Nilai Karakter Menjadi Penumpang KRL

Terbaru1000 Dilihat

Siapa sih yang tidak mengenal Kereta Api Listrik (KRL) di Jabodetabek? Tentu masyarakat cukup mengenal dengan moda transportasi massal yang murah dan tak mengenal macet. Sejak Menteri Perhubungan Ignatius Jonan membenahi PT. Kereta Api Indonesia mulai meningkatkan terus pelayanan terhadap masyarakat. Bisa dikatakan hasil restrukturisasi dan revitalisasi PT. KAI sebagai BUMN membuahkan hasil yang dapat dirasakan masyarakat umum. Betapa tidak, dikatakan KRL moda transportasi massal yang populer dan disukai banyak orang. Semakin ke sini PT. KAI memperbaiki stasiun besar yang lama, memperbaiiki stasiun kecil menjadi besar, dan membangun stasiun pemberhentian KRL yang baru dengan bangunan modern yang megah, menambah KRL semakin mendapat tempat di hati pengguna transportasi umum.
Sebagai contoh dibukanya stasiun KRL di Cikarang pada bulan Oktober 2018 makin menjadi tumpuan. Semula KRL dari Jakarta ke arah timur berakhir di Bekasi, ditambah makin ke timur dengan stasiun akhir pemberhentian di Cikarang. Awal dijalankan KRL dari Cikarang masi longgar penumpang, kondisi sesak penumpang hanya waktu libur dan sibuk jam berangkat serta pulang kerja. Berjalannya waktu hampir setahun KRL menjadi primadona warga Cikarang dan stasiun yang dilaluinya Cibitung dan Tambun. Hampir setiap waktu jadwal perjalanan KRL selalu sesak penumpang.
Transportasi umum dikenal pula sebagai transportasi publik atau transportasi massal yaitu layanan angkutan penumpang oleh sistem perjalanan kelompok yang tersedia untuk digunakan masyarakat umum. Biasanya dikelola sesuai jadwal, dioperasikan pada rute yang ditetapkan, dan dikenakan biaya untuk setiap perjalanan. Angkutan massal antar kota didominasi oleh bus antarkota, kereta api, kereta api antar kota, dan maskapai penerbangan. Sementara kalau daerah hinterland atau penyangga perkotaan umumnya menggunakan bus kota, trem atau kereta api ringan,, dan KRL.
KRL yang beroperasi di daerah Jabodetabek orang menyebutnya “Commuter Line” karena sesuai nama perusahaan yang mengelolanya. Secara harfiah commuter artinya penglaju dan line artinya jalan atau barisan. Nama ini cocok dengan bendaya yaitu KRL yang fungsinya sebagai alat transportasi perjalanan penglaju atau transportasi barisan penglaju. Kenyataannya memang rangkaian KRL di dalamnya mengangkut penumpang yang melakukan perjalanan ulang-alik. Artinya pagi berangkat melakukan perjalanan dan sore atau pulang dari tujuan perjalanan harian. Perjalanan para penglaju memiliki tujuan yang berbeda, pada umumnya bekerja, sekolah/kuliah, bisnis, wisata, berkunjung sementara yang biasanya tidak menginap.
Bagi penumpang yang rutin atau sering menggunakan KRL akan menjadi hubungan kelompok patembayan (gesellschaft). Kelompok ini terbentuk karena individu terjadi ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek. Hubungan yang terjadi karena interaksi di dalam KRL bersifat bentuk suatu pikiran belaka yang merasa senasib dan strukturnya bersifat mekanis karena merasa sederajat dalam menggunakan alat transportasi umum. Semakin intensi bertemu di dalam gerbang KRL akan membuat perasaan dan akal merupakan kesatuan. Dan mereka terikat pada kesatuan hidup yang dialaminya.
Apalagi jika individu- individu sebagai penumpang dalam KRL arah tujuan yang se-lokasi akan memperkuat silaturahim. Mereka dalam KRL bila sering ketemu akan tegur sapa, komunikasi sehingga makin ada ikatan batin yang erat. Bahkan dari mereka yang menuju kerja turun dari KRL dengan stasiun sama menuju tempat kerja satu kompleks akan saling tukar pengalaman. Saling komunikasi ini menimbulkan mereka saling tahu dan bisa saling membantu jika ada kesulitan. Mereka memperkuat persaudaraan yang memanfaatkan perjalanan di KRL dengan menyenangkan.
KRL menyediakan gerbang khusus wanita di ujung depan dan belakang rangkaian. Tiap sudut gerbang juga menyediakan tempat duduk prioritas untuk ibu hamil dan ibu menyusui atau menggendong balita. Hal ini menunjukkan Commuter Line punya komitmen terhadap perlindungan perempuan. Dengan komitmen ini penumpang terutama kaum pria secara prosedural diminta untuk memprioritaskan penumpang perempuan. Jika kita sering menjadi penumpang KRL akan tumbuh kesadaran untuk memperhatikan kaum ibu hamil dan membawa anak balitanya. Sebagai kaum yang dianggap lemah mereka berhak mendapatkan perlindungan kaum pria yang secara kodrati lebih kuat. Tentu Commuter Line mengambil aturan ini untuk mengurangi resiko kemungkinan buruk yang terjadi pada kaum ibu hamil dan membawa balita.
Setiap pojok gerbang juga disediakan untuk penyandang disabilitas dan manula. Mereka punya keterbatasan fisik dan lemah fisik perlu bantuan suasana yang nyaman dalam perjalanan. Kita sebagai penumpang yang punya fisik normal sudah sewajarnya punya sikap empati dan simpati terhadap keterbatasannya. Penumpang dengan usia muda tentu lebih gagah juga wajar memberi prioritas nenek dan kakek yang lemah fisik. Dalam diri kita yang masih kuat, kita anggap mereka sebagai Orangtua kita yang harus diperlakukan spesial sekedar memberi tempat duduk supaya nyaman dan tidak lelah di perjalanan. Inilah nilai karakter yang tumbuh jika kita sering menjadi penumpang KRL. Yang jelas penumpang sebagai warga masyarakat mendapat pelajaran kepedulian terhadap orang yang lemah dan butuh kita bantu.
Jakarta sebagai kota metropolitan menjadikan kota di pinggiran berkembang pesat. Sebagai hinterland yaitu kota penyangga tempat tinggal penduduk dan perkembangan ekonominya. Dapat kita amati dalam sehari-harinya yang tinggal di Jakarta mereka pergi ke kota pinggirnya untuk bekerja di industri pada umumnya. Sebaliknya dari kota di pinggiran penduduk menjadi penglaju untuk bekerja di perkantoran, di pusat perbelanjaan, menjadi pegawai pemerintah, mahasiswa, dan ada yang pelajar. Belum lagi ditambah dengan penduduk yang beraktivitas temporer untuk perjalanan wisata dan bisnis. Inilah yang menjadikan Jabodetabek super sibuk dengan aktivitas mobilitas yang tinggi. KRL sebagai moda transportasi yang diminati untuk mendukung kelancaran aktivitas mobilitas harian.
Kesibukan kota metropolitan dan sub urban, menjadikan KRL selalu padat penumpang. Kepadatan di dalam gerbang tentu akan membangkitkan kejenuhan bagi individu yang rutin sebagai pengguna KRL. Mengurangi dan mengatasi kejenuhan mereka saling ngobrol dan seringnya diisi dengan membaca. Jika penumpang tak berdesak-desakan sebagian mereka memanfaatkan waktu luang sebelum sampai di tujuan dengan membuka gadget-nya. Di dalam gadget mereka peluang membaca berita terkini, membaca kitab, bahkan membaca e-book. Kebanyakan memang membuka whaatsapp, dan bermain games. Namun bagi mereka yang berpendidikan lebih banyak dengan gawai yang dipegangnya untuk menambah pengetahuan, bahkan sesekali membaca buku. Namun belum menunjukkan budaya literat di dalam gerbang KRL karena baru terjadi sebagian yang beraktivitas membaca. Namun kita bangga sebagian kecil masyarakat sudah menyebarkan literasi.
Walapun baru literasi membaca, paling tidak membaca berkorelasi dengan kecerdasan, karena aktivitas membaca akan merangsang otak dalam memproses setiap input. Manakala aktivitas otak bekerja secara optimal dalam menerima, mengolah, menganalisa, mengasosiasi, dan membuat kesimpulan setiap data serta informasi, maka akan menghasilkan kecerdasan. Apalagi dalam pengembangan pemikirannya diarahkan pada hal-hal yang positif dan bermanfaat, maka nilai manusia semakin berkualitas. Melalui berpikir inilah, potensi nalar individu akan berkembang. Perkembangan ini akan berdampak bagi pembiasaan di rumahnya. Setidaknya penumpang KRL yang belum literat melihat pembiasaan itu, lain waktu tertarik melakukannya.
Penumpang KRL juga dibiasakan hidup bersih. Mereka tidak diperkenankan makan di dalam gerbang KRL. Tentu, walau ini paksaan akan menjadi pembelajaran dan pembiasaan untuk tidak membuang sampah sembarang tempat. Sehingga ruangan gerbang KRL yang ber-AC ini tampak bersih dan indah. Apalagi petugas kebersihan mondar-mandir untuk mengecek keadaan kebersihan gerbang. Jadi penumpang malu, bila di depan mereka duduk atau berdiri ada sampah. Lagi-lagi kita dituntut kepedulian menjaga sarana yang menjadi kepentingan umum.
Walaupun KRL yang ke arah timur tidak sebanyak jadwal KRL jurusan Bogor, namun sudah menjadi alternatif moda transportasi massal yang sangat dibutuhkan. Kita sebagai penumpang menyadari KRL yang ke arah Cikarang masih selang waktu jadwal pemberangkatan satu jam, karena terganggu padatnya kereta api antar kota. KRL yang menuju Bogor jarak waktu pemberangkatan yang satu dengan yang lainnya sekitar 10-20 menit menjadikan lebih longgar. Sedangkan yang menuju Cikarang situasi gerbang desak-desakan penumpang. Kita harus terima, karena PT. KAI terus memperbaiki diri untuk peningkataa kualitas pelayanan.
Tentu kita sebagai masyarakat selayaknya bersabar menunggu pembenahan Commuter Line untuk memberi pelayanan prima. Dengan visi PT. Kereta Api Indonesia ‘’kepuasan anda adalah kepuasan pelayanan kami” masyarakat tetap optimis akan semakin baik di masa yang akan datang. Jika KRL ke arah timur Jakarta masih sesak sekali dikarenakan sedang pembangunan rel untuk KRL tersendiri. Selama ini masih terganggu oleh padatnya jadwal kereta api jurusan antar kota. Kita berharap kondisi ini tidak lama, supaya karakter penumpang KRL mendapatkan dampak sosial positif menjadi penumpang tetap terpelihara. Kalau selama ini penumpang tumbuh sikap kepedulian jangan sampai dengan seringnya KRL semakin desak-desakan menjadi masyarakat yang egois atau individualistis.

Tinggalkan Balasan