TPG Tak Kunjung Cair Juga Padahal SKTP Sudah Hijau

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

guru13 Dilihat

SKTP Sudah Hijau, Tapi TPG Tak Kunjung Cair: Sebuah Janji yang Tersangkut di Sunyi Para Guru

Oleh: Wijaya Kusumah


Pagi itu saya membuka laman Info GTK dengan perasaan campur aduk. Jari ini sudah hafal jalurnya. Klik. Login. Tunggu. Lalu mata saya tertuju pada satu warna yang selama ini dinanti-nanti para guru: hijau.

Status valid.
SKTP terbit.
Semua syarat terpenuhi.

Namun satu hal yang tak kunjung datang adalah kabar paling sederhana: TPG sudah ditransfer.

Sudah berkali-kali kita mendengar janji bahwa Tunjangan Profesi Guru akan cair setiap bulan. Sebuah kabar yang dulu membuat banyak guru tersenyum lega. Setidaknya ada kepastian. Setidaknya ada rasa dihargai.

Tapi sampai hari ini, banyak dari kami masih menunggu. Tanpa kepastian. Tanpa tanggal pasti. Tanpa penjelasan yang benar-benar menenangkan hati.

Lalu muncul pertanyaan yang pelan-pelan berubah menjadi sesak:
Mengapa janji itu tak kunjung ditepati?


Guru Tidak Menuntut Lebih, Hanya Menagih Kepastian

TPG bukan hadiah.
Bukan bonus.
Bukan pula sedekah negara.

TPG adalah hak.
Hak atas profesionalisme.
Hak atas kerja yang tak pernah benar-benar berhenti, bahkan ketika bel sekolah sudah lama sunyi.

Guru datang paling pagi.
Pulang paling akhir.
Menyusun perangkat ajar.
Mengisi e-Rapor.
Menghadiri rapat.
Mengikuti pelatihan.
Menjawab pesan orang tua murid sampai larut malam.

Semua dilakukan dengan satu keyakinan: pendidikan adalah jalan perubahan.

Namun ketika hak yang dijanjikan tak kunjung tiba, yang terluka bukan sekadar rekening kosong.
Yang terluka adalah rasa dihargai.


SKTP Hijau: Simbol Harapan yang Tertahan

SKTP berwarna hijau seharusnya menjadi simbol bahwa semuanya sudah beres. Administrasi lengkap. Jam mengajar cukup. Validasi tuntas.

Hijau itu harapan.
Hijau itu lampu jalan.

Namun kini, hijau terasa seperti lampu yang menyala tapi tak pernah benar-benar membuka pintu.

Di ruang-ruang guru, obrolan tentang pembelajaran kini bercampur dengan tanya yang sama:
“Sudah cair belum?”

Sebagian tersenyum getir.
Sebagian hanya menggeleng pelan.

Ada yang menahan cicilan rumah.
Ada yang menunda bayar sekolah anak.
Ada yang tetap tersenyum di depan kelas, meski di rumah sedang menghitung sisa uang di dompet.

Guru memang dibayar dari pajak masyarakat.
Namun guru juga bagian dari masyarakat yang membayar pajak.
TPG pun dipotong pajak.

Kami bukan meminta lebih.
Kami hanya ingin janji ditepati.


Jika Sulit Cair Bulanan, Mengapa Tidak Jujur Saja?

Pertanyaan yang paling mengganggu bukan tentang uangnya.
Tetapi tentang kepastian.

Jika memang sistem belum siap untuk pencairan setiap bulan, mengapa tidak disampaikan dengan jujur sejak awal?

Mengapa harapan itu dibangun, lalu dibiarkan menggantung?

Sebagian guru bahkan berkata lirih,
“Apalah sebaiknya tetap saja dibayar tiga bulan sekali seperti dulu, asal pasti?”

Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sesungguhnya menyimpan kelelahan panjang.

Kelelahan menunggu.
Kelelahan berharap.
Kelelahan memeriksa rekening yang tetap kosong.


Di Balik Seragam Cokelat Itu Ada Keluarga

Seragam cokelat yang rapi di sekolah tak selalu menggambarkan keadaan hati di rumah.

Ada guru honorer yang masih berjuang dengan gaji minim.
Ada guru PNS yang menggantungkan banyak kebutuhan pada TPG.
Ada yang menjadi tulang punggung keluarga besar.

Setiap kali kabar pencairan tak jelas, bukan hanya guru yang terdampak.
Ada anak yang bertanya, “Ayah, kapan uangnya masuk?”
Ada istri yang diam-diam menahan cemas.
Ada suami yang pura-pura kuat.

Guru mengajarkan tentang integritas.
Tentang kejujuran.
Tentang komitmen menepati janji.

Lalu bagaimana menjelaskan pada murid tentang arti janji, jika kami sendiri sedang belajar menerima janji yang tak pasti?


Pendidikan Butuh Kepercayaan

Pendidikan tidak hanya dibangun oleh kurikulum dan kebijakan.
Ia dibangun oleh kepercayaan.

Kepercayaan antara guru dan murid.
Kepercayaan antara orang tua dan sekolah.
Dan tentu saja, kepercayaan antara guru dan pemerintah.

Ketika janji tak ditepati, yang runtuh perlahan adalah rasa percaya itu.

Kami tetap akan mengajar.
Tetap berdiri di depan kelas.
Tetap menuliskan cita-cita di papan tulis.

Namun jauh di dalam hati, ada ruang kecil yang bertanya,
“Apakah kami benar-benar dihargai?”


Sebuah Tanya yang Belum Terjawab

Hari ini SKTP masih hijau.
Rekening masih sunyi.

Kami tidak marah.
Kami hanya lelah menunggu tanpa penjelasan.

Jika memang ada kendala anggaran, katakan.
Jika ada persoalan teknis, jelaskan.
Jika butuh waktu, beri kepastian.

Karena yang paling menyakitkan bukan keterlambatan,
melainkan ketidakjelasan.

Guru selalu diminta sabar.
Dan kami memang sabar.

Tapi sabar pun butuh dihargai.

Di negeri ini, guru sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa.
Kini, jangan biarkan kami menjadi pahlawan tanpa kepastian.

SKTP sudah hijau.
Hati kami jangan sampai menguning oleh kecewa.

Semoga suatu hari nanti, bukan hanya warna di layar yang berubah,
tetapi juga rasa dihargai yang benar-benar sampai ke hati.

Karena di balik papan tulis dan spidol yang sederhana,
ada jiwa-jiwa yang terus mengabdi—
meski kadang harus menahan air mata sendiri.

Tinggalkan Balasan