Shalat Tarawih secara bahasa berasal dari kata tarwihah yang artinya istirahat, yang maknanya adalah melakukan shalat dengan tenang, tuma’ninah, dan tidak terburu-buru, biasanya diikuti jeda istirahat setiap empat rakaat.
Ibadah Shalat Tarawih dirancang untuk memberikan ketenangan batin, kesehatan fisik, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT selama bulan Ramadhan.
- Tuma’ninah (Tenang/Jeda): Tarawih yang benar mengutamakan tuma’ninah, yaitu tidak terburu-buru dalam ruku’, sujud, dan i’tidal, yang merupakan rukun penting agar shalat sah dan berkualitas.
- Istirahat dari Kesibukan: Secara tradisi, di antara empat rakaat (dua kali salam) terdapat waktu istirahat sejenak, menjadikan ibadah ini tidak memberatkan, melainkan menenangkan.
- Ketenangan Jiwa: Suasana berjamaah di masjid yang syahdu memberikan dampak psikologis yang positif, meredakan stres, dan menghadirkan kedamaian jiwa.
- Kualitas atas Kuantitas: Meskipun Tarawih dilakukan dengan durasi yang cukup panjang, fokus pada ketenangan (tartil) lebih diutamakan daripada sekadar kecepatan.

Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 H, pemerintah Arab Saudi telah menetapkan keputusan resmi mengenai jumlah rakaat shalat Tarawih di Masjidil Haram, Makkah, dan Masjid Nabawi, Madinah.
Otoritas Dua Kota Suci mengumumkan bahwa shalat Tarawih akan dilaksanakan sebanyak 10 rakaat, yang kemudian dilanjutkan dengan 3 rakaat shalat Witir, sehingga total menjadi 13 rakaat. Langkah ini diambil untuk menjaga kenyamanan, keamanan, dan fokus para jamaah di tengah jumlah pengunjung yang diperkirakan akan membeludak tahun ini.
Keputusan ini meneruskan praktik yang sudah diterapkan sejak tahun 2023, yang secara resmi menggantikan format 20 rakaat Tarawih yang sempat dilakukan di masa lalu. Pengurangan jumlah rakaat ini dipandang sebagai solusi praktis agar aliran jamaah di dalam area masjid tetap lancar dan tidak terjadi penumpukan yang membahayakan nyawa.
Pemerintah Saudi ingin memastikan bahwa setiap orang bisa melaksanakan ibadah dengan khusyuk tanpa harus merasa kelelahan yang berlebihan akibat durasi shalat yang terlalu panjang.
Meskipun terjadi perubahan jumlah rakaat, kualitas bacaan imam dan kesakralan ibadah di Tanah Suci tetap dijaga pada standar tertinggi guna memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa bagi para tamu Allah.
Keputusan ini juga diharapkan dapat memudahkan para jamaah lansia dan mereka yang memiliki keterbatasan fisik agar tetap bisa mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Efisiensi waktu shalat ini memungkinkan para petugas untuk lebih cepat melakukan pembersihan dan penataan ulang area masjid guna menyambut gelombang jamaah berikutnya.
Bagi umat Islam di seluruh dunia, informasi ini menjadi acuan penting untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat menjalankan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat, yang terpenting adalah niat yang tulus dan semangat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Sang Pencipta.
Semoga ibadah puasa dan tarawih kita di tahun 2026 ini membawa kedamaian dan keberkahan yang melimpah bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.
Semoga ibadah puasa dan tarawih kita di tahun 2026 ini membawa kedamaian dan keberkahan yang melimpah bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.



