Afrika terkenal dengan satwa liarnya yang disebut The Big Five, tiga di antaranya sudah saya saksikan di game drive pertama dan kedua. Satwa keempat ternyata adalah African Buffalo atau sejenis banteng raksasa yang mirip dengan kerbau namun dengan penampilan yang lebih garang. Banteng Afrika ini selalu ada dalam kelompok yang besar yang berjumlahnya bisa mencapai puluhan atau ratusan. Maka kendaraan kami pun mencoba untuk melihat namun diusahakan tidak terlalu dekat .
Sedangkan satwa terakhir yang termasuk the big five adalah leopard atau macan tutul yang terkenal dengan keindahan kulitnya. Macan tutul selalu bersembunyi di atas pohon dan biasanya menyerang mangsanya dengan lompatan yang mendadak. Sewaktu sedang asyik berkendara untuk mencari macan tutul, kami melihat ratusan jerapah dan topi serta hewan-hewan berlarian. Rupanya mereka dikejar mancan tutul dan kita dengan asyik dapat menyasikan kejadian yang sangat alamiah di alam liar ini.

Pada game drive pagi itu, kami juga beruntung bisa menykasikan hewan yang bisa berlari paling cepat di dunia yaitu cheetah. Di bawah sebuah pohon yang tidak berdaun, terlihat sepasang cheetah yang sedang bercengkerama dengan asyiknya. “Cheetah bisa berlari dengan kecepatan lebih dari 200 km per jam” tambah Edward ,,
Kesokan harinya, kesempatan untuk melihat hewan raksasa khas Afrika yaitu kuda nil. Kuda nil selalu hidup dalam gerombolan dan biasanya berada di dalam sungai atau pun danau. Ketika kendaraan mendekati tepi sungai Talek, sudah terdengar suara kuda nil yang riuh rendah. Dan kita pun dapat menyaksikan mereka berendam sambil bermain mendinginkan tubuhnya yang besar di dalam sungai.

Setelah puas melihat kuda nil, dalam perjalanan di tengah padang savannah ini, kami juga berjumpa dengan satwa liar yang rupanya selalu mengerikan yaitu Hyena. Hyena biasanya terlihat secara sendiri. Dan kali ini sang hyena terlihat garang mencoba untuk mendekat zebra yang sedang bermain di padang rumput. Sementara di tempat lain kita juga dapat melihat hyena dari dekat sekali karena dia tampaknya tertarik untuk bermain-main di sekitar kendaraan safari.
Selain hyena, di sebuah pohon, terdapat seekor burung yang dinamakan burung pemakan bangkai atau vulture. Burung ini hanya dapat kami awasi dari kejauhan karena kalau kita coba mendekati pohon tersebut biasanya sang burung akan terbang menjauh.
Setelah dua malam bermain dan melihat dari dekat kehidupan suku Masaai dan satwa liar Afrika yang mempesona. Siang itu saya pun diantar oleh Grace dan seorang supir kembali menuju airstrip Olkiombo. Dalam perjalanan kembali ini, suguhan parade kehidupan hewan-hewan yang penuh keindahan berlaran di sepanjang jalan seakan-akan mengucapkan selamat tinggal dan selamat jalan.

Sesampainya di airstrip, yang saya lakukan hanyalah menunggu walaupun jadwal sudah lewat hampir setengah jam. Di bandara ini, tidak adatempat untuk cek in dan juga petugas. Yang ada hanya sebuah gazebo dimana penduduk loka berjualan cendra mata mkhas suku Masaai.
Setelah terlambat sekitar 30 menit dari jadwal akhirnya ditengah hujan yang cukup lebat pesawat Twin Otter Air Kenya pun mendarat. Dengan segera saya membawa bagasi dan naik ke pesawat. Pilot yang juga berfungsi sebagai pegawai cek in sekaligus pramugari hanya perlu bertanya nama saya untuk kemudian mencocokannya dengan daftar nama yang sudah diperoleh dari Nairobi.
Pesawat segera tinggal landas di tengah hujan menuju Nairobi setelah sempat singgah di Keekorok airstrip untuk menurunkan dan menaikan penumpang. Untungnya hujan pun reda sesaat setelah pesawat tinggal landas dari Olkiombo sehingga perjalanan menuju Nairobi tampak lebih menyenangkan. Sekitar pukul 5 sore pesawat saya sudah mendarat dengan mulus di Bandara Wilson.




