“Kapan saya bisa sekolah, Pak?” Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu bertanya pada Ahmad dengan tatapan polos.
“Sabar ya, Dit. Bapak belum punya cukup uang untuk menyekolahkan kamu,” jawab Ahmad dengan sabar sambil mengelus kepala anaknya.
Keduanya mendadak terdiam di pagi buta itu saat Ahmad hendak pergi memanen kangkungnya. Di dalam gubuk reot itu, dua orang laki-laki beda usia sedang berdebat tentang sekolah. Ahmad memilih mendengarkan keinginan anaknya. Dia merasa sedih, karena selama ini tidak bisa menuruti kemauan anaknya. Jangankan sekolah, sekadar mainan plastik saja Ahmad tidak mampu membelikannya.
Kehidupannya sebagai petani kangkung dengan penghasilan yang pas-pasan hanya cukup untuk makan mereka berdua sehari-hari. Sekolah anaknya merupakan satu-satunya hal yang tidak pernah terlintas di pikiran Ahmad. Dia hanya berpikir bagaimana caranya bisa hidup.
“Tapi, Pak. Saya pengin sekolah kayak temen-temen itu.” Anak laki-laki itu, Aditya, kembali merengek.
“Kamu pasti sekolah, Dit. Tapi enggak sekarang,” jawab Ahmad masih dengan sabar.
Ini memang bukan pertama kalinya Aditya merengek minta disekolahkan. Hampir setiap hari Aditya melakukannya. Kadang dengan cara konyol sampai tidak mau makan. Beruntung Ahmad adalah sosok seorang ayah yang sabar. Dia sangat menyayangi Aditya, sampai-sampai dia tidak rela Aditya dibawa istrinya bersama suami barunya. Padahal sebenarnya Aditya bisa bahagia apabila hidup bersama ibunya. Setidaknya saat ini dia bisa mengenyam pendidikan. Tapi bukan itu masalahnya, Aditya memilih tinggal dalam kesederhanaan bersama Ahmad, ayahnya.
Sudah beberapa hari ini, tidak ada hujan dan air sungai tidak banjir. Itu artinya Ahmad akan berhasil memanen tanaman kangkungnya. Pagi ini dia kembali bertekad untuk menjual kangkung hasil panennya dan menunaikan janjinya pada Aditya.
“Bukankah janji itu hutang, Pak?” Suara Aditya memecah kebisuan di dalam gubuk yang hanya dilengkapi oleh tikar dan kasur yang sudah tidak lagi empuk.
Ahmad diam berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Aditya. Matanya tertuju pada perabot di dalam rumah. Sudah tidak ada apa-apa lagi. Jangankan perangkat elektronik, sekadar meja dan kursi saja sudah ludes dijual.
Dalam hati Ahmad menangis. Dia sudah tidak punya alasan lain lagi untuk menghindar dari pertanyaan Aditya. Sambil bersandar pada dinding kayu, Ahmad meraih tubuh Aditya dan membenamkannya dalam pelukan hangat.
“Iya, Dit. Bapak tau itu. Dan, Bapak akan melunasinya,” jawab Ahmad.
Keheningan kembali menghampiri ruangan kecil itu yang agak lembab itu. Meskipun gubuk itu berada di bagian yang lebih tinggi dari sungai, tapi saat musim hujan seperti ini selalu saja lembab. Meskipun begitu gubuk itu tetap nyaman sebagai tempat tinggal bagi penghuninya, termasuk tikus rumah yang banyak berkeliaran di atap.
Matahari pagi mulai bersinar cerah saat Ahmad melepaskan pelukannya pada tubuh Aditya yang tertidur. Dengan hati-hati, Ahmad memindahkan kepala Aditya ke atas bantal tanpa sarung itu.
‘Bapak janji akan mengirimmu ke sekolah terbaik hari ini, Nak. Satu-satunya sekolah yang akan membuatmu bahagia.’
Perlahan dia bangkit mengambil perlengkapan untuk memanen kangkung. Tak lama dia pun menyelesaikan pekerjaannya dan mengangkat dua karung besar ke arah pinggir jalan. Sebelum menaikkan ke atas cidomo, Ahmad memutuskan untuk menengok kondisi rumah. Ahmad ingin memastikan tidak ada tikus mengganggu tidur Aditya seperti biasanya. Dengan senyum kebahagiaan, Ahmad menutup pintu rumah dan berangkat ke pasar. Tekad kuatnya untuk membahagiakan Aditya membuat hati Ahmad berbunga-bunga.
Sesampai di pasar Kebon Roek, pasar tradisional terbesar di kota Mataram, Ahmad menurunkan kangkungnya. Dengan cekatan dia mulai mengangkat karung itu dan mengantarkannya ke pelanggan. Begitu menerima uang pembayaran, Ahmad lalu bergegas masuk ke dalam areal pasar menuju los pakaian.
Sebentar-sebentar tangannya memegang baju dan celana untuk meyakinkan bahwa ukurannya pas. Setelah proses tawar-menawar, tercapailah kesepakatan harga.
“Terima kasih, Bu,” kata Ahmad sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.
Dengan sisa uang yang masih ada, Ahmad membeli beberapa keperluan rumah tangga yang mulai habis, seperti sabun mandi, pasta gigi, dan racun tikus. Dan dengan senang hati Ahmad bergegas pulang setelah membeli dua buah nasi bungkus.
Tak sampai lima belas menit, Ahmad tiba di depan rumahnya. Ahmad ingin segera menyampaikan kabar gembira kepada Aditya. Dibukanya pintu rumah dan betapa terkejutnya saat dia melihat ruangan itu kosong. Aditya tidak ada di sana. Ahmad kebingungan.
Sampai akhirnya … .
Ahmad membuka mata saat dia merasakan ada yang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Sepasang tangan mungil itu adalah tangan Aditya yang memutuskan pulang setelah mendapat kabar ayahnya pingsan.
“Dit… Kamu udah pulang?” tanya Ahmad menatap Aditya yang sedang menangis di sampingnya.
Dilihatnya sekeliling, beberapa orang sedang berkumpul. Keadaan Ahmad sudah membaik saat salah satunya angkat bicara.
“Kami pulang dulu ya, Pak. Semoga lekas sembuh,” katanya sopan.
“Terima kasih, Pak Dollah,” jawab Ahmad.
“Sama-sama, Pak. Permisi.”
Orang-orang itu pun membubarkan diri meninggalkan rumah Ahmad. Sementara Aditya belum juga berhenti menangis. Dia berusaha membuat ayahnya segera sehat kembali dengan membantu ayahnya untuk minum air putih.
Ahmad sudah pulih kesadarannya dan sehat seperti sebelumnya. Napasnya sudah teratur dan pandangan matanya sudah kembali jernih. Ditatapnya Aditya yang masih menangis di sampingnya. Mendadak Ahmad berada dalam dilema. Di satu sisi dia ingin melihat Aditya selalu bahagia dengan dunianya, tapi di sisi lain dia merasa terlalu lemah untuk bisa memberikan sedikit kebahagiaan untuk Aditya. Sebagai seorang ayah, dia merasa gagal.
Ahmad bangun dan mengambil bungkusan yang dibelinya dari pasar. Dia ingin memberikan Aditya sebuah hadiah yang pasti akan membuatnya bahagia.
“Ini… Pakailah, Dit! Kamu pasti akan terlihat semakin gagah dengan baju ini,” kata Ahmad tersenyum menyodorkan baju itu kepada Aditya.
“Terima kasih, Pak. Apakah ini tandanya saya udah bisa sekolah?” Adit bertanya dengan polos.
“Pasti. Kamu akan Bapak sekolahkan di sebuah sekolah yang akan mengajari kamu tentang kebaikan hidup,” jawab Ahmad dengan bijaksana atas pertanyaan Aditya.
Aditya bergegas masuk ke sebuah bilik yang tertutup gorden berwarna kusam. Di sana dia segera mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian, dia sudah keluar dan sambil tersenyum bahagia memperlihatkan baju barunya pada ayahnya.
“Saya keren kan, Pak, pakai baju seragam ini?”
Ahmad tak henti-hentinya menatap anaknya yang mengenakan seragam merah putih itu. Anak yang gagah dan cerdas. Dia lalu mengangguk.
“Tunggu sebentar di sini ya. Kamu pasti laper, kan? Bapak punya kejutan lagi untukmu,” kata Ahmad sambil ke belakang mencari nasi bungkus yang sudah dibelinya tadi.
Ahmad sibuk mempersiapkan makan siang istimewa bersama anaknya. Mungkin makan siang paling istimewa yang pernah dialaminya selama ini. Aditya tidak sabar menunggu kejutan berikutnya dari ayahnya. Dia tersenyum-senyum sendiri sambil duduk bersila. Akhirnya, Ahmad muncul juga membawa dua buah piring berisi nasi bungkus dengan menu istimewa, menu kesukaan Aditya.
Aditya melonjak gembira saat dilihatnya ada ikan tongkol dalam potongan besar berbumbu rendang terhidang di depannya. Kebahagiaan nyata tergambar dari raut wajahnya. Ahmad ikut tersenyum kegirangan menatap kelakuan Aditya.
“Makanlah, Dit! Kamu harus kenyang sebelum berangkat sekolah,” kata Ahmad sambil menyiapkan dua gelas air putih yang tak lagi jernih.
Aditya makan dengan lahap. Pun dengan Ahmad. Sepertinya makan siang kali ini telah mengubur semua kesedihan hidup yang telah dilaluinya. Yang ada hanya kebahagiaan. Kebahagiaan yang sudah lama tidak mereka rasakan.
‘Habiskan, Nak! Di sekolah barumu mungkin kamu tidak akan bisa menemui makanan seperti in lagii.’
Selang lima belas menit kemudian, mereka telah selesai makan. Senyum kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Aditya tampak puas sampai akhirnya tertidur pulas seketika itu juga. Sementara Ahmad masih sanggup untuk berdiri dan mempersiapkan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
Ahmad tersenyum puas karena telah memberikan jalan kebahagiaan kepada anaknya… dan dirinya sendiri.
‘Maafkan Ayah, Nak.’
Tubuh Ahmad sempoyongan. Dia merasakan sedikit pusing.
Ruangan itu kini mendadak sepi. Tidak ada lagi yang tersisa. Ahmad terpekur sendirian setelah menghilangkan jejak bungkus racun tikus sebagai barang bukti.
Perlahan, tubuh Ahmad bergetar hebat. Sepertinya zat-zat yang masuk ke saluran pencernaannya mulai meningkatkan reaksinya. Ahmad mendekap erat-erat tubuhnya berusaha menenangkan diri. Usahanya sia-sia saja. Tubuhnya goyah.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Ahmad berusaha merangkak dan melongok ke dalam rumah untuk memastikan bahwa Aditya sudah tidur dengan tenang dalam pakaian sekolahnya di rumah barunya.
‘Biar malaikat yang menjagamu, Nak.’
Gerimis memecah mendung kelabu langit sore Mataram. Bantaran sungai Jangkuk sudah sepi. Tak lagi terlihat orang-orang yang tadi sibuk memanen kangkung. Sungai masih mengalir bersama riak-riak kecil karena rintik yang mulai turun. Ahmad tak memedulikan gerimis yang semakin lama semakin besar. Dia juga tidak memedulikan keadaan dirinya.
Saat ini tinggallah dia sendiri. Terdiam. Dalam hati dia merasa bahagia karena akhirnya bisa membuat anak laki-lakinya bahagia. Dia telah berhasil mewujudkan mimpi-mimpi anaknya untuk bisa bersekolah. Iya… Dia berhasil menyekolahkan anak laki-lakinya di sekolah yang tidak biasa. Sekolah yang hanya dihuni oleh malaikat-malaikat pembawa kebahagiaan.
‘Sebentar lagi, aku akan memastikan anakku bahagia di sekolahnya.’
Ahmad beranjak dari tempat duduknya. Dengan susah payah dia berusaha bangun. Butuh waktu cukup lama untuk membuatnya bisa berdiri tegak. Hujan besar mengguyur tubuhnya, mengiringi kepergiannya menyusuri jalan kecil beraspal di belakang rumahnya. Belum satu meter Ahmad menyusuri jalan itu, tubuhnya ambruk. Racun tikus telah bekerja tepat pada waktunya. Aditya telah menunggu kedatangannya di sekolah barunya, surga.









