3 Kalimat Sakti Motivasi Literasi
Perintah pertama dalam Al-Qur’an melalui wahyu kepada Nabi Muhammad adalah Iqra’—bacalah (QS. Al-‘Alaq: 1). Ini bukan sekadar ajakan membaca teks, tetapi membaca kehidupan, alam, dan diri sendiri. Dari sinilah lahir makna kalimat pertama: “Membacalah maka anda akan mengenal dunia.” Membaca membuka jendela pengetahuan, memperluas wawasan, dan menuntun manusia memahami hakikat ciptaan Allah SWT.
Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW menegaskan keutamaan ilmu. Salah satunya: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah). Membaca menjadi pintu masuk ilmu. Tanpa membaca, seseorang akan sempit pandangannya. Maka generasi muda perlu menjadikan membaca sebagai kebiasaan, karena dari situlah mereka mengenal dunia, baik dunia nyata maupun dunia pemikiran.
- Pergi ke taman memetik melati,
Harumnya semerbak sampai ke desa.
Mari membaca, menulis sepenuh hati,
Agar dikenang sepanjang masa.

Kalimat kedua, “Menulislah maka anda akan dikenal dunia,” memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qalam: 1, “Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” Pena adalah simbol peradaban. Menulis adalah cara manusia mengabadikan pikiran, gagasan, dan pengalaman. Tanpa tulisan, sejarah akan hilang ditelan zaman.
Para ulama dan cendekiawan besar memahami kekuatan tulisan. Imam Al-Ghazali misalnya, dikenal hingga kini karena karya-karyanya yang monumental. Begitu pula pujangga dunia seperti William Shakespeare, yang dikenal lintas generasi melalui tulisannya. Menulis menjadikan seseorang “hadir” bahkan setelah jasadnya tiada.
Kalimat ketiga, “Terbitkan buku maka anda akan dikenang dunia,” adalah puncak dari proses literasi. Dalam Islam dikenal konsep amal jariyah, yaitu amal yang terus mengalir pahalanya. Rasulullah SAW bersabda: “Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara… salah satunya ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim). Buku adalah bentuk nyata ilmu yang terus memberi manfaat.
Para pujangga Nusantara juga menegaskan pentingnya karya tulis. Pramoedya Ananta Toer pernah menyatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat.” Pesan ini selaras dengan semangat literasi: menulis bukan sekadar aktivitas, tetapi bentuk keberanian meninggalkan jejak.
Maka, wahai generasi muda, jadikan membaca sebagai jalan mengenal dunia, menulis sebagai jalan dikenal dunia, dan menerbitkan karya sebagai jalan dikenang dunia. Literasi bukan sekadar keterampilan, tetapi peradaban. Siapa yang membaca, ia hidup dalam banyak dunia. Siapa yang menulis, ia hidup lebih lama. Dan siapa yang menerbitkan karya, ia akan abadi dalam ingatan zaman.
- Salam Literasi
- BHP, 25 Februari 2026
- Thamrin Dahlan










