Maksiat Akibatkan Rusaknya Alam dan  Generasi

Terbaru116 Dilihat

Allah Swt. berfirman,
 ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan (al fasad) di darat dan di laut disebabkan oleh ulah manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS Ar-Rum [30]: 41).

Tafsir Ayat

Ibnu ‘Abbas menafsirkan bahwa al-fasād adalah tumbuh suburnya kerusakan di darat yaitu adanya pembunuhan, kezaliman, matinya binatang, sedikitnya hujan dan paceklik. Termasuk kerusakan adalah rusaknya kehidupan manusia.

Adapun kerusakan di laut  yaitu adanya perampasan, pembajakan di kapal, dan kerusakan-kerusakan yang lain. Ini semua disebabkan oleh  manusia yang melanggar aturan Allah Sang Pencipta alam dan isinya.

Perbuatqn manusia dengan kategori maksiat yang mengundang musibah juga terdapat dalam Al-Qur’an Al-A’raf ayat 96,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Ibnu ‘Abbas  menafsirkan QS Al-A’raf ayat 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri, yang penduduknya Kami hancurkan, mereka beriman kepada kitab Allah, rasul-rasul, dan bertakwa, yaitu meninggalkan kekufuran, kesyirikan, perbuatan keji, dan bertobat, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah.

Berkah itu dari langit berupa hujan dan dari bumi dengan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, yaitu mendustakan rasul-rasul Kami dan kitab-kitab Kami, maka Kami siksa mereka dengan paceklik dan bencana disebabkan perbuatannya, yaitu mendustakan para nabi dan kitab.”

Maksiat Undang Musibah

Dari penjelasan tafsir QS Ar-Rum ayat 41 dan Al-A’raf ayat 96, jelas bahwa bencana alam yang terjadi dengan aneka macam bentuknya
merupakan akibat dari ulah maksiat yang dilakukan oleh manusia. Musibah ini meliputi bencana alam dan rusaknya kehidupan manusia.

Terasa sangat sedih akan hadirnya bencana banjir besar melanda tiga provinsi di Sumatra: Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Diperkirakan, korban meninggal telah mencapai lebih dari seribu jiwa lebih dan ratusan korban lainnya masih dalam pencarian. Banjir juga membuat hilang sejumlah desa hancurnya pemukiman dan berbagai infrastruktur.

Pemicu banjir alami adalah siklon tropis Senyar dan Koto yang terjadi di Selat Malaka. Akibatnya, sejumlah kawasan terdampak dengan curah hujan yang sangat tinggi. Tingginya curah hujan ini berubah menjadi bencana ketika di kawasan tersebut jutaan area hutan sebagai penahan curah hujan telah tiada. Banyak pihak menduga adanya aktifitas deforestasi yang masif menjadi penyebab utama bencana banjir yang menyedihkan itu.

WALHI mencatat, selama periode 2016–2025, deforestasi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah mencapai 1,4 juta hektare. Selain itu, banyak izin usaha diberikan oleh pemerintah untuk kegiatan pengelolaan SDA di Pegunungan Bukit Barisan. Di antaranya sektor pertambangan, perkebunan sawit, dan proyek energi.

WALHI juga memvuat catatan, ada lebih dari 600 perusahaan tiga provinsi itu yang kegiatan eksploitasi SDA-nya memperparah kerapuhan infrastruktur ekologis. Illega loging di hutan-hutan Sumatra secara besar-besaran juga dicurigai menjadi penyebab deforestasi. Hanyutnya ribuan batang pohon yang terbawa banjir menjadi bukti tak terbantahkan adanya aksi tak bertanggjawab.

Jelas, bencana banjir ini karena ulah manusia. Bencana banjir yang melanda Sumatra datang sebagai akibat dari kebijakan yang merusak lingkungan, yakni deforestasi yang ugal ugalan.

Data Global Forest Watch (GFW) mencarat, terdapat 10,5 juta hektare hutan di Indonesia raib sepanjang 2002–2023. Hal ini sangat disayangkan karena hutan primer tropis merupakan ekosistem paling kaya dan bermanfaat untuk menahan curah hujan. Namun kini, area seluas itu paling terdampak akibat praktik ekspansi lahan dan keserakahan manusia.

Hancurnya hutan di tanah air disebabkan oleh kebijakan negara yang menyimpang dari tuntunan syariat Islam. Negara mengobral banyak kawasan tersebut kepada swasta, dengan warga sebagai tumbalnya. Demi kepentingan materialistik kawasan pelindaung itu telah diubah menjadi proyek pertambangan, penebangan, dan pembukaan lahan perkebunan sawit.

WALHI Sumut juga menyebut , terdapat tujuh perusahaan yang mengakibatkan bencana ekologis berupa banjir dan longsor di Tapanuli, Oleh karenanya, bencana banjir dan longsor di Sumatra bukan semata terjadi karena fenomena alam. Marahnya alam itu merupakan akibat buruk dari kebijakan kapitalistik yang keji. Keputusan yang diambil semata-mata demi keuntungan membawa dampak kerusakan alam dan bencana yang menimpa masyarakat. Inilah kemaksiatan besar yang menciptakan kezaliman kepada rakyat.

B e r s a m b u n g

Tinggalkan Balasan