Suatu Kamis Sore Bersama Sesama Mahluk Tuhan Yang Maha Esa
Kamis Sore Menjelang Maghrib langkah kaki terasa ringan setelah menuntaskan olahraga berjalan kaki selama enam puluh menit mengelilingi Perumahan Bumi Harapan Permai. Duduk santai di beranda rumah menjadi penutup yang sempurna. Angin berembus lembut, dedaunan bergoyang perlahan, sementara bunga bougenville bermekaran memancarkan warna merah muda yang menyejukkan mata.
Hati pun larut dalam rasa syukur atas karunia Allah SWT yang menghadirkan keindahan tanpa harus dibayar dengan apa pun.
Di halaman rumah, beberapa ekor burung pipit tampak menikmati butiran makanan yang tersedia. Ajaibnya, mereka tidak terusik meski jarak kami hanya sekitar lima meter. Barangkali mereka merasakan bahwa manusia yang duduk di beranda bukanlah ancaman, melainkan sahabat yang ikut menikmati damainya sore.
Sesekali terdengar kicauan merdu bersahut-sahutan, seolah menjadi zikir alam yang mengiringi detik-detik menjelang azan Maghrib.
Di atas rimbunnya bunga bougenville, seekor kupu-kupu menari dari kelopak ke kelopak. Dengan sayapnya yang indah, ia melaksanakan tugas yang telah ditetapkan Sang Pencipta: membantu penyerbukan agar kehidupan terus berlanjut.
Burung, kupu-kupu, pepohonan, bunga, dan manusia berada dalam satu harmoni ciptaan Allah. Masing-masing menjalankan perannya tanpa saling mengganggu. Subhanallah, betapa sempurnanya aturan Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam semesta.
Suasana damai itu mengajarkan bahwa makhluk-makhluk Allah SWT sesungguhnya hidup dalam kedamaian ketika manusia menjaga alam dengan kasih sayang. Kicauan burung bukan sekadar suara, melainkan nyanyian syukur kepada Rabb semesta alam.
Semilir angin, mekarnya bunga, dan hadirnya kupu-kupu adalah ayat-ayat kauniyah yang mengajak manusia untuk berpikir, merenung, lalu semakin mengenal kebesaran-Nya. Benarlah firman Allah,
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Menjelang matahari tenggelam, hati ini hanya mampu berucap,
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
Keindahan alam bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi untuk direnungi sebagai tanda kebesaran Allah SWT.
Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang pandai bersyukur, mencintai sesama makhluk, menjaga kelestarian alam, dan menjadikan setiap hembusan napas sebagai kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah SWT
BHP 2 Juli 2026
Thamrin Dahlan








