Tahun 1964 Ujian Sekolah Rakyat (SR) Tempino ke Bajubang
Membaca kembali catatan lama ini, terasa hampir mustahil: seorang anak desa kecil di Tempino, Jambi, bisa menapaki karier hingga ke ibu kota. Namun begitulah takdir bekerja. Semua terjadi atas karunia Allah SWT, berkat doa tulus Almarhumah Ibunda Hj. Kamsiah binti Sutan Mahmud dan Almarhum Ayahanda Haji Raden Dahlan bin Affan.
Kenangan itu kembali mengalir ke tahun 1964, saat kami—murid kelas enam Sekolah Rakyat Tempino—bersiap menghadapi ujian akhir. Entah sudah disebut ujian nasional atau belum, yang jelas kami harus meninggalkan kampung. Tempino, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Jambi, belum berhak menyelenggarakan ujian sendiri. Maka kami “diungsikan” ke Bajubang, kota minyak yang lebih maju di kawasan itu.
- Pergi ke ladang memetik rotan,
Rotan diraut jadi anyaman.
Walau sepatu pinjaman kakak dikenakan,
Langkah kecil menuju masa depan.

Berkunjung ke SR Tempino bersama Uni Hj Husna Dahlan
Pesan Pak Guru sederhana namun tegas,
“Kalian akan menginap tiga malam di Bajubang. Siapkan buku, pensil, pakaian… dan sepatu.”
Sepatu?
Bagi kami, anak-anak kampung yang terbiasa bertelanjang kaki, sepatu adalah kemewahan. Hanya satu dua kawan yang memilikinya. Selebihnya, termasuk awak, ceker ayam—baik ke sekolah maupun bermain.
Dengan ragu, sehari sebelum berangkat awak memberanikan diri berkata kepada Emak:
“Mak, aku disuruh pakai sepatu ke Bajubang…”
Jawaban Emak spontan, bernada kesal namun menyimpan getir:
“Mano ado sipatu angkau!”
Namun di balik itu, kasih sayang seorang ibu tak pernah kehabisan akal. Emak lalu menyodorkan sepatu milik kakak, Syahrir. Kebesaran tentu saja. Tapi Emak punya cara: sepotong kain dimasukkan ke ujung sepatu agar pas dipakai.
“Nah, pakai sipatu iko. Lai sasuai kan?”
Sepatu itu tetap longgar—lobok, kata orang kampung. Tapi cukup untuk berjalan, asal jangan berlari. Sebab bisa saja terlepas, melayang meninggalkan kaki kecil ini.
Tiga minggu sebelum ujian, kami sudah digembleng. Sekolah pagi dilanjutkan sore hari. Tambahan pelajaran dari Kepala Sekolah langsung—mengulang ilmu bumi dan berhitung. Banyak kawan mengeluh karena waktu bermain berkurang. Kolam Pak Kasim yang biasanya ramai, kini sepi.
Namun jauh di dalam hati, ada kegelisahan yang tak terucap. Ujian menjadi momok bagi anak-anak usia dua belas tahun. Bahkan kadang terbawa mimpi buruk di malam hari.
“Mimpi angkau rupanya… indak mambaco doa,” tegur Emak.
Hari keberangkatan tiba.
Di halaman pertemuan Pertamina Tempino, kami berkumpul dengan buntelan kain—berisi pakaian dan buku. Tak ada koper, tak ada tas mewah. Hanya sarung yang diikat rapi.
Satu per satu kami naik ke atas truk. Duduk di bangku kayu saling berhadapan. Beberapa kawan perempuan menangis. Para ibu ikut terisak, seperti melepas anak pergi jauh.
Itulah pertama kalinya kami meninggalkan kampung.
Di antara hiruk pikuk itu, awak melihat Emak menadahkan tangan. Berdoa lirih—memohon keselamatan perjalanan dan kelulusan anaknya.
Perjalanan menuju Bajubang penuh guncangan. Jalan berlubang membuat truk terayun-ayun. Anak-anak yang jarang naik kendaraan mulai mabuk. Beberapa muntah sepanjang jalan. Tapi daya tahan anak kampung akhirnya menang.
- Anak kampung meniti jalan,
Berbekal doa penuh harapan.
Tempino jadi saksi perjalanan,
Mengukir takdir penuh kebanggaan
Setiba di Bajubang, kami menginap di perumahan Pertamina. Kasur empuk dan bantal besar terbentang di lantai—sesuatu yang jarang kami rasakan. Anak-anak Tempino pun larut dalam kegembiraan: berguling, meloncat, seolah menemukan dunia baru.
Hingga Pak Guru mengingatkan,
“Tidur yang nyenyak. Tidak usah belajar lagi. Kalian pasti bisa.”
Keesokan harinya, kami berbaris rapi menuju ruang ujian. Semua memakai sepatu—termasuk awak, dengan sepatu kebesaran.
Jantung berdegup kencang.
Namun pesan Emak terngiang:
“Baca Al-Fatihah… shalawat… minta pertolongan Allah.”
Pengawas ujian berjalan berkeliling. Salah satu dari mereka mendekat dan bertanya,
“Punya pensil?”
Dengan gugup awak menjawab,
“Pu… pu… punya, Pak.”
Alhamdulillah, satu per satu soal dapat dijawab. Dua hari ujian terasa seperti perjalanan panjang. Hingga akhirnya, kabar itu datang:
Kami lulus. Semua.
Tempino pun bersuka cita. Kepala Kampung mengadakan makan bersama. Di rumah, Emak memasak gulai ayam jantan dengan nenas—hidangan istimewa sebagai tanda syukur.
Dan untuk pertama kalinya, awak mendengar harapan besar itu:
“Waang harus sekolah ke Jambi… lanjut sampai sarjana.”
Kalimat sederhana yang kelak mengubah arah hidup.
Dari sepatu kebesaran itulah langkah kecil dimulai.
Langkah yang akhirnya membawa seorang “boedak Tempino” menapaki perjalanan panjang—hingga mencapai puncak karier sebagai Komisaris Besar Polisi (Purn), mengabdi di Badan Narkotika Nasional.
Mustahil? Tidak.
Karena doa orang tua, kerja keras, dan keyakinan—mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Kisah ini bukan sekadar nostalgia. Ini adalah pengingat bagi kita semua—alumni dan keluarga besar almamater Sekolah Rakyat Tempino Jambi—bahwa dari kampung sederhana pun, mimpi besar dapat tumbuh dan menjadi nyata.

- Salam Literasi
- Thamrin Dahlan
.











