Hujan sangat deras. Udara dingin menembus kulit sehingga membuat tubuh Aisha menggigil sudah pukul 20 Dea belum pulang juga. Dea, puteri bungsunya sedang pergi ke Bogor bersama guru dan teman-temannya. Selengkapnya
Cerpen
Kabut Kehidupanku (3)
“Alhamdulillah, usaha kita baik – baik saja sekarang Ayah sudah punya orang kepercayaan sehingga Ayah tidak perlu sering – sering melihatnya. Ayah hanya fokus dengan usaha kita disini saja.” ucapan Selengkapnya
Kabut Kehidupanku (2)
Karena terlalu penat, akhirnya aku tertidur dibuaian yang berada diteras rumah. Sentuhan lembut di kepalaku membuatku terbangun. “Ayah sudah pula” belum selesai perkataanku aku mendengar “Ayah sudah pulang, dinda main Selengkapnya
Kabut Kehidupanku (1)
Terkukung di antara diding empat segi, mungkin hanya beberapa orang yang merasakannya. Aku ada di dalamnya, duniaku sempit dan sangat menyiksa. Aku mendengar suara dan melihat cahaya di celah – Selengkapnya
Cerpen ” Kesetiaan Cinta”
Pagi ini Jakarta berkabut. Mentari tampak malu-malu menemani semesta. Embun mulai hadir menebarkan kesejukan di bentala raya dan membangkitkan asa bagi insan penghuninya. Seharusnya hari ini Laras memiliki semangat yang Selengkapnya
Pelangi Setelah Hujan (End)
Entahlah aku hatiku masih belum bisa melupakan apa yang pernah terjadi dulu, waktu belum cukup lama untuk menghapus semua luka yang masih mengeluarkan darah. “Abang dan Ara tidak akan pernah Selengkapnya
Cerpen “Cinta di Rumah Tua”
“Tuhan menciptakan senja untuk mengingatkanku untuk pulang pada cinta yang kukenang.” “Cinta! Kamu ada di mana?” teriak Greg dari arah halaman. John, Andrew dan Hana pun melakukan hal yang sama. Selengkapnya
Pelangi Setelah Hujan (1)
Pelangi selalu datang ketika hujan turun, dulu sekali aku percaya itu dan aku selalu menanti hujan turun untuk menatap sejenak betapa indahnya pelangi. Waktu berjalan semuanya berubah tapi tidak dengan Selengkapnya
Cerpen “Cinta yang Hilang”
Cinta yang Hilang Nina Sulistiati Muslim sejati itu adalah saat dia diberi ujian tidak pernah putus harapan. Dia yakin bahwa setelah hari ini akan ada hari esok, di antara kesulitan Selengkapnya
Hal Tatazawajani (2)
Seperti dicucuk hidung aku mengekor di belakang Bang Anwar menuju salah satu sudut yang tidak terlalu ramai. Kami duduk bersebelahan, untung saja di pesta pernikahan jika tidak aku tidak akan Selengkapnya
- Sebelumnya
- 1
- …
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- …
- 93
- Berikutnya
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.














