Munculnya statemen aneh dari seorang intelektual yang menyebutkan kata “insyaallah”, “barakallah”, “syiar”, “qadarullah”, sebagai ‘kata-kata langit’, bukanlah hal spele. Hal itu sesuai pemahaman mereka yang dipengaruhi oleh pandangan yang tak tepat, dimana sikap islamofobia akut telah menghinggapi kalangan intelektual. Semua tak bisa dilepaskan dari proses sekularisasi yang mereka jalani selama menempuh ilmu dalam kurikulum pendidikan yang berbasis sekuler.
Buah Kurikulum Sekuler
Pernyataan tersebut juga merupakan buah dari pemahaman yang terbentuk pada diri intelek. Cara berpikir kapitalistik telah menjadi kebiasaan mereka, selama berinteraksi dengan konsep-konsep dalam kurikulum yang kapitalistik hingga menimbulkan sikap rasisme terhadap Islam.
Kebangkitan islam secara sistemik telah menjadi momok bagi musuh, yaitu kaum kafir Barat yang membenci Islam. Berbagai upaya dilakukan untuk meminggirkan dan menjauhkan Islam dari umatnya, bahkan permusuhan terhadap pandangan, pemikiran, dan perilaku Islam terus digencarkan dan masif dijalankan, termasuk di lingkungan pendidikan. Disorientasi pemikiran telah memengaruhi cara pandang dan berpikir seseorang terhadap Islam.
Buah dari kurikulum yang berbasis kapitalis sekuler menjadikan gelar akademik yang dikantongi kaum intelek tidak bisa menjamin tingkat kecerdasannya. Hal itu disebabkan karena mereka tidak memiliki kerangka berpikir yang lengkap tentang Islam, sebagaimana cara berpikir Islam.
Tentu berbeda dengan kurikulum pendidikan Islam tang lahir dari sistem Islam. Penerapan kurikulum ini mampu melahirkan generasi cemerlang, memiliki syakhshiyyah atau kepribadian Islam, menguasai ilmu-ilmu terapan, memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna. Dalam sisten Islam, negara memberikan pendananan yang memadai dalam dunia pendidikan. Tersebab pendidikan merupakan kebutuhan pokok rakyat yang wajib bagi negara untuk menjaminnya.
Sejarah Gemilang Produk Pendidikan Islam
Penerapan sistem Islam oleh negara khilafah di bidang pendidikan telah tercatat gemilang sejarah, dimana
Islam memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia pendidikan. Adalah Fatimah al-Fihri, pendiri universitas pertama di era keemasan Islam, yaitu Universitas Al-Qarawiyyin pada 859 M, hampir 100 tahun sebelum berdirinya Universitas Al-Azhar Kairo. Beliau juga merupakan desainer baju dan topi toga yang berbentuk kotak yang diambil dari bentuk Baitullah (Ka’bah). dengan tujuan siapa pun yang memakai topi tersebut saat diwisuda, pikirannya selalu mengingat Baitullah yang berbentuk kotak.
James Watt mungkin akan kesulitan membangun mesin uap, jika sebelumnya Al-Jazari (1136-1206) belum menemukan prinsip roda gigi.
Edward Jenner menciptakan vaksin cacar dengan mengembangkan teknik variolasi yang diperkenalkan oleh Lady Mary Montagu dari Istanbul pada 1721. Alesandro Volta menemukan prinsip elektrokimia, jauh sebelum Thomas Edison mengembangkan listrik. Al-Khawarizmi (780—850) mengajarkan dunia tentang algoritma, yang saat ini dikembangkan oleh Mark Zuckerberg dalam membuat Facebook
Masih banyak lagi penemu Islam yang memberikan sumbangan besar terhadap dunia. Sayangnya sejarah tidak fair. Ada sejarah yang hilang saat sejarawan sekuler hanya mencatat penemu setelah mereka yang notabene dari kalangan nonmuslim. Oleh sebab itu, perlu upaya untuk memahamkan dan menyadarkan umat akan peran Islam dalam membangun peradaban manusia.
Perlu untuk membentuk kerangka berpikir yang cemerlang sesuai akidah Islam sehingga umat memiliki kepribadian Islam. Hal itu dilakukan dengan merombak kurikilum pendidikan yang berbasis sekuler dan menggantikannya dengan basis aqidah islam. Alhasil generasi Islam tidak berlaku diskriminatif dan memusuhi ajaran agamanya sendiri. Karena sesungguhnya membangun permusuhan terhadap Islam akan membahayakan eksistensi manusia itu sendiri. Wallahu a’lam bishowab.














