
Bu Oxa Penyayang Kucing
Sudah tiga bulan terakhir ini, setiap kali berolahraga jalan kaki, saya selalu membawa makanan kucing. Ada tas kecil khusus berisi makanan, cukup untuk sekitar tujuh ekor kucing. Tidak banyak, tapi cukup untuk berbagi dengan mereka yang saya temui di jalan.
Niatnya sederhana—ingin berbagi, terutama kepada kucing-kucing liar yang tidak memiliki tuan. Di sepanjang jalan, sering saya jumpai kucing-kucing yang berkeliaran, tampak lapar dan kesepian. Saat berpapasan, saya sisihkan satu genggam makanan. Kalau ada lebih dari satu ekor, saya sesuaikan porsinya sebaik mungkin.
Kebiasaan ini muncul karena terinspirasi dari dua perempuan penyayang kucing. Yang pertama adalah Mbak Shelya. Setiap pagi setelah Subuh, ia berkeliling Kelurahan Dukuh, Kramatjati, Jakarta Timur dengan sepeda motor. Ia membawa makanan dan meletakkannya di beberapa titik, termasuk di depan rumah tetangga kami. Aktivitas ini sudah ia lakukan bertahun-tahun. Bahkan, ia sering menitipkan makanan kepada kami:
“Untuk sore ya, Pak Haji.”

Satu lagi, Ibu OXA saya berjumpa di sekitar Waduk Dukuh, tempat saya biasa berolahraga bersama istri. IBu Oxa berhenti tepat di dekat tempat sampah, mengeluarkan makanan dalam jumlah banyak. Kucing-kucing pun berkerumun—mereka tampak sudah terbiasa dan seolah menunggu. Satu hal menjadi perhatian makanan yang dibawa bukan sembarangan: ada makanan kering, basah, bahkan makanan kaleng.
Saya menyapa, dan dengan ramah Bu Oxa menjawab:
“Maaf, Pak. Beberapa hari kemarin saya tugas ke luar kota. Sekarang Alhamdulillah bisa keliling lagi kasih makan kucing.”

Beliau datang dengan sedan putih dan mampir ke beberapa titik. Melihat itu, saya merasa semangat saya ikut tumbuh. Ternyata cukup banyak pecinta kucing di sekitar lingkungan ini.
Namun, terus terang saya merasa kecil dibandingkan mereka. Apa yang saya lakukan terasa belum seberapa.
Lebih dari Sekadar Suka

Penyayang kucing adalah sebutan bagi mereka yang memiliki kasih sayang tulus dan ikatan emosional kuat terhadap kucing. Tidak sekadar suka, tapi benar-benar memahami tingkah laku kucing, sabar menghadapi karakternya yang unik, dan merawat dengan sepenuh hati.
Dalam bahasa Inggris, mereka disebut ailurophile.
Fanny Ainur Rahmawati menulis di Kompasiana:
“Cat lovers bukan sekadar pecinta kucing, ini gaya hidup yang penuh kasih.”
Bagi sebagian orang, kucing mungkin hanya hewan peliharaan biasa. Tapi bagi cat lovers sejati, kucing adalah bagian dari keluarga. Bahkan, tak sedikit yang menganggap mereka seperti anak sendiri.
Mereka bukan hanya makhluk lucu berbulu. Kucing bisa menjadi teman setia, penghibur saat sedih, penenang saat lelah. Hanya dengan lirikan matanya, atau dengkur lembut di kaki, suasana hati bisa berubah.
Gaya Hidup dan Komunitas
Fenomena pecinta kucing bukan hal baru, tapi dalam beberapa tahun terakhir, popularitasnya meningkat. Media sosial dipenuhi video kucing—dari yang lucu sampai yang mengharukan. Komunitas adopsi kucing bermunculan. Toko-toko online ramai menjual aksesori dan makanan kucing. Tapi yang paling penting dari semua itu: kasih sayang tanpa pamrih.
Kucing punya cara unik mencintai manusia. Tidak se-ekspresif anjing, tapi penuh makna. Saat seekor kucing memilih tidur di pangkuan, atau mengeong lembut menyambut kita pulang—itu bentuk kepercayaan. Dan itu tak bisa dipaksakan.
Dari mereka, kita belajar kesabaran. Hidup lebih pelan. Ada istilah yang disukai para pecinta kucing:
“Live like a cat.”
Hidup seperti kucing: santai, menikmati pagi, dan tidak panik menghadapi dunia.
Gerakan Sosial Sunyi

Tas Pimpong wara hitam berfungsi pula untuk membawa makanan kucing
Komunitas cat lovers juga aktif di lapangan. Mereka menyelamatkan kucing jalanan, menggalang donasi untuk yang sakit, hingga mengadakan program adopsi. Gerakan “adopt, don’t shop” terus digaungkan: ajakan untuk mengadopsi kucing liar, bukan membeli yang ber-ras mahal.
Tanpa banyak sorotan, mereka bekerja dalam senyap. Menyelamatkan satu ekor kucing mungkin tidak mengubah dunia, tapi bagi kucing itu, dunianya berubah total.
Pesan Kemanusiaan dari Hadis
Dalam ajaran Islam, kucing mendapat tempat istimewa. Kucing tidak dianggap najis. Bahkan, ada hadis tentang seorang wanita yang masuk neraka karena menyiksa kucing, dan sebaliknya, ada pahala besar bagi mereka yang merawat dan menyayangi.
Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar meriwayatkan bagaimana Rasulullah saw. memperlakukan kucing dengan penuh kasih.
Ini jadi pengingat bahwa menyayangi hewan bukan hanya soal empati, tapi juga bagian dari ibadah.
Tas olahraga saya—tas kecil warna hitam merek Pimpong—kini punya fungsi tambahan: membawa makanan kucing.
Dari langkah-langkah kecil ini, saya belajar banyak. Tentang kepedulian, tentang cinta yang tak perlu bahasa, dan tentang memberi tanpa berharap kembali.
Semoga kita semua bisa belajar dari para penyayang kucing:
Mereka yang diam-diam membuat dunia ini lebih hangat.
- Salam salaman,
BHp – 5 Oktober 2025
TD












