
Bulat sudah. Aku ikut seleksi dengan asumsi tak lolos. Lebih yakin lagi, karena keikutsertaan ini sudah dapat restu dari suami. Terdapat tiga mata ujian dalam seleksi ini. Mata uji pengetahuan sesuai bidang studi dan kompetensi berbahasa Inggris. Untuk kompetensi ini meliputi teori dan praktek langsung lewat interview. Ujian yang terakhir adalah keterampilan mengoperasikan komputer, termasuk internet.
Aku merasakan berat untuk mata uji ketiga. Pasalnya, selama menjadi guru, aku belum pernah membuka benda pintar itu. Sebenarnya, saat kuliah di tahun sembilan puluhan, ada mata kuliah komputer sebanyak 3 sks. Nilai A sempat kukantongi untuk mata kuliah ini. Namun waktu telah merangkak begitu lama. Teknologi digital melaju begitu cepat. Aku merasa ketinggalan jauh! Kesibukanku untuk membersamai tumbuh kembang keempat buah hati, membuatku tak sempat untuk melakukan upgrade diri di bidang ini.
Bismillah. Akhirnya aku jalani seleksi ini, lebih karena dorongan dari suami. Kutata niat, berangkat karena ketaatan kepadanya. Dari awal telah terpatri dalam diri, bahwa ketaatan kepada suami, akan membuka jalan kemudahan.
****
Bumi berselimut kabut saat mobil pembawa peserta dari sekolah kami berangkat. Menembus heningnya jalanab yang masih gelap. Melaju tenang menuju ke SMP Negeri 2 Madiun, tempat tes diselenggarakan. Kami berangkat ber-enam, ditemani seorang driver.
Kami akan diuji berpasangan. Masing-masing dua pengajar Matematika, Fisika dan Biologi dari lembaga yang sama. Teman guru pengajar satu bidang studi, kini menjadi rivalnya. Aku sendiri mengajar Biologi dengan Pak Eksan sebagai rivalku. Rival yang aku inginkan agar dia menang. Sebuah keinginan yang kusembunyikan dari teman-teman!
Menempati ruang Laboratorium Biologi, kami menjalani tes bersama guru-guru satu bidang studi dari sekolah lain. Setiap sekolah rata-rata mengirimkan enam peserta, sama dengan sekolah kami. Dengan background S1 dan pengalaman mengajar selama sepuluh tahun, aku tak mengalami kendala yang berarti dalam mengerjakan soal-soal Biologi. Pengalamanku pegang kelas SMA saat mengajar di sebuah LBB sebelumnya, cukup menambah penguasaan terhadap ilmu tentang makhluk hidup ini. Terasa mengalir saja soal-soal itu aku kerjakan. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan.
Tes dilanjutkan dengan materi Bahasa Inggris. Sebanyak lima puluh butir soal multiple choice kukerjakan tanpa kesulitan yang berarti. Sejak SMP memang aku suka dengan pelajaran Bahasa Inggris. Bagiku, bahasa asing ini selalu menantang untuk dipelajari.
Waktu terus mengalir. Tibalah giliran wawancara dalam bahasa asing ini. Bahasa utana yang bakal digunakan dalam pembelajaran IPA dan Matematika di kelas RSBI, nantinya. Berdua, aku dan Pak Eksan menghadapi penguji yang didatangkan dari Jakarta. Pak Burhan, nama beliau. Nama yang kuketahui saat lelaki berpostur tinggi itu memperkenalkan diri.
“Okay … We will start from Mrs. Susi. Are you ready?” Pak Burhan memulai, usai mengenalkan dirinya.
“Yes, Sir. Insyaallah.” Aku berusaha tenang saat menjawab, meski sedikit grogi.
“First, about your family. How many children do you have, Mrs. Susi?”
“I have four children, Sir.“
“It’s so many!” Penguji dari ibukota itu mengomentari jawabanku sambil tersenyum.
“Explain about them, please! For example, about their age or their study and the others. Free!”
Aku merasa beruntunglah telah mengikuti kursus Bahasa Inggris di sekolah, sebelumnya. Aku jelaskan secara singkat tentang anak-anak. Tentang usia dan di mana saja mereka bersekolah. Pak Burhan tampak manggut-manggut saat aku menjelaskan.
Bersambung














