Air Beriak Tanda Tak Dalam

Peribahasa Melayu

Air Beriak Tanda Tak Dalam

Peribahasa “Air Beriak Tanda Tak Dalam” mengajarkan bahwa orang yang terlalu banyak berbicara, gemar menyombongkan diri, atau selalu ingin tampil paling tahu, sering kali justru memiliki pengetahuan yang dangkal.

Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu biasanya bersikap rendah hati, lebih banyak mendengar, dan berbicara pada saat yang tepat.

Peribahasa ini mengingatkan kita agar tidak menilai seseorang dari banyaknya ucapan, melainkan dari kualitas ilmu, akhlak, dan perbuatannya.

Contoh dalam Kehidupan Bermasyarakat Dunia Pendidikan. Seorang siswa selalu mendominasi diskusi dan merasa paling pintar. Namun, ketika diberi tugas atau diminta menjelaskan lebih mendalam, ia tidak mampu memberikan jawaban yang memadai.

Sikap rendah hati jauh lebih berharga daripada kesombongan.

Di Lingkungan Kerja seorang pegawai gemar mengkritik hasil kerja rekan-rekannya. Akan tetapi, ketika diberi tanggung jawab yang sama, hasil pekerjaannya tidak lebih baik. Kemampuan dibuktikan melalui karya, bukan sekadar kata-kata.

Di Media Sosial ada orang yang mudah mengomentari berbagai persoalan seolah-olah memahami semuanya. Padahal, informasi yang dimilikinya belum tentu benar. Bijak bermedia sosial berarti memeriksa fakta sebelum berbicara.

Dalam Kepemimpinan ketika pemimpin yang baik tidak banyak berjanji. Ia lebih memilih bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Prestasi adalah bahasa yang paling meyakinkan.

Refleksi. Ilmu yang sejati melahirkan kerendahan hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari. Karena itu, marilah kita lebih banyak belajar, mendengar, dan berkarya daripada sibuk membanggakan diri.

“Padi semakin berisi semakin merunduk; manusia semakin berilmu semakin rendah hati.”

Pantun Melayu

  • Air jernih mengalir tenang,
  • Ikan bermain di tepi laman.
  • Jangan riuh merasa menang,
  • Rendah hati meninggikan iman.

Pesan Moral

Berbicaralah seperlunya, berkaryalah sebanyak-banyaknya. Jangan mencari penghormatan melalui ucapan, tetapi raihlah penghargaan melalui ilmu, akhlak, dan perbuatan yang bermanfaat.

Motto Seri Peribahasa Melayu Nusantara

“Peribahasa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan warisan kebijaksanaan yang telah teruji oleh zaman. Mari kita jaga, kita pahami, dan kita wariskan kepada generasi penerus.”

  • BHp Juli 2026
  • Thamrin Dahlan – YPTD
  • Seri Peribahasa Melayu Nusantara
  • Semangat Literasi • Semangat Berbagi

 

 

Tinggalkan Balasan