Disway.id
Catatan Harian Dahlan Iskan
Senin 09-03-2026,03:00 WIB

Ziarah pertama saya di Kairo: ke makam Imam Syafi’i. Satu dari imam empat mazhab: Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi.
Islam di Tiongkok mazhabnya Hanafi. Indonesia Syafi’i. Rasanya saya ikut Syafi’i campur Hanafi.
Bangunan tinggi di sekitar makam Imam Syafi’i banyak dikosongkan. Sebagian sudah dihancurkan. Itu menambah tebalnya debu yang harus masuk paru. Tapi itu juga memberi harapan: pembangunan ekonomi dan modernisasi terus berlangsung di Mesir.
Sementara ini suasananya masih seperti dulu: jalan tanah, debu tebal, kaki lima saling bersaing, pengemis berbaris, dan terik matahari kian ngeri.

—
Imam Syafi’i inilah yang membuat Islam sangat moderat. Selalu memberi jalan tengah untuk urusan keagamaan. Indonesia berada di jalur ini. Al Azhar University di jalur ini. Banyak mahasiswa yang pilih kuliah di Al Azhar karena ingin belajar sikap tengahnya itu.
Tapi yang mendampingi saya selama di Kairo adalah orang Indonesia dengan latar belakang keluarga pengikut Persis –Persatuan Islam.
Anda sudah tahu seperti apa Persis: tegas. Sesuatu yang tidak ada dalam Alquran dan Hadis tidak boleh dikerjakan. Titik. Tidak ada titik koma.
Termasuk ziarah ke kuburan: tidak boleh. Tidak diajarkan. Tahlil tidak boleh. Orang itu kalau sudah mati ya sudah. Mati. Sudah terputus dengan siapa pun kecuali tiga: ilmunya, amal sedekahnya, dan doa anaknya yang saleh.
Setelah kuliah di Al Azhar sikapnya melunak. Apalagi setelah ia punya bisnis travel: harus sering mengantarkan rombongan yang ingin ziarah ke kuburannya Imam Syafi’i.
Namanya Anda sudah tahu: Fauzi Syam Latif (Disway 19 Februari 2026: Tiga Huruf). Orang Bandung. Mertuanya orang Garut. Sekeluarga Fauzi Persis semua –sedangkan keluarga istrinya NU semua.

Bersama Fauzi Syam Latif (kiri).–
Akhirnya Fauzi menciptakan istilah baru. Jalan tengah. Ziarah kubur itu ia bagi dua: ada yang bi barokiyah dan ada yang bi tarikiyah. Yang penting jangan yang pertama: ziarah ke kuburan untuk minta berkah. Kuburan tidak bisa memberi berkah.
Mendengar Fauzi sering ke kuburan, keluarganya di Bandung heboh. Termasuk ayahnya sendiri. Fauzi dianggap orang Persis yang tidak tegak lurus lagi. Fauzi pun sibuk menjelaskan teorinya tentang dua jenis ziarah ke kuburan itu.
Apalagi ketika mertuanya meninggal dunia. Ia harus mengadakan tahlil di rumahnya selama tujuh malam. Ia diejek habis oleh keluarganya.
“Tapi Anda masih tetap Persis kan?” tanya saya.
“Masih,” katanya.
“Ada berapa orang Persis yang kuliah di Al Azhar?”
“Ada 200-an orang”.
Tentu itu objek menarik untuk penelitian: bagaimana 200 orang itu bermetamorfosis dari ajaran Persis ke ahli sunnah yang wasatiyah.
“Bisa untuk disertasi S-3,” kata saya kepada ustaz saudagar Fauzi. Apalagi ia sendiri mengalaminya.
Saya ceritakan kepadanya: waktu muda salah satu bacaan saya adalah majalah Al Muslimun. Rutin. Itu majalahnya Persis. Yang menerbitkan Persis Bangil, Pasuruan. Sudah lama majalah itu mati.
Saya juga bercerita tentang wartawan saya yang juga dari keluarga pimpinan Persis di Tasikmalaya. Wartawan hebat. Akhirnya jadi pemred harian Rakyat Merdeka.
Ia alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Meneruskan S-2 di McGill University di Kanada. Lalu ambil gelar doktor di Belanda. Disertasinya tentang tarekat NahshabandiyahQadiriyah. Sekarang ia jadi wakil mursyid aliran tarekat itu. Di Ciamis. Di Sirna Rasa. Menjadi wakilnya Abah Aos –keturunan Abah Anom Suryalaya. Namanya: Dr Budi Rahman Hakim. Dari Persis ke tarekat.
Sebenarnya saya merasa cukup ziarah ke satu makam saja: Imam Syafi’i. Tapi Fauzi-lah yang justru mengajak saya ziarah ke banyak makam lainnya. Masih pula mampir ke makam satu lagi: makam anak kecil yang di usia tiga tahun sudah hafal Quran. Ia meninggal di umur empat tahun.
Ibu sang anak kini hidup di makam anaknyi itu. Tinggal di situ. Menjanda. Suaminyi juga dimakamkan di situ.
Makam anak kecil itu harus ditunggui karena banyak peziarah yang datang ke situ. Minta berkah. Sang ibu yang bisa memberi penjelasan lengkap.
Makam di Kairo umumnya memang dijaga. Keluarga yang meninggal membayar petugas jaga. Petugas itu tinggal di makam. Ada tempatnya. Makam di sana besar-besar. Satu makam seperti satu rumah.
Ternyata tidak hanya makam orang Tionghoa yang besar-besar. Pun orang Arab Mesir.
“Ada dua juta orang di Kairo yang pekerjaannya menjadi penunggu makam. Tidur di makam,” ujar Kang Fauzi.

—
Akhirnya dari hanya ingin ziarah ke satu makam menjadi ziarah ke enam makam. Termasuk ke makam orang yang membiayai pembangunan makam Imam Syafi’i. Betapa kaya orang itu. Mampu membangun makam Imam Syafi’i yang begitu megah dengan kubah yang tinggi. Ia seorang pengusaha besar di masa itu. Makamnya hampir bersebelahan dengan Imam Syafi’i.
Waktu saya ke makam itu, istri saya ternyata sudah di kampung halamannyi di Loa Kulu, Kaltim. Dia juga ke makam: makam ibu dan bapaknyi.
Waktu saya ke berbagai kabupaten di provinsi Jiangsu sekarang ini dia pun ke kabupaten Kutai lagi. (Dahlan Iskan)
Komentar Thamrin Dahlan YPTD
Masya Allah, dua juta orang menjaga dan merawat maqam di kairo termasuk maqam Imam Syafi’i. Sungguh luar biasa. Inilah bukti keberkahan hidup seorang ulama.
Siapa pun anak manusia yang wafat dalam keadaan husnul khatimah, meskipun telah tiada, masih “memberikan hidup dan kehidupan” bagi orang lain yang masih hidup. Jejak kebaikan mereka tetap mengalir, menjadi sumber inspirasi dan pengingat bagi umat sepanjang zaman.
Keberkahan itu juga hadir di negeri ini. Ketika mengikuti Gathering Disway.id ke-3 di Surabaya, awak berkesempatan berziarah ke maqam Sunan Ampel, salah seorang dari Wali Songo. Seperti maqam para wali lainnya, tempat ini selalu ramai diziarahi umat.
Para peziarah datang dari berbagai daerah. Mereka beribadah membaca Surat Yasin, bershalawat kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW, serta memanjatkan doa. Terkadang rombongan datang dari kelompok majelis taklim, pengajian, bahkan dari provinsi jauh seperti Kalimantan.
Alhamdulillah, ketika bertugas ke Iran pada tahun 2009, sesaat setelah turun dari bandara kami langsung berziarah ke maqam Ruhollah Khomeini. Di sana bersua dengan peziarah dari berbagai negara.
Maqama cukup megah dan sangat terawat. Seperti kebiasaan para peziarah, kami pun meninggalkan “rekam jejak” berupa sentuhan tangan ketika mengusap beberapa bagian maqam sambil berdoa memohon kebaikan dan keselamatan bagi kita semua.
InsyaAllah kami sekeluarga juga akan berziarah ke maqam Ayahanda, Ibunda, serta Uni Husna dan Uni Nurhayati di TPU Bogor. Ziarah kubur di bulan Ramadan menjelang Hari Kemenangan Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi pengingat akan hakikat kehidupan.
Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan beribadah dengan khusyuk Berbagi sedekah dan infak kepada saudara-saudara kita sebagai wujud syukur atas nikmat Iman, Islam, dan Kesehatan.
Aamiin Ya Rabbal Alamiin
- Salamsalaman
- BHP, Ramadan Hari ke-19
- TD



