Terpana di Kemegahan Park Pobedy

Berita, Wisata655 Dilihat

Salah satu tempat yang ingin saya saksikan dengan mata kepala sendiri ketika berkunjung ke Moskwa adalah sebuah taman raksasa yang merekam sejarah Uni Soviet sebagai suatu bangsa ketika berhasil melewati erang Dunia II dengan gilang gemilang. Karena itu dengan angkutan kesayangan yaitu metro, kami menuju ke Park pobedy atau Victory Park alias Taman Kemenangan.

Setelah sekitar 30 menit naik Metro dari Stasiun 1905 Goda, akhirnya kami tiba dan turun di Stasiun Metro Park Pobedy. Agak berbeda dengan stasiun-stasiun di pusat kota Moskwa yang banyak hiasan yang terkesan antik. Stasiun Park Pobedy terlihat sangat modern namun juga terletak sangat dalam di bawah tanah. Stasiun ini juga unik karena langit-langitnya polos tidak dihiasi lampu kristal atau pun hiasan hiasan yang mewah seperti stasiun lain di jaringan Metro Moskwa.

Menurut catatan stasiun ini terletak sekitar 85 meter di bawah tanah dan ,menjadi stasiun metro paling dalam di Moskwa.

Setelah naik beberapa kali eskalator yang panjang tak berujung kita akan sampai di konkorse stasiun yang terkesan sangat mewah dan lukisan mural yang sangat patriotik melambangkan kemenangan sekaligus penderitaan rakyat dan tentara dengan tulisan angka tahun 1945.  Sementara lantai stasiun juga sangat mewah terbuat dari marmer dengan kombinasi warna cokelat kemerahan dan utih susu.

 

Setelah naik ke permukaan tanah, kami langsung disuguhkan oleh sebuah pemandangan yang memukau. Lapangan yang maha luas dengan sebuah Obelisk di kejauhan. Obelisk itu terletak di atas bukit kecil.  Dan yang tidak kami duga sebelumnya di sini juga kita bertemu dengan sebuah tugu yang mirip dengan Arc de Triumph yang ada di Paris.  Unik nya tugu ini juga bernama sama yang dalam Bahasa Rusia disebut  Triumfalnaya Arca.  Ternyata  tugu ini pertama kali dibangun pada 1829-34 untuk memperingati kemenangan Rusia atas Napoleon alias serangan Napoleon yang gagal pada 1812.   Di atas tugu ini ada sebuah kereta perang dengan 6 ekor kuda yang sangat gagah.

Meninggalkan Triumfaklnaya Arka, kami berjalan perlahan menuju ke Obelisk di atas bukit  sambil menikmati suasana yang tenang. Suhu udara di Moskwa sangat bersahabat di Bulan Juli sekitar, 19 atau 20 derajat. Jalan atau lapangan atau promenade yang kita lalui sangat luas namun beranak membentuk tangga dengan setia tingkat mengisahkan tahun-tahun selama Perang Dunia kedua. Dimulai dari tahun 1939 hingga mungkin 1945 di ujung sana.   Dan si sisi jalan utama ini ada hiasan jam dari rumput dan bunga dengan tulisan MOCKBA atau Moskwa berwarna merah. Sebuah pemandangan yang  sangat memukau.

Kami masih terus berjalan perlahan dan walau pun lumayan jauh, namun tidak melelahkan karena bisa sesekali beristirahat di kursi taman sambil menikmati bunga warna-warni merah kuning dan coklat dengan rum[ut hijau sebagai latar belakang yang ada di tengah-tengah promenade ini.   Di dekat taman-taman bunga kecil ini juga terdapat kolam air mancur yang indah. Benar-benar sebuah ruang publik maha luas yang indah.

Di tepi promenade ini terdapat tiang dari perunggu yang berjumlah 15 buah dan masing-masing untuk memperingati beberapa garis depan pertempuran yang dialami oleh Tentara Merah selama Perang Dunia II.

Akhirnya setelah menaiki puluhan anak tangga , kami sampai di kaki obelisk atau tugu yang menjulang tinggi bagaikan Monas di Jakarta.  Di kaki tugu ini terdapat sebuah patung yang menggambarkan St. George sedang menghunus kan tombak membunuh seekor naga.  Berdasarkan informasi yang saya dapat di buku wisata, obelisk ini ternyata memiliki ketinggian 141,8 meter yang melambangkan 1418 hari perang yang dialami oleh rakyat Soviet.

Di bawah tugu inilah terdapat Museum of the Great Patriotic War, yang merupakan salah satu museum perang paling besar dan lengkap mengenai Perang Duni II. Kami tidak masuk ke dalam museum melainkan ke kawasan di sekitarnya. Tepat di belakang museum terdapat api abadi dimana terdapat karangan bunga untuk menghormati para pahlawan Soviet yang gugur pada Perang Dunia Kedua.

Ada sebuah tugu dengan patung 4 orang tentara menyandang senjata di bahu, dua di antaranya sedang melambaikan tangan seakan-akan mengucapkan selamat datang dan menyorakkan kemenangan.

Namun masih di sekitar gedung museum ini juga ada sebuah monumen atau tugu yang menggambarkan penderitaan rakyat Soviet sewaktu perang. Digambarkan kaum perempuan, orang tua dan anak-anak yang kurus kering tanpa busana dalam posisi berdiri , kemudian, lambat laun miring dan akhirnya jatuh.   Sangat menyedihkan sekali.

Masih di sekitar tempat ini, di ruangan terbuka juga dipamerkan beberapa peralatan perang seperti  tank dan kendaraan lainya.  Berdasarkan buku saya ada juga sinagoga dan masjid.  Namun kami tidak dapat menemukannya.   Dalam perjalanan pulang, dapat dilihat sebuah Gereja Kristen Ortodoks yang megah dengan kubah keemasan. Ini adalah gereja St George.

Setelah kembali ke hotel dan melihat peta tempat ini secara rinci, baru diketahui bahwa lokasi masjid nya memang agak di pojok dan  harus menuruni bukit lagi di arah yang berlawanan.

Sebuah perjalanan yang penuh dengan makna untuk memahami sejarah kemenangan bangsa Soviet pada Perang Dunia II yang juga tidak lepas dari penderitaan puluhan juta rakyat.

Konon hampir tiga puluh juta rakyat Soviet harus meregang nyawa dalam perang besar ini, lebih banyak dari bangsa mana pun di bumi ini.

Dengan berkunjung ke Park Pobedy ini kita belajar, bahwa perang memang akan selalu membawa penderitaan, bahkan bagi pemenang seperti Uni Soviet.

 

Tinggalkan Balasan