LEBAR LEBARAN
Catatan Mudik Thamrin Dahlan
Alhamdulillah, shalat Idulfitri di tanah kelahiran Tempino, Jambi, berlangsung khusyuk dan penuh haru. Suasana batin itu begitu dalam terasa, terutama bagi para perantau yang kembali bersujud di masjid tempat dahulu belajar mengaji—Masjid Al Ihsan Tempino. Seakan waktu berputar, menghadirkan kenangan masa kecil yang sarat keberkahan.
Pergi ke dusun memetik kelapa,
Singgah sebentar di tepi perigi.
Lebaran tiba penuh suka cita,
Salah dan khilaf mohon dimaafi.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan dia mengingat nama Tuhannya lalu dia shalat.” (QS. Al-A’la: 14–15). Ayat ini terasa hidup dalam setiap takbir dan sujud di pagi yang fitri.
Duduk rapi dalam satu saf bersama anak cucu, mendengarkan khutbah Idulfitri menjadi peristiwa yang amat langka dan membahagiakan. Awak bersama Didit, serta para putra—Azka, Zafran, Alzam, Ananda Rendi, Fauzan, dan kemenakan Arifin—larut dalam suasana. Sementara kaum ibu, termasuk Nenek Azka, Hj. Enida Busri, Tante Amalia, dan Cindy, berada di saf wanita. Semua menyatu dalam satu tujuan: kembali kepada fitrah.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka pagi itu bukan sekadar ibadah, melainkan momentum pembersihan jiwa.
Burung merpati terbang ke hulu,
Hinggap sejenak di pohon bidara.
Air mata jatuh bukanlah pilu,
Tapi bahagia bertemu keluarga.
Usai khutbah, jamaah bersalaman, saling bermaafan sembari melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di antara keramaian itu, awak bertemu kembali dengan sahabat lama seperti Ustaz Amin. Waktu telah berlalu lebih dari setengah abad, membuat banyak teman sepermainan tak lagi dijumpai. Namun silaturahmi tetap terjaga dengan yang masih ada.
Tak lengkap rasanya Lebaran tanpa ziarah. Kami sekeluarga menuju pemakaman Bumi Layon. Di sana bersemayam Ayahanda Busri Abdullah, kakanda Erdwan dan Syahrir, serta sanak saudara lainnya. Bersama anak cucu, kami membaca Surah Al-Fatihah dan Surah Yasin, menghadiahkan pahala untuk mereka yang telah mendahului.
Allah SWT mengingatkan: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…” (QS. Al-Hasyr: 10). Doa menjadi jembatan kasih yang tak terputus antara yang hidup dan yang telah tiada.
Burung merpati terbang ke hulu,
Hinggap sejenak di pohon bidara.
Air mata jatuh bukanlah pilu,
Tapi bahagia bertemu keluarga.
Suasana haru memuncak saat bermaaf-maafan di rumah. Keluarga besar memulai dengan memohon restu kepada Ibunda tercinta, Hajjah Yunidar. Isak tangis pecah saat anak cucu memeluk beliau yang telah berusia 85 tahun. Dalam pelukan itu, tersimpan cinta, rindu, dan doa agar usia beliau senantiasa diberkahi.
Tradisi Lebaran pun semakin semarak dengan pembagian Tunjangan Hari Raya (THR). Anak-anak tampak bahagia menerima amplop kecil berisi uang pecahan baru. Azka Zaidan menjadi juara dengan puasa penuh 29 hari. Senyum mereka menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua dan kakek-nenek.
Lebaran memang “lebar”—lebar hati untuk memaafkan, lebar rezeki untuk berbagi, dan lebar kebahagiaan untuk disyukuri. Perut boleh kenyang oleh hidangan, tetapi hati harus tetap lapang oleh keikhlasan.
- BHP, 22 Maret 2026
- 2 Syawal 1447 Hijriah
- Salamsalaman TD












