Ramadan Yang Berbeda Dari Tahun Sebelumnya

Terbaru944 Dilihat

Sebagai Muslim menghadapi kedatangan bulan Ramadan dengan bahagia akan mendapatkan jaminan baunya surga. Ramadan memang bulan untuk berpuasa bagi muslim yang orang yang beriman dan bertaqwa. Allah akan membalas umat muslim yang melaksanakan puasa atas dasar imanan wa’tisyaban atau dilandasi keimanan dan keikhlasan pada Allah akan menghuni surga dengan pintu yang besar terbuat dari emas yang dinakam Ar-Royan. Dalam bulan berpuasa ini orang harus berdisiplin diri untuk menahan makan dan minum di siang hari. Sekitar 13 jam dari fajar sampai terbenamnya matahari menahan aktivitas rutin biologis untuk makan dan minum.

Jika dalam tulisan sebelumnya, Ramadan tahun 2020 disarankan pemerintah untuk banyak di rumah, menghindari kerumunan, dan upaya tidak pergi bila tak terlalu penting. Masjid dan Musola juga tidak diperbolehkan adanya aktivitas Salat Tarawih. Umat muslim mendapat fatwa dari MUI untuk melakukan Salat Sunah tersebut di rumah masing-masing dengan anggota keluarganya sendiri. Semarak Ramadan di masa pandemi sungguh kontras dengan keadaan biasanya.

Suasana Ramadan tahun lalu memang tidak menunjukkan kegembiraan lahiriah dari umat muslim. Justru umat muslim harus menunjukkan keprihatinan atas hadirnya Covid 19 sebagai ujian dari Allah SWT. Makanya suasana menjelang berbuka pun hampi sepi dengan kebiasaan ngabuburit karena dipantau oleh satgas Covid 19. Bila ada keramaian dan kerumunan mereka diberi sanksi sosial oleh petugas. Tetapi bagi muslim yang taat momentum tersebut dijadikan sarana untuk lebih banyak berdzikir dan mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Ramadan kali ini sudah mulai menunjukkan suasana menjalankan ibadah puasa kembali, namun belum normal seperti biasanya. Suasana kedatangan bulan suci ini mulai semarak. Suara dari masjid, musola atau surau mulai terdengar mengabarkan kegembiraan umat muslim menyambut bulan puasa. DKM masjid maupun musola mulai memampang jadwal kegiatan yang akan dijalankan saat ramadan yang akan tiba dalam beberapa hari ke depan.

Aktivitas ibadah Salat Tarawih juga sudah diizinkan dengan social distancing dan protokol kesehatan. Untuk masjid dan musola di tempat strategis atau pinggir jalan ramai disarankan dengan melaksanakan 11 rakaat. Masjid dan musola seperti ini dimungkinkan banyak jamaah singgah untuk menunaikan Salat Tarawih. Saran ini juga untuk lebih memperpendek durasi waktu keramain dan kerumunan di tempat ibadah.
Suara tadarus atau pengajian Alquran juga mulai santer dari masjid dan musola di sekitar tempat tinggal kita. Malam hari terdengar lantunan ayat-ayat suci dari sana-sini yang menambah semarak suasana Ramadan. Setelah Asar dan Isya mulailah terdengar lantunan dari Qori dan Qoriah berasal dari tempat ibadah terdekat.

Menjelang berbuka puasa jalanan juga ramai dengan lalu-lalang orang berkendara untuk tujuan ngabuburit. Saat ngabuburit biasanya orang mencari makanan dan minuman kesukaan untuk persiapan berbuka puasa nanti. Melihat jalan yang ramai juga berderet-deret pedagang makanan di tempat-tempat strategis. Pedagang dadakan juga memasang lapak di pinggir jalan mengharap rezeki dari orang-orang yang lewat untuk ngabuburit. Suasana ini sempat terhenti Ramadan tahun yang lalu.

Suasana semarak Ramadan ini mulai kembali walaupun belum sepenuhnya normal. Penjual dan pembeli dan orang-orang yang ngabuburit tetap memakai masker. Toko-tokopun tetap menyarankan protokol kesehatan tetap dilaksanakan. Kita patut bahagia seiring adanya vaksin Covid 19 diharapkan penyebaran virus mampu tertangani. Ramadan kali ini mulai menapak kembali kegiatan-kegiatan ibadah di masjid dan musola dapat dilakukan kembali.

Ramadan sekarang juga bisa menapak bangkitnya ekonomi pedagang kecil kembali. Suasana ngabuburit yang menggeliat kembali menjadi keberkahan bangkitnya ekonomi masyarakat. Setelah setahun sempat lesu hingga usaha kecil banyak yang gulung tikar, mudah-mudahan kembali start mengatasi kelesuan sebelumnya. Masyarakat memang harus terus semangat memerangi pandemi sampai saat ini.

Tinggalkan Balasan