BOGOR — Kabut tebal merayap pelan menutupi lekuk-lekuk jalur Puncak, melilit pepohonan teh seperti kain kasa tipis yang membalut luka lanskap malam. Di tengah deru mesin yang memecah keheningan pagi dan dingin yang menggigit hingga ke tulang, berdiri seorang pria dengan kamera menggantung di dadanya.

Dok. pribadi
Namanya Ismat. Bagi sebagian orang, hidup adalah urusan angka dan hitungan matematis yang kaku. Namun bagi Ismat, kamera di genggamannya bukan sekadar alat pencetak lembaran rupiah, melainkan jendela tempat ia mengeja keabadian singkat dari wajah-wajah asing yang melintas.
Seni Mengejar Detik di Pinggir Jalan
Di saat para fotografer lanskap jalanan di kawasan Puncak menetapkan tarif pasti Rp5.000 untuk setiap helai kenangan yang terekam dalam foto, Ismat justru memilih jalan berbeda. Ia merawat keikhlasan. Tak ada angka mutlak yang ia bisikkan saat seseorang menyodorkan imbalan.

Dok. pribadi
”Sebab kenangan, sebagaimana cinta dan napas, tak pernah benar-benar bisa diukur dengan kepingan mata uang,” ujar Ismat pelan di sela helaan napasnya yang mengembun.
Setiap akhir pekan, pria yang sehari-hari bergelut dengan rutinitas kerja di Kota Bogor ini menjelma menjadi pemburu bayangan. Hobinya menangkap sudut visual menemukan ruang bernapas di aspal tanah Puncak yang berselimut dingin.
Langkah kakinya paling sering tertambat di sekitaran Masjid At-Ta’awun. Di sana, ia memanfaatkan celah dan belokan jalan untuk mengambil sudut gambar terbaik memotong sudut visual di antara lalu lalang kendaraan yang membelah bukit.
Berkah Awal Bulan dan Deru Sunmori
Prosesnya terbilang sederhana, namun sarat dengan kehangatan interaksi manusiawi. Pelanggan yang terpikat cukup menghampirinya di pinggir jalan. Tanpa negosiasi yang alot, Ismat membidikkan lensanya, mengabadikan tawa atau pose gagah di atas kendaraan. Hasil kurasi visual itu nantinya dikirimkan langsung melalui pintu digital: WhatsApp atau Instagram.

Dok. ig Zul.potreit
Meski mematok harga seikhlasnya, rezeki kerap mengalir deras dari jemari yang dermawan. Puncaknya terjadi ketika kalender menyentuh masa-masa awal bulan saat dompet-dompet para pelancong baru saja terisi usai gajian.
Kelompok pengendara motor yang melakukan Sunday Morning Ride (Sunmori) hingga keluarga yang sedang berwisata menjadi penyumbang terbesar bagi kantongnya. Dalam satu hari di akhir pekan, lembaran uang seikhlasnya itu bisa terkumpul hingga bernilai Rp500.000.
Bagi Ismat, akhir pekan di Puncak bukan sekadar cara mencari tambahan penghasilan di luar jam kerjanya di Bogor. Ini adalah perayaan kecil atas hobinya. Di antara lalu lintas yang riuh dan bentang alam yang tenang, Ismat terus berdiri menandai waktu, memotret kebahagiaan orang lain, sembari membawa pulang berkah bagi hidupnya sendiri.







