Besar Pasak Daripada Tiang
Peribahasa Melayu “Besar pasak daripada tiang” merupakan warisan kebijaksanaan nenek moyang yang tetap relevan sepanjang zaman. Pasak adalah penyangga yang ditancapkan agar tiang berdiri kokoh. Namun, apabila pasak lebih besar daripada tiangnya, bangunan menjadi tidak seimbang.
Dalam kehidupan, peribahasa ini mengandung pesan agar pengeluaran tidak melebihi pendapatan. Kesederhanaan bukanlah tanda kekurangan, melainkan cermin kebijaksanaan dalam mengelola rezeki yang Allah SWT titipkan kepada setiap insan.
Di dalam rumah tangga, nasihat ini menjadi fondasi ekonomi keluarga. Tidak sedikit keluarga yang awalnya hidup berkecukupan, kemudian menghadapi kesulitan karena gaya hidup lebih tinggi daripada kemampuan.
Keinginan membeli barang bermerek, berganti telepon genggam setiap ada model baru, atau memaksakan liburan dengan biaya dari pinjaman sering kali menjadi awal munculnya masalah keuangan. Pendapatan tetap, tetapi pengeluaran terus bertambah. Akibatnya, ketenteraman keluarga terganggu oleh beban utang yang semakin berat.
Dalam dunia usaha, peribahasa ini juga menjadi pedoman penting. Seorang pedagang yang memperoleh keuntungan belum tentu menikmati hasil usahanya apabila biaya operasional terus membengkak. Menyewa kantor yang terlalu mewah, membeli kendaraan operasional yang belum diperlukan, atau menghamburkan dana untuk hal-hal yang tidak produktif dapat menggerus keuntungan.
Sebaliknya, pengusaha yang hidup hemat dan cermat biasanya lebih mampu bertahan menghadapi perubahan ekonomi. Mereka memahami bahwa keuntungan bukan hanya soal omzet besar, tetapi juga kemampuan mengendalikan pengeluaran.
Kita sering menjumpai contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ada seseorang yang menerima gaji pada awal bulan, tetapi dalam dua minggu uangnya sudah habis karena terlalu sering makan di restoran, berbelanja tanpa daftar kebutuhan, dan tergoda berbagai promo di media sosial.
Akhirnya, menjelang akhir bulan ia terpaksa meminjam uang kepada teman atau menggunakan fasilitas pinjaman daring. Kondisi seperti ini sesungguhnya telah diingatkan sejak dahulu oleh leluhur melalui peribahasa “Besar pasak daripada tiang.”
Sebaliknya, banyak pula keluarga sederhana yang hidup tenteram karena memegang teguh prinsip hidup sesuai kemampuan. Mereka membuat anggaran belanja, menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan dan sedekah, serta mendahulukan kebutuhan daripada keinginan. Anak-anak belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tetapi dari rasa syukur, kecukupan, dan kebersamaan.
Inilah contoh nyata bahwa hidup hemat bukan berarti pelit, melainkan bijaksana dalam menggunakan nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT.
Pada era digital saat ini, godaan untuk hidup boros semakin besar. Belanja cukup melalui sentuhan jari, pembayaran dapat dilakukan tanpa uang tunai, sementara berbagai promosi seolah mendorong orang membeli barang yang sebenarnya belum diperlukan. Oleh karena itu, pesan peribahasa Melayu ini justru semakin penting untuk dihidupkan kembali. Menahan diri sebelum membeli, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta membiasakan menabung merupakan langkah sederhana yang akan membawa ketenangan di masa depan.
Warisan budaya tidak hanya berupa bangunan, naskah kuno, atau benda bersejarah, tetapi juga petuah bijak yang diwariskan melalui peribahasa. “Besar pasak daripada tiang” adalah nasihat ekonomi yang sederhana, namun sarat makna.
Apabila diamalkan dalam keluarga, dunia usaha, maupun kehidupan bermasyarakat, kita akan terhindar dari perilaku konsumtif dan pemborosan. Semoga masyarakat Indonesia terus menghidupkan kembali nilai-nilai luhur warisan nenek moyang, sehingga tercipta kehidupan yang lebih sejahtera, penuh syukur, dan berkah.
Eemoga Bermanfaat
Salam Literasi.
- BHP, 3 Juli 2026
- 18 Muharram 1448 Hijriah
- Thamrin Dahlan bersama ChatGPT









