Tata Krama Memberi dan Menjawab Salam

Tata Krama Memberi dan Menjawab Salam

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Taklim Senin 10 Agustus 2026 bersama Habib Alwi Alaydrus bada’ shalat Subuh di Mushola Nurul Islam Bojong Kelurahan Rambutan Jakarta Timur  Membahas Bab VI dalam Kitab Riyadhus Shalihin tentang Tata Krama Menberi dan Menjawab Salam.

“Assalamu’alaikum” mengandung makna permohonan kepada Allah SWT agar saudara kita diberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan. Salam bukan sekadar sapaan, melainkan ibadah yang memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, maka balaslah dengan yang lebih baik atau yang serupa.”

(QS. An-Nisa: 86).

Ayat ini menegaskan kewajiban menjawab salam dengan lebih baik, sebagai bentuk penghormatan dan balasan atas doa yang diberikan.

Selain itu, Allah SWT juga mengajarkan adab salam dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An-Nur: 27).

Ayat ini menunjukkan bahwa salam adalah bagian dari etika sosial yang mulia dalam Islam.

Rasulullah SAW bersabda:

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Hadits menegaskan bahwa salam menjadi sarana menumbuhkan kasih sayang antar sesama.

Dalam hadits lain disebutkan:

“Berikanlah makan, sebarkanlah salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menunjukkan bahwa salam tidak terbatas pada orang dekat saja, tetapi juga kepada siapa saja sebagai wujud kepedulian dan persaudaraan.

Adab salam juga dijelaskan oleh Rasulullah SAW, bahwa yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak (HR. Bukhari dan Muslim). Mengajarkan kerendahan hati dan tata krama yang mempererat hubungan sosial dalam masyarakat.

Akhirnya, melalui pembelajaran Bab Salam dalam Riyadhus Shalihin, kita diajak untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membiasakan salam, kita menebarkan doa, mempererat silaturahmi, dan menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.

Semoga kita termasuk orang-orang yang istiqamah mengamalkan ajaran mulia ini.

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Salam Takziem
BHP, 10 Agustus 2026
Thamrin Dahlan

Tinggalkan Balasan