Menulis di Blog Menjadi Buku #5thDay’s challenge
Kembali ke Sekolah
Senyum tulus yang terpancar di wajah anak-anak itu membawa ingatanku kembali ke waktu awal-awal aku bersama mereka di sekolah itu. Kesan awal yang kutangkap tentang mereka, ada harapan tersirat pada senyum dan tatapan mereka. Suatu ketika, aku sempat menggambarkannya dalam sebuah puisi, tentang mereka, dan tentang guru-guru mereka.
Mereka
Oleh : Tini Sumartini
Mereka
Terlahir di dusun
Terpencil tertinggal terbelakang
Hidup dalam pengasuhan alamnya.
Wajah polos malu-malu
Bersahaja santun bertutur
Tersenyum tulus
Lugu.
Berbinar
Sumringah terpancar
Sambut riang kedatanganku
Menumpah rindukan seorang guru.
Bahagiaku menyulam hari bersama
Menggapai sejumput harap
Masa depan
Mereka.
Cipanas, 16 Desember 2020
Gudasus
Oleh: Tini Sumartini
Di atas terjal berbatu jalanmu
Tegar teruji nyalimu
Terbakar, berkobar
Semangatmu.
Di sana
Di balik belantara
Bocah-bocah menanti
Sentuhan tanganmu tuangkan ilmu.
Kau gapai harapan mereka
Merenda waktu ke waktu
Menjadi insan
Cendekia.
Bulat
Terpahat tekadmu
Dalam pengabdian ikhlasmu
Semoga Tuhan kabulkan pintamu.
Cipanas, 17 Desember 2020
Itulah gambaran tentang kesanku akan anak-anak muridku dan guru-gurunya. Semoga menginspirasi siapa saja, termasuk diriku sendiri. Aku senantiasa bersyukur atas apa yang telah kuraih dalam hidupku sejauh ini, yang menurut penilaianku , lebih beruntung dibandingkan mereka.
Satu hal yang membekas dalam ingatanku tentang mereka, anak-anak muridku, semangatnya yang menggebu. Walaupun memang ada satu dua anak yang motivasi belajarnya rendah, tetapi yang menonjol adalah yang sebagian besar dari mereka. Diatara semangat yang tumbuh kala itu adalah pada program literasi.
Langkah Kecil Program Literasi
Aku melihat banyak sekali buku-buku dari hasil sumbangan, yang diperoleh masa kepala sekolah sebelumku, bertumpuk-tumpuk di atas dua meja yang digabung, di ruang kantor kami. Buku-buku yang cukup bagus dan beragam jenis, oleh karenanya, sayang sekali bila kita tidak memanfaatkannya dengan baik. Maka kami pun membahasnya dalam rapat.
Kami menyetujui program pengadaan rak buku sederhana. Aku paggil tukang kayu di kampung itu. Lalu menyuruh wakil kepala sekolah untuk mencari papan yang dijual dari penduduk setempat. Untungnya tidak susah mendapatkannya. Maka jadilah dua buah rak perpustakaan yang cukup untuk menampung buku-buku tersebut. Akhirnya jadilah perpustakaan mini sekolahku.
Namun sayangnya, anak-anak merasa sungkan untuk meminjam buku atau sekedar membaca buku di perpustakaan, karena tempatnya yang bersatu dengan ruang guru, menghambat kegiatan pinjam- meminjam buku. Di sisi lain ketika istirahat tentu guru-guru tidak nyaman karena terganggu oleh lalu lalang anak yang keluar masuk perpustakaan.
Solusinya kami membuat spot-spot baca di setiap depan kelas, di serambi kelas. Hanya berupa papan sepanjang 1 meter disanggah degan siku-siku besi yang menempel di dinding depan kelas. Lalu kami menysusun buku-buku di atasnya. Petugas yang mengambil buku dari perpustakaan setiap pagi dan menyimpannya kembali sepulang sekolah adalah anak- anak OSIS.
Mereka begitu bersemangat mendukung program baru ini, sehingga setiap jam istirahat terlihat anak-anak asyik membaca sambil duduk lesehan di serambi kelas. Mereka duduk-duduk dengan nyaman di sana , karena bersih. Anak melepas sepatunya dan hanya memakai kaus kaki. agar serambi selalu terjaga kebersihannya.
Mayorias pembaca adalah anak-anak perempuan, karena anak laki-laki lebih memilih main bola di lapangan desa. Untuk itu kami berupaya terus meningkatkan minat baca dengan program wajib literasi. Salah satunya adalah setiap hari senin anak-anak harus menyetorkan resume bacaannya, dengan demikian maka sedikit demi sedikit jumlah peminjam buku semakin bertambah. Mereka menyetorkan resume bacaanya kepada wali kelas masing-masing, agar dapat dipastikan siapa saja yang sudah baik minat membacanya. Itulah langkah kecil untuk membangun literasi di sekolah kecil kami.
(Bersambung)








