Gadis Pemerah Susu(13)

Terbaru411 Dilihat

Gadis Pemerah Susu
SUHARTO MTSN 5 JAKARTA



Pada zaman Khalifah Umar bin Khatab ada seorang anak gadis dan ibu kandungnya tinggal di sebuah desa jauh dari pusat kekhalifahan. Beliau hidup sederhana penghasilan harian hanya dari hasil memerah susu. Hampir setiap hari beliau memerah susu. Suatu hari hasil dari memerah susu tidak begitu banyak tentunya berdampak pada pendapatan hingga ibunya berinisiatif untuk mencampurkan susu hasil perahanya dengan air agar terlihat banyak, dengan demikian pendapatan tetap tidak berkurang.

“Nak, hari ini hasil perahan kita sedikit,” ucap ibu gadis.
“Ya, syukuri saja ibu, mudah-mudahan besok Tuhan berikan yang banyak,” jawab gadis.
“Nak, bagaimana kalau kita campur dengan air agar terlihat banyak,” ucap ibu gadis.
“Khalifah Umar bin Khatab melarang mencampur susu dengan air,” timpal gadis.
“Khalifah itu jauh dari sini tidak mungkin beliau sampai ke desa kita,” ucap ibu gadis.
“Jangan ibu khalifah Umar melarang,” pinta gadis.
“Sudahlah nak, Umar tidak akan tahu,” ucap ibu gadis.
“Ibu, memang khalifah jauh dari sini dan tidak mengetahui apa kita lakukan, tetapi Tuhannya Umar mengetahuinya. Jangan ibu itu pada hakekatnya Tuhan yang melarang lewat perantara khalifah Umar bin Khattab,” timpal gadis mempertegas.


Akhirnya, ibu gadis tidak mencampurkan susu dengan air.
Tanpa sepengetahuan beliau khalifah Umar bin Khattab sedang menguping atau mendengarkan percakapan beliau di balik bilik rumah si gadis tersebut. Setelah mendengar percakapan ibu dan gadis pemerah Susu khalifah berkata kepada pengawalnya.


“Tolong cari informasi tentang beliau berdua dan undang ke rumahku” titah Umar.

Ibu dan gadis tersebut keesokan harinya diundang menghadap Khalifah. Ibu dan gadis memenuhi undangan khalifah. Sesampainya di sana gadis tersebut dijodohkan dengan putra khalifah yang bernama Ashim.

Beliaupun hidup bahagia dan mempunyai keturunan yang baik. Dari orang tua yang baik melahirkan anak yang baik pula. Dari keturunan beliau lahirlah anak yang Sholeh, yaitu khalifah Umar bin Abdul Aziz.


Kisah di atas tentang mempertahankan sebuah kejujuran meninggalkan suatu yang dilarang walau dalam kondisi serba tidak berkecukupan bisa kita jadikan pembelajaran untuk menata kehidupan ini.


Hidup ini tidak selamanya indah, bahagia, dan sejahtera. Hidup ini tidak selamanya lurus banyak lika-likunya terkadang turun ke lembah, mendaki ke bukit, dan tenggelam di lautan. Banyak halang rintang yang kita jumpai, tetapi kita tidak boleh putus harapan karena semuanya hanya sementara. Jika kita mampu melewati semuanya maka hidup kita akan indah pada saatnya.


Hidup ini adalah ujian, setiap kita akan berhadapan dengannya. Ujian bukan untuk merendahkan tetapi untuk meningkatkan kualitas hidup, tentunya jika kita lulus dari ujian tersebut.


Ujian itu bukan hanya hal-hal yang tidak kita senangi, kesenangan hidup juga sebuah ujian hidup, ujian itu beraneka ragam. Kemiskinan itu ujian begitu juga kekayaan juga ujian. Tidak cantik itu ujian begitu juga kecantikan juga ujian. Kedudukan, kekayaan, dan tubuh yang kita miliki semua merupakan ujian.


Firman Allah SWT.
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ


Artinya:”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” QS.al-Baqarah:155.


Ingat Tuhan tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuan, semua tergantung kadar keimanannya.


Firman Allah SWT.


لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعلَهَا


Artinya: “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.S. Al-Baqarah: 286)


Tetapi jangan berkecil hati ujian hanya sementara. Maka itu, nikmati saja dan bersabar badai pasti berlalu.


Firman Allah SWT.


فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya:“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)


Demikian, hidup ini adalah ujian dan pada dasarnya ujian itu ada untuk meningkatkan kualitas hidup. Siapa yang lulus dari ujian Allah SWT dia akan mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak. Belajarlah dari gadis Pemerah Susu, kejujurannya menghantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, darinya lahir keturunan yang berbudi luhur, yaitu khalifah Umar bin Abdul Aziz.
G

Tinggalkan Balasan