
Makna Hakiki Peribahasa Jauh Panggang Dari Api
Ungkapan Jauh Panggang Dari Api adalah peribahasa yang menggambarkan adanya ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan.
Secara harfiah, memanggang membutuhkan api agar matang. Jika panggangannya jauh dari api, maka proses itu tidak akan pernah berhasil.
Dari sini tersirat makna bahwa suatu rencana, ucapan, atau harapan yang tidak didukung oleh tindakan nyata atau kondisi yang memadai akan berujung pada kegagalan atau hasil yang tidak sesuai.
Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini sering muncul ketika seseorang memiliki cita-cita besar, namun tidak diiringi dengan usaha yang sepadan.
Misalnya, seseorang ingin menjadi penulis terkenal, tetapi tidak pernah meluangkan waktu untuk membaca dan menulis secara konsisten. Keinginan itu hanya berhenti pada angan-angan.
Di sinilah terlihat jelas bahwa harapan tersebut “jauh panggang dari api”—tidak ada kedekatan antara tujuan dan proses yang dijalani.
Dalam kehidupan bermasyarakat, ungkapan ini juga relevan dalam konteks kepemimpinan dan pelayanan publik. Seorang pemimpin mungkin berjanji akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi kebijakan yang diambil justru tidak menyentuh kebutuhan rakyat.
Program-program yang dicanangkan tidak tepat sasaran. Akibatnya, masyarakat merasakan ketimpangan antara janji dan realitas. Inilah contoh nyata ketika ucapan tidak sejalan dengan tindakan.
Contoh lain dapat dilihat dalam hubungan sosial antarindividu. Seseorang mungkin mengaku peduli terhadap sesama, tetapi tidak pernah hadir saat dibutuhkan. Ia pandai berkata-kata, namun minim empati dalam tindakan.
Dalam situasi seperti ini, kehangatan hubungan menjadi hambar, karena nilai kepedulian yang diucapkan tidak diwujudkan dalam perilaku nyata.
Lagi-lagi, kondisi ini mencerminkan makna peribahasa tersebut.
Sebagai refleksi, ungkapan “jauh panggang dari api” mengajarkan pentingnya keselarasan antara niat, ucapan, dan tindakan.
Kehidupan yang berkualitas bukan hanya dibangun dari rencana besar, tetapi dari langkah kecil yang konsisten dan nyata. Ketika harapan didekatkan dengan usaha, maka “panggang” akan benar-benar matang oleh “api”.
Di situlah kebijaksanaan hidup hadir—menghubungkan mimpi dengan kerja nyata demi kemaslahatan bersama.
Semoga Bermanfaat
Salaman Salamun
Kolaborasi TD & ChatGpt
BHP Jum’at 3 Juli 2026
18 Muharram 1448 H





