Damai di Halaman Pagi – Kisah Pipit dan Perkutut

Damai di Halaman Pagi – Kisah Pipit dan Perkutut

 

Subhanallah. Sabtu, 26 September 2026, pukul 06.59 menjadi pagi yang menggembirakan bagi saya. Pagi yang cerah di depan halaman rumah menyuguhkan pemandangan yang bagi orang lain mungkin biasa, namun bagi saya istimewa dan boleh dikatakan langka.

Sudah bertahun-tahun saya memiliki kebiasaan kecil: menabur makanan untuk burung pipit di pelataran rumah. Mereka datang silih berganti, mencicit riang, mematuk-matuk dengan gesit. Kebiasaan sederhana ini telah menjadi bagian dari doa pagi saya, sebuah ikatan batin antara manusia dan makhluk kecil ciptaan-Nya yang setia.

Namun pagi ini berbeda. Di antara kerumunan pipit yang lincah itu, ikut bergabung dua ekor burung perkutut. Tubuhnya lebih besar, langkahnya lebih tenang, dengan suara anggungannya yang khas dan dalam. Dokumentasi yang saya abadikan memperlihatkan momen itu dengan jelas — pipit dan perkutut menikmati hidangan yang sama, mematuk dengan gembira, tanpa saling terusik, tanpa saling mengusir.

Di sinilah pelajaran humaniora itu hadir. Dua jenis burung dengan ukuran badan yang berbeda, dengan suara dan kebiasaan yang berbeda, ternyata bisa kompak, serasi, dan damai dalam satu hamparan rezeki. Tidak ada yang merasa lebih besar, tidak ada yang merasa tersisih karena kecil. Alam mengajarkan kepada kita tentang toleransi yang paling hakiki — bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk bermusuhan, melainkan alasan untuk saling melengkapi.

Saya bersyukur memperoleh kisah nyata ini. Dari sepetak halaman di Jakarta, saya kembali diingatkan tentang hidup dan kehidupan makhluk di muka bumi. Jika burung-burung saja mampu berbagi dengan damai, betapa seharusnya kita sebagai manusia mampu menjaga kerukunan itu dengan lebih bijak. Salam damai sentosa untuk kita semua.

  • BHP 260926
    Thamrin Dahlan

Tinggalkan Balasan