Hari terus merangkak, minggu berlalu dan bulan berganti. Dua bulan, telah terlampaui tanpa ada berita dari Kemendikbud soal hasil seleksi. Terbersit harapan agar program ini tak berlanjut. Bukan hanya aku, namun hampir semua teman guru yang ikut seleksi.
“Semoga RSBI-nya gak jadi,” seloroh pak Budi pagi itu di ruang guru. Guru Fisika yang ikut seleksi itu juga kurang berminat, nampaknya.
“Amiin…,” sahutku berharap.
“Tak mungkin, tidak jadi, Pak. Orang ini proyek di Kementerian, tentu sudah digodok dengan matang, ” timpal Bu Eny, guru BK.
Diskusi siang itu berakhir saat petugas dari Tata Usaha memanggilku untuk menghadap kepala sekolah.
***
Gemuruh berkecamuk dalam hati saat aku menghadap pimpinan. Sementara dengan muka yang ceria dan bersemangat, Pak Wirawan, pimpinan sekolah mengulurkan tangan.
“Selamat ya, Bu Susi. Panjenengan, Bu Dyah dan Pak Budi lolos seleksi …”
Belum selesai Pak Wirawan bicara, pintu diketok. Rupanya Pak Budi dan Bu Dyah yang datang. Siang itu sejumlah pengarahan diberikan oleh pimpinan buat kami agar sukses dalam pelatihan nantinya. Kami dibekali wawasan agar nanti tidak mengalami kendala dalam pelatihan.
Meski berlangsung tanya jawab yang seru di ruang itu, aku memilih diam. Tak satupun pertanyaan yang bisa keluar dari lisanku. Lidahku terasa kelu. sementara benakku sibuk dengan aneka pertanyaan yang kualamatkan pada diriku sendiri. Berkutat di seputar tema tentang bagaimana aku harus menjalani diklat nantinya. Bingung tiada tara.
***
Jam mengajarku telah berakhir. Usai pertemuan dengan pimpinan di siang itu, aku langsung pulang. Beruntung suami sudah di rumah.
“Assalamu alaikum,” salam kuucap.
“Waalaikum salam. Umi juga sudah pulang?”
Aku menjawab sapaan suami dengan menyodorkan amplop.
“Surat apa ini?”
“Abi baca dulu!”
“Asyik, Umi lolos!” serunya usai membuka isinya. Matanya berbinar. Kontradiktif dengan kondisiku yang sedang pusing. Sebuah respon yang tak kuduga.
“Abi yang harus bertanggungjawab. Kathek, dulu aku didorong-dorong untuk ikut,” jawabku gondok.
“Berangkat aja, kenapa ragu?”
“Tidak mungkin lah kalau Umi gak berangkat. Ini sudah kepalang tanggung,” sungutku.
“Semangat ya, Istriku.” Semangat dan optimisme suami seakan mengalahkan kondisi kesehatannya. Justru aku yang ragu.
“Tapi …, bagaimana dengan anak-anak?
“Berangkatlah! Yakinlah bahwa anak-anak bakal aman dalam riayah Abi.”
“Aman sih, aman. Bagaimana dengan kesehatan Abi? Tiga pekan lho, diklatnya. Pula, siapa yang masak buat keluarga, nanti?” Tak bisa kutahan, tumpah semua kegundahanku di hadapan lelaki yang telah menjadi pendampingku selama dua belas tahun itu.
“Tenang! Aku sudah hubungi Bude Sunarti.”
“Terus?”
“Ya, sudah, Budhe bersedia kok. Aku sudah pastikan hal ini, kapan hari,” jelasnya.
“Kok, kapan hari?”
“Iya! Aku merasa bahwa Umi bakal lolos. Makanya aku sudah bikin persiapan.
Aku hanya bisa melongo. Ternyata suami telah melangkah jauh. mempersiapkan kemungkinan yang terjadi. Tak seperti aku, yang hanya berkutat dengan kegalauan. Takut kalau lalai dalam tugas sebagai ibu dan istri, gegara menjalani konsekuensi profesi.
“Sudah …. Ikuti saja! Ambil kesempatan baik ini!” Sebuah pelukan hangat mendarat di pundakku, menghadirkan kekuatan yang nyaris sempurna.
***
Izin suami merupakan sumber energi untuk melangkah. Energi yang membuatku berani mengambil resiko lebih jauh. Ridhanya pula yang membangkitkan semangatku untuk bisa menyelaraskan antara tuntutan dari profesi dengan tugas yang melekat padaku. Sebagai ibu dan juga istri.
Budhe Sunarti merupakan kakak perempuan suami. Kesediaan beliau untuk hendel urusan konsumsi keluarga merupakan kemudahan yang Allah berikan. Tinggal satu masalah. Bagaimana aku harus menyiapkan anak-anak, utamanya Faqih. Si ragil.
***
“Umi piginya kapan?” tanya Faqih. Sore itu kami sekeluarga sedang bercengkrama sambil nonton televisi. Bocah mungilku itu belum bisa melafalkan huruf R dengan jelas.
“Pigi kemana?” tanyaku balik, sambil memeluknya.
“Kata Abi, Umi mau sekolah jauh.”
Sejenak aku terpana. Kemarin belum sempat kusampaikan kepada anak-anak tentang rencana ini. Ternyata telah bocor oleh suami.
“Iya, Sayang. Masih besok-besok. Kurang … satu, dua, tiga, empat, lima hari lagi,” jelasku sambil memperagakan hitungan dengan jemari di hadapannya. Berharap imutku itu bisa menangkap hitungan hari dan lebih siap untuk kutinggalkan.
“Nanti Umi, berapa lama diklatnya?” Si sulung Faizal ganti bertanya. Sementara adik-adiknya pada menoleh padaku. Rupanya, aksi sosialisasi agenda diklatku oleh Abi mereka sudah lengkap. Anak-anak sudah pada tahu. Aku merasa tenang saat mereka bertanya dengan nada datar. Seakan kepergianku untuk beberapa waktu itu sebagai kabar yang tak memberatkan bagi mereka.
“Tiga pekan, Mas Faiz. Umi nitip adik-adik, ya. Bantu Abi sebisanya. Mas Fuad juga begitu, bantu-bantu Abi dan gak boleh ngalem, OK?” pintaku pada anak-anak.
“Okay … Siap Boss!” sahut Fuad sambil mengangkat tangan tanda hormat.
Masyaallah … Sebuah kondisi yang amat melegakan hati. Tak hanya suami, buah hatiku ternyata semua mendukungku.
“Aku juga mau bantu. Bantu bersihkan rumah,“ sela si Farhana. Putri cantikku satu satunya. Kurangkul hangat tanda sayangku atas dukungannya.
“Iya, sayang. Terimakasih ya, kalian semua anak-anak yang hebat. Umi bangga dengan kalian!”
“Nanti Faqih pokoknya di… di … ditepon- tepon Umi.” Bocah mungil itu meminta agar kelak aku sering menelponnya.
“Iya, Sayang. Pasti! Tiap pagi dan sore ditepon Umi, OK?” Kupererat pelukanku untuk menenangkannya.
Sesaat ada yang menggangguku berkait dengan janji menelepon. Pasalnya mikrofon Hp milikku bermasalah. HP versi lama, Nokia 1100 yang telah tiga tahun kupakai tak memadai untuk komunikasi lewat telepon. Telepon genggam itu sering jatuh saat dipegang anak-anak, membuat audionya tidak berfungsi dengan baik. Sebenarnya solusinya gampang. Kunjungi gerai Ponsel, pilih yang disukai, bayar dan bawa pulang. Namun aku belum berpikir ke arah sana. Tepatnya belum berani menganggarkan.
Tiba-tiba suami beranjak ke kamar dan tak lama telah kembali. “Ini buat Umi!’ ia memberikan sebuah bungkusan.
“Apa ini, Abi?”
“Buat tepon-tepon nanti.”
Bergegas kubuka bungkusan misterius itu. Sesuatu yang membuatku hampir tak percaya. Ada benda harapan itu di hadapanku. HP baru, hadiah dari suami. Ya Robbi …. Nyatakah ini? Kutepuk pipiku. Kiri dan kanan. Ini nyata, aku tak bermimpi. Suami menimpali ulahku dengan mencubit pipiku. Aku meringis menahan sakit, sementara anak-anak pada ketawa. Lengkap sudah dukunganku. Tiada keraguan di hari itu, saat suami menegaskan dukungannya untukku guna menjalani diklat ini. Bulat sudah niatku untuk mengikutinya.
S e l e s a i








