MewangiWidutFebruari 24, 2023Karena Menulis Aku Ada (KMAA), Literasi, Puisi, Terbaru, YPTD631 Dilihat MEWANGI Tung Widut harum semerbak menelusup dalam kamar menyambut pagi jendela di buka tersenyum mentari anggrek merpati menawan melekat di hati Posting TerkaitMemahami Tahapan Gladi Kotor dalam Persiapan PertunjukanRaja dalam Pegelaran KetoprakKehalusan Bahasa Kesenian Ketoprak JawaGaya Dahlan Iskan dan Thamrin Dahlan Berliterasi, Ini Rahasia Suksesnya!Jangan Mati Sebelum Menulis BukuElegi Cinta SejatiComing Soon: “KMAD 2024”Selamat PagiJangan LewatkanPadang Arafah : Lautan Doa Tempat Air Mata Keikhlasan Tumpah Atas ridho Allah SWT, saya Thamrin Dahlan pernah menunaikan ibadah haji pada tahun 1994, 1998, dan 2003. Tiga kali menjejakkan kaki di Tanah Suci, tiga kali pula hati ini diguncang oleh peristiwa agung bernama Wukuf di Padang Arafah. Setiap kali kalender Hijriah mendekati 9 Dzulhijjah, ingatan itu kembali menyeruak. Debu padang pasir seolah masih melekat di ujung kain ihram. Suara talbiyah terasa kembali menggema. Air mata yang pernah jatuh di Padang Arafah seperti belum benar-benar kering. InshaAllah, Wukuf 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah akan berlangsung Selasa 26 Mei 2026. Jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia akan berhimpun di satu tempat yang sama, memakai pakaian yang sama, membaca doa yang sama, serta membawa harapan yang sama : memohon ampunan Allah SWT. Padang Arafah bukan sekadar hamparan tanah tandus. Di sanalah manusia benar-benar menyadari hakikat dirinya. Tidak ada pangkat. Tidak ada jabatan. Tidak ada kekayaan. Tidak ada kemegahan dunia. Semua luluh menjadi hamba yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Saya masih mengingat suasana ketika matahari begitu terik menyengat. Peluh bercucuran. Tubuh lelah. Namun hati justru terasa sangat dekat kepada Allah SWT. Di Padang Arafah, lidah tidak berhenti berzikir. Mata mudah basah. Dada bergetar. Banyak jamaah menengadahkan tangan sambil terisak memohon ampun atas dosa-dosa masa lalu. Di tempat itulah saya memahami bahwa hidup manusia sesungguhnya sangat singkat. Kita datang tanpa membawa apa-apa dan kelak kembali kepada Allah SWT pun tanpa membawa apa-apa, kecuali amal ibadah. Padang Arafah seperti miniatur Padang Mahsyar. Semua berkumpul menunggu rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Betapa banyak doa dipanjatkan ketika itu. Doa untuk orang tua. Doa untuk anak cucu. Doa untuk bangsa Indonesia tercinta. Doa agar hati tetap istiqamah sampai akhir hayat. Kadang air mata jatuh begitu saja ketika teringat dosa dan khilaf yang pernah dilakukan. Hati terasa hancur, namun sekaligus penuh harapan. Sebab Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka selain Hari Arafah. Padang Arafah juga mengajarkan arti persaudaraan kemanusiaan. Jutaan manusia berbeda bahasa, warna kulit, dan bangsa menyatu dalam kalimat yang sama : Labbaik Allahumma Labbaik. Ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu. Di sana tidak ada perbedaan kaya atau miskin. Semua duduk di atas hamparan bumi yang sama. Semua haus akan ampunan. Semua berharap menjadi haji mabrur. Sungguh itulah pelajaran terbesar tentang persamaan derajat manusia di hadapan Allah SWT. Kini usia semakin menua. Rambut memutih. Langkah tidak lagi sekuat dahulu. Namun kenangan Wukuf di Padang Arafah tetap hidup di relung jiwa. Setiap gema takbir Idul Adha membangunkan kerinduan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Semoga saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji tahun 1447 Hijriah diberikan kesehatan, kekuatan, kemudahan, dan menjadi haji mabrur. Bagi yang belum berkesempatan ke Tanah Suci, semoga Allah SWT memanggil pada waktu terbaik menurut kehendak-Nya. Padang Arafah mengajarkan satu hal penting : Bahwa sebesar apa pun manusia di dunia, pada akhirnya ia hanyalah seorang hamba yang membutuhkan ampunan Tuhannya. Ya Allah… Ampunilah dosa kami. Terimalah ibadah kami. Wafatkan kami dalam husnul khatimah.Padang Arafah : Lautan Taubat dan Air Mata HambaMBG HENDAKNYA BUKAN SEKEDAR MEMBAGI MAKANAN: PENTINGNYA MENGUKUR DAMPAK GIZIKeutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa ArafahResensi Buku Inna Maal Usri Yusro : Menembus Batas MustahilKambang Iwak Destinasi Olahraga Wong Kito Galo