Makna Azan: Memperbaharui Syahadat, Menghidupkan Shalawat

Terbaru10 Dilihat

Makna Azan: Memperbaharui Syahadat, Menghidupkan Shalawat

Bismillahirrahmanirrahim.

Sabtu, 12 Muharram 1448 Hijriah, saya memperoleh hikmah dari perbincangan dengan seorang teman sekampung. Kami berbicara tentang azan, panggilan suci yang lima kali sehari menggema mengajak manusia menuju kemenangan.

Beliau mengingatkan bahwa di dalam azan terdapat dua kalimat agung: syahadat dan ajakan untuk mengikuti Rasulullah ﷺ. Saat itulah saya merenung, ternyata setiap kali mendengar dan menjawab azan, sesungguhnya kita sedang memperbaharui ikrar keimanan kepada Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu…” (QS. Al-Hujurat: 15). Syahadat bukan sekadar diucapkan sekali seumur hidup, tetapi terus dipelihara dengan lisan, hati, dan amal. Ketika muazin mengumandangkan, “Asyhadu an laa ilaaha illallah” dan “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,” seorang mukmin dianjurkan menjawabnya.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda agar kita mengucapkan sebagaimana yang diucapkan muazin. Ini menjadi momentum memperteguh iman sekaligus memohon agar Allah mengampuni kelalaian dan dosa-dosa yang mengaburkan cahaya tauhid.

Setelah azan selesai, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita membaca shalawat dan berdoa memohonkan al-Wasilah bagi beliau. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa siapa yang bershalawat kepada Nabi setelah azan dan memohonkan al-Wasilah, maka ia berhak memperoleh syafaat beliau pada hari kiamat.

Betapa indahnya ajaran Islam. Azan dimulai dengan pengagungan kepada Allah, di tengahnya terdapat syahadat, dan setelahnya dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ. Tauhid dan kecintaan kepada Nabi berjalan beriringan.

Makna yang sama juga kita rasakan dalam shalat. Pada setiap tasyahud, kita kembali mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ dan keluarga beliau. Lima waktu shalat berarti berkali-kali setiap hari seorang muslim memperbaharui janji imannya.

Pengulangan itu bukan karena Allah memerlukan pengakuan kita, melainkan karena manusialah yang sering lupa, lalai, dan membutuhkan penyucian hati. Dengan terus mengucapkan syahadat dan shalawat, semoga hati menjadi lembut, dosa diampuni, dan iman semakin kokoh.

Maka kini saya memandang azan dengan cara yang berbeda. Azan bukan sekadar penanda waktu shalat, melainkan panggilan kasih sayang Allah agar hamba-Nya kembali mengingat-Nya, memperbaharui syahadat, memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ, lalu berdiri menghadap-Nya dalam shalat.

Semoga setiap kali azan berkumandang, hati kita segera menjawab panggilan itu dengan penuh kerinduan, sehingga kehidupan menjadi lebih tenang, ibadah semakin khusyuk, dan kita wafat dalam keadaan membawa kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Tinggalkan Balasan