Musuh Dalam Selimut

Peribahasa Melayu dalam Panggung Pemerintahan Negara

Musuh Dalam Selimut

Peribahasa Melayu dalam Panggung Pemerintahan Negara

 

 Penasaran: Menggugah Tanya

Pernahkah kita bertanya, mengapa orang Melayu menyebut pengkhianat terdalam itu sebagai “Musuh Dalam Selimut”? Bukan musuh di seberang lautan, bukan lawan di gelanggang, tapi yang tidur seranjang, makan sepiring, dan tahu di mana letak leher kita. Selimut itu lambang kehangatan, kepercayaan, dan rumah.

  • Pergi ke pasar membeli selimut,
    Selimut dibeli dari Siantan.
    Kalau di dalam sudah ada musuh terikut,
    Bagaimana negeri mau aman 

Ketika musuh sudah masuk ke dalam selimut, artinya pagar rumah sudah jebol dari dalam. Inilah yang paling ditakuti nenek moyang kita, karena musuh dari luar masih bisa kita intai, tapi musuh dari dalam selimut, ia tahu kapan kita lengah.

Penakawan: Membuka Hikmah dengan Canda Bijak

Kata orang bijak di Tepi Batanghari, kalau harimau di hutan masih bisa kita elak, tapi kalau tikus di dalam beras, habislah beras itu dari dalam. Begitulah kerja musuh dalam selimut. Ia tidak membawa parang, ia membawa senyum. Ia tidak berteriak, ia berbisik.

  • Kalau ada jarum yang patah,
    Jangan disimpan di dalam peti.
    Kalau ada musuh di rumah amanah,
    Segera singkir sebelum merugi negeri.

Dalam silaturahmi kita, kita sering lupa, yang paling berbahaya bukan yang memaki kita di depan, tapi yang memuji kita berlebihan di belakang sambil menggali lubang. Penakawan itu mengajarkan, jangan cepat memberi kunci rumah kepada orang yang baru kemarin kita kenal.

Penasehat: Konteks Pemerintahan Negara

Inilah yang menjadi penyakit paling kronis dalam pemerintahan negara. Musuh dalam selimut di birokrasi adalah pejabat yang disumpah untuk melayani rakyat, tapi diam-diam melayani kepentingannya sendiri. Ia ada di rapat, ia angguk-angguk, tapi berkas sengaja ia lambatkan. Ia memegang stempel negara, tapi stempel itu ia gunakan untuk memeras, bukan mempermudah.

  • Anak Melayu menenun kain,
    Kain ditenun di tepi perigi.
    Kawan tertawa di depan lain,
    Di belakang ia asah belati.

Negara bisa kuat menghadapi tekanan luar negeri, tapi akan rapuh kalau di dalam kabinet, di dalam kantor, di dalam partai, ada yang menjadi api dalam sekam. Maka kata Melayu: “Jaga pintu sebelum maling masuk, jaga kawan sebelum kawan menikam.”

Penasehat: Obat dan Penawar Melayu

Obatnya bukan curiga buta, Pak. Obatnya adalah sistem yang terang. Melayu mengajarkan Tigo Tungku Sajarangan: ada yang mengawasi, ada yang menasihati, ada yang memutuskan. Transparansi adalah lampu, akuntabilitas adalah kunci.

  • Pergi ke Tempino membawa pena,
    Pena ditoreh di atas kertas  lusuh.
    Biarlah tulisan membela dirinya,
    Buku terbit, amanah takkan runtuh.

Kalau semua keputusan dibuat terang benderang di atas meja, musuh dalam selimut akan kepanasan sendiri, karena ia hanya betah bekerja di tempat gelap. Pemimpin yang bijak bukan yang paling banyak pengawal, tapi yang paling berani membuka jendela, agar rakyat bisa melihat siapa yang bekerja dan siapa yang berpura-pura bekerja.

Hikmah untuk Bangsa

Akhirnya, peribahasa ini mengingatkan kita: musuh terbesar bangsa bukanlah bangsa lain, melainkan kita yang lupa amanah. Selimut itu adalah amanah rakyat. Jangan biarkan di dalam selimut yang hangat itu ada duri yang kita simpan sendiri. Kalau kita ingin negara ini selamat, bersihkan dulu selimut kita dari debu dengki, iri, dan khianat. Karena biarlah tulisan membela dirinya sendiri, dan biarlah sejarah mencatat siapa kawan dan siapa musuh dalam selimut.

Motto PenerbiitYPTD:

  • Buku Muara Tulisan,
  • Buku Mahkota Penulis
  • Ikat Pengetahuan dan Pengalaman dalam Buku
  • Buku abadi  Sepanjang Masa

Salam Literasi

Tiga Pena: Penasaran, Penakawan, Penasehat
Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD)

BHP Jakarta 4 November 2026

TD & Gemini

Tinggalkan Balasan