Aku merasa beruntunglah telah mengikuti kursus Bahasa Inggris di sekolah, sebelumnya. Aku jelaskan secara singkat tentang anak-anak. Tentang usia dan di mana saja mereka bersekolah. Pak Burhan tampak manggut-manggut saat aku menjelaskan.
“How long do you have to be a teacher, Mrs. Susi?” lanjut Pak Burhan.
“About ten years. Since nineteen ninety, exactly.”
“Oh, It’s so long. What subject do you teach?” sahutnya.
“I teach Biology, cause I am Biology teacher,”
“OK! What material or topic must you teach for your students?”
“So many. Respiracion, transportation and excretion system of organisme, for example. Genetics, Adaptation of living thing, so on. And the others,” jawabku sebisanya.
“OK. It’s enough, I thinks. And we will tobe continue to Mr. Eksan, ” tutup penguji setengah baya itu.
Plong! Lega sudah rasanya. Sekarang, tinggal tes kemampuan mengoperasikan komputer. Nyaliku ciut untuk menghadapinya. Namun justru bidang inilah yang bakal membantuku untuk tidak lolos. Kutunggu giliran untuk mata uji ini. Namun, alangkah kecewanya aku, saat panitia mengumumkan bahwa prosesi ujian telah berakhir.
“Maaf, Pak. Untuk tes komputer kapan pelaksanaannya?” tanyaku dalam gundah.
“Tidak ada, Bu. Kabarnya, karena komputer dan internet akan menjadi bagian dari materi diklat nanti. Jadi tidak menjadi mata ujian,” jelas seorang panitia yang mengenakan kemeja batik coklat.
Harusnya berita ini meringankan peserta. Namun tak demikian dengan aku. Gelisah kembali menelisik jiwa. Kenapa materi komputer dan internet – yang Pak Eksan begitu mahir – malah tidak diujikan? Harapanku untuk gagal dalam seleksi ini menjadi tipis. Terbayang sulitnya hari-hari kedepan andai aku lolos seleksi. Keharusan untuk meninggalkan keluarga untuk waktu yang cukup lama bagi seorang ibu dengan dua balita.
Ya Robbi … Langkah apa gerangan yang telah kujalani ini? Kuterima tugas ini karena referensi dari suami. Kutempuh jalan, di kala ridha dari suami telah kudapat. Namun, bagaimana bila ternyata hasilnya tak seperti yang kuharapkan? Apakah aku telah salah dalam memilih aktivitas di antara perkara-perkara mubah ini? Apakah langkahku ini bakal menghadirkan kemudharatan bagi anak-anakku? Aneka pertanyaan bersusulan dalam benakku.
***
Kini, instingku mengatakan bahwa aku bakal lolos dalam pemilihan guru bilingual ini. Bukan semata karena hasil tes pada dua materi, namun faktor usia merupakan fakta yang tak bisa dipungkiri. Dengan terpaut tiga tahun lebih muda dari Pak Eksan, tentu juri akan pertimbangkan hal ini dengan teliti.
Pening menyerang kepalaku, entah kapan datangnya. Agaknya sejak ada info bahwa tes Komputer tak jadi diadakan. Mual di perut juga mulai terasa. Terbayang hari-hari ke depan yang sulit. Bila benar aku lolos seleksi, bagaimana kami harus mengatur urusan ini. Balitaku ada dua. Si ragil Faqih dan kakaknya, Farhana, yang baru berusia empat tahun. Kakaknya lagi, si bongsor Fuadi, berusia dua tahun di atas adiknya. Sedangkan anak sulung baru kelas II SD. Bocah-bocah itu semua masih perlu pelayanan. Sementara Suami belum dinyatakan sembuh total dari Lymfoma. Meski sudah bisa mengajar kembali, namun pendampingku itu masih harus rawat jalan. Tiga bulan sekali kemoterapi masih harus dijalani olehnya.
***
Sebuah rumah makan di Ponorogo menjadi pilihan singgah kami untuk makan siang, sepulang dari tes di Madiun. Tempat kuliner ini menjadi pilihan teman-teman karena menunya yang variatif. Selain itu juga cocok bagi lidah Jawatimuran. Dengan model sajian ala prasmanan, membuat kami lebih leluasa memilih menu sesuai selera.
“Bu Susi dahar apa siang ini?” tanya Bu Dyah yang duduk di sebelahku.
”Aku rawon saja, Bu.”
Datar saja aku menjawab. Rasanya kurang berselera untuk makan.
“Ok. Minumnya?”
“Teh panas, Bu.”
“Kok, kayaknya kurang semangat?” komentar guru senior itu.
“Entahlah Bu. Setelah tes tadi, aku malah beban,” ungkapku.
“Sudah lupakan saja, Say. Yang penting kita sudah melaksanakan tugas negara. Tentang hasil, serahkan pada yang kuasa. Gak usah bingung-bingung,” tutur Bu Ratna, guru Matematika.
“Iya, Bu Susi. Kita nikmati saja menu makan siang ini. Lupakan urusan sekolahan, ” seloroh Pak Eksan sambil menyeruput kopi panas.
Aku benar-benar tak bisa menikmati makan siang di rumah makan itu. Membau aromanya saja, terasa eneg. Bayangan bocah-bocah di rumah dan kesehatan ayahnya, serasa menjadi hantu yang sulit aku halau. Kupilih menu Rawon, bukan karena berselera pada menu berkuah itu. Namun agar lebih mudah untuk menelannya.
Bersambung











