Si Buta dan Gajah (15)

Terbaru628 Dilihat

Si Buta dan Gajah

SUHARTO MTS N 5 JAKARTA



Ada lima orang buta dan seekor gajah. Masing-masing orang buta tersebut di bawa mendekati gajah kemudian diperintahkan untuk memegang gajah. Masing-masing mereka memegang gajah pada bagian yang berbeda. Orang pertama memegang bagian belalai, orang kedua memegang bagian kuping, orang ketiga memegang bagian tubuh, orang keempat bagian kaki, dan orang kelima bagian ekor.


Setelah mereka selesai memegang, mereka dikumpulkan kembali. Dipanggillah mereka satu persatu untuk menjelaskan tentang gambaran gajah. Dipanggillah orang pertama


“Apakah yang kamu ketahui tentang gajah?” Tanya penguji.
“Gajah itu panjang dan bolong,” jawab orang pertama.
Berikutnya orang kedua.
“Apakah yang kamu ketahui tentang gajah?” Tanya penguji.
“Gajah itu lebar seperti tampah,” jawab orang kedua.
Berikutnya orang ketiga.
“Apakah yang kamu ketahui tentang gajah? Tanya penguji.
“Gajah itu besar dan besar,” jawab orang ketiga.
Berikutnya orang keempat.
“Apakah yang kamu ketahui tentang gajah? Tanya penguji.
“Gajah itu seperti tiang yang besar dan kuat,” Jawab orang keempat.
Kemudian orang kelima. Dengan pertanyaan yang sama maka orang kelima menjawab.
“Gajah itu panjang dan semakin mengecil jika dipegang sampai akhir.

Itulah pendapat lima orang buta yang kesemuanya mempunyai persepsi jawaban yang berbeda pada obyek yang sama.


Dari kisah di atas tentang persepsi yang berbeda dalam memaknai satu objek yang sama bisa kita jadikan pembelajaran dalam menyikapi hidup.
Sering kita dapati dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan beragama kita berbeda dalam persepsi pada masalah yang sama. Kenapa hal itu terjadi? Tentunya perbedaan-perbedaan itu terjadi karena latar belakang yang berbeda di antaranya: wawasan keilmuan yang dimiliki, profesi, budaya dan lainnya.


Apakah yang dilakukan oleh kelima orang buta itu salah? Nanti dahulu kita jangan dengan mudahnya menjatuhkan kesalahan kepada seseorang sebelum kita memahami secara dalam yang melatarbelakangi perbedaan tersebut.


Mereka tidak ada yang salah mereka betul semua, kenapa mereka dibenarkan? Ya, karena itulah yang mereka tahu tentang gajah tersebut. Maka itu, kita harus sikapi dengan bijak jangan melihat sesuatu secara parsial maka akan berbeda.


Coba kita lihat secara komprehensif atau menyeluruh kemudian tarik satu kesimpulan maka dari yang berbeda membentuk sebuah pengetahuan yang utuh.


Nah, itulah hidup jangan dengan mudahnya kita menyalahkan orang lain sebelum kita mengetahui dan memahami permasalahan yang terjadi. Pandangan mata sering kali menipu hingga kita tidak berdaya dibuatnya.
Jika kita melihat kebenaran secara parsial maka persepsi kebenaran berbeda-beda. Jika kebenaran dipandang dari sisi kuat maka yang kuatlah yang benar. Jika kebenaran dipandang dari sisi jabatan, maka yang jabatan tinggilah yang paling benar. Maka itu, lihatlah secara komprehensif dan utuh hingga kita menemukan kebenaran yang hakiki.

Demikian, jangan sekali-kali menghukumi sesuatu dari sudut pandang kita saja, karena belum tentu benar adanya, maka itu kita butuh orang lain untuk menilainya hingga kita bisa mengetahui informasi yang koprehensif atau utuh.




Tinggalkan Balasan