membawa kertas, lem, dan pensil warna. Setelah itu dia mulai bekerja.
“Lihat, Ayah! Aku sudah menyelesaikannya!” Alvi berteriak kegirangan.
Ayahnya bertanya kepada Alvi, “Jadi, apa judulnya kliping ini?”
Alvi mengerutkan kening. Dia masih memikirkan judul. Cukup lama dia berpikir.
Akhirnya, dia menemukan jawaban juga. Dia memutuskan memilih judul Indonesiaku. Ayahnya juga setuju dengannya.
Ayahnya menambahkan kata kaya di belakangnya. Jadilah kliping Alvi dengan judulnya. Alvi pun menuliskannya.
Indonesiaku Kaya
Sudomo, S.Pt.
(Email: sudomo.spt@gmail.com)











