Kisah Omjay: Menjaga Keistiqamahan Meski Tidak Dipuji Manusia
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Pagi itu, Sabtu 30 Mei 2026, udara di Wanaraja Garut terasa begitu sejuk. Mentari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya. Burung-burung mulai berkicau menyambut datangnya pagi. Setelah menunaikan sholat Subuh, Omjay duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat.
Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang menghijau. Angin pagi berhembus pelan membawa ketenangan. Dalam suasana yang damai itu, Omjay merenungkan satu hal yang sering menjadi ujian dalam kehidupan manusia: bagaimana tetap istiqamah berbuat baik meski tidak dipuji manusia.
Tidak mudah memang.
Manusia pada dasarnya senang dihargai. Senang ketika hasil kerjanya diapresiasi. Senang ketika usahanya diakui. Senang ketika namanya disebut dan jasanya dikenang.
Omjay pun manusia biasa.
Sebagai guru yang sudah mengabdi lebih dari tiga dekade, ada kalanya Omjay merasa lelah. Ada kalanya kerja keras yang dilakukan seolah tidak terlihat. Ada kalanya tulisan yang dibuat dengan penuh kesungguhan hanya dibaca sedikit orang.
Namun perjalanan hidup mengajarkan Omjay sebuah pelajaran penting.
Berbuat baik bukan untuk dipuji manusia. Berbuat baik adalah bentuk pengabdian kepada Allah.
Ketika Tulisan Tidak Mendapat Banyak Pembaca
Sebagai penulis dan blogger, Omjay menulis hampir setiap hari.
Ada tulisan yang dibaca ribuan orang.
Ada pula tulisan yang hanya dibaca puluhan orang.
Awalnya, Omjay juga pernah merasa kecewa ketika sebuah tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati ternyata sepi pembaca.
“Apakah tulisan saya tidak menarik?”
“Apakah tulisan saya tidak bermanfaat?”
Pertanyaan-pertanyaan itu pernah menghampiri hati.
Namun semakin lama menulis, Omjay menyadari bahwa ukuran keberhasilan bukan semata jumlah pembaca.
Bisa jadi satu tulisan yang hanya dibaca satu orang justru mengubah hidupnya.
Bisa jadi satu artikel sederhana mampu menginspirasi seseorang yang sedang putus asa.
Bisa jadi satu kalimat yang ditulis dengan ikhlas menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Sejak saat itu Omjay berusaha menulis bukan untuk mengejar pujian.
Omjay menulis karena ingin berbagi.
Omjay menulis karena ingin meninggalkan jejak kebaikan.
Omjay menulis karena percaya bahwa tulisan adalah investasi akhirat.
Seperti yang sering Omjay sampaikan:
“Tulisan adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan dalam alat rekam yang ajaib bernama blog.”
Belajar dari Guru-Guru Hebat
Dalam perjalanan sebagai pengurus organisasi profesi guru dan pegiat literasi, Omjay bertemu banyak guru luar biasa.
Ada guru yang setiap hari mengajar di pelosok tanpa fasilitas memadai.
Ada guru yang rela mengeluarkan biaya pribadi demi membantu siswanya.
Ada guru yang diam-diam membelikan seragam bagi murid yang kurang mampu.
Hebatnya, banyak dari mereka tidak pernah mempublikasikan apa yang dilakukan.
Tidak ada unggahan media sosial.
Tidak ada konferensi pers.
Tidak ada pencitraan.
Mereka bekerja dalam diam.
Mereka mengabdi dengan tulus.
Mereka tetap melayani meski tidak ada yang memuji.
Dari mereka, Omjay belajar bahwa amal terbaik sering kali dilakukan tanpa sorotan kamera.
Kebaikan yang paling kuat justru lahir dari hati yang ikhlas.
Allah Tidak Pernah Lupa
Suatu hari Omjay pernah membaca sebuah nasihat yang sangat menyentuh hati.
“Jika manusia lupa menghargaimu, jangan sedih. Allah tidak pernah lupa mencatat kebaikanmu.”
Kalimat itu begitu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.
Manusia memiliki keterbatasan.
Kadang lupa.
Kadang tidak tahu.
Kadang bahkan salah menilai.
Namun Allah Maha Melihat.
Tidak ada satu tetes keringat yang sia-sia.
Tidak ada satu langkah menuju kebaikan yang terlewat dari pengawasan-Nya.
Tidak ada satu huruf yang kita tulis untuk menyebarkan ilmu yang hilang begitu saja.
Semua tercatat dengan sempurna.
Kesadaran inilah yang membuat Omjay terus berusaha menjaga semangat.
Ketika tidak ada yang memuji, tetap menulis.
Ketika tidak ada yang mengapresiasi, tetap berbagi.
Ketika tidak ada yang melihat, tetap berbuat baik.
Karena tujuan utama bukanlah manusia.
Tujuan utama adalah ridha Allah.
Istiqamah Itu Tidak Mudah
Omjay menyadari bahwa istiqamah jauh lebih sulit daripada memulai.
Banyak orang bersemangat di awal.
Namun hanya sedikit yang mampu bertahan dalam perjalanan panjang.
Menulis sehari itu mudah.
Menulis setiap hari selama bertahun-tahun membutuhkan komitmen.
Mengajar sehari itu mudah.
Mengajar puluhan tahun dengan penuh cinta membutuhkan keikhlasan.
Berbuat baik sekali dua kali itu mudah.
Berbuat baik terus-menerus tanpa mengharapkan balasan adalah ujian sesungguhnya.
Karena itu, istiqamah bukan tentang kesempurnaan.
Istiqamah adalah tentang terus berjalan meski perlahan.
Tetap bangkit ketika jatuh.
Tetap melangkah ketika lelah.
Tetap berbuat baik ketika tidak ada yang memperhatikan.
Pesan Omjay untuk Sahabat Semua
Pagi ini Omjay ingin berbagi pesan sederhana kepada para sahabat pembaca.
Jika hari ini usaha kita belum dihargai, jangan berhenti.
Jika kerja keras kita belum terlihat, jangan menyerah.
Jika kebaikan kita belum mendapat pengakuan, jangan berkecil hati.
Teruslah melangkah.
Teruslah berkarya.
Teruslah menulis.
Teruslah mengajar.
Teruslah berbagi.
Karena sesungguhnya yang paling penting bukanlah tepuk tangan manusia.
Yang paling penting adalah ridha Allah SWT.
Kelak mungkin manusia lupa pada nama kita.
Mungkin mereka tidak mengenang jasa kita.
Namun jika Allah menerima amal kita, maka itulah keberhasilan yang sesungguhnya.
Pagi semakin terang. Matahari mulai muncul dari balik awan. Omjay menutup catatan kecilnya sambil tersenyum.
Hatinya terasa tenang.
Sebab ia sadar bahwa hidup bukanlah perlombaan mencari pujian manusia.
Hidup adalah perjalanan panjang untuk mengumpulkan amal terbaik menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta.
Mari kita terus menjaga keistiqamahan.
Tetap berbuat baik meski tidak dipuji.
Tetap menolong meski tidak disebut.
Tetap berkarya meski tidak selalu diapresiasi.
Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai hidup kita bukanlah banyaknya pujian manusia, melainkan seberapa besar ridha Allah kepada kita.
Ayo semangat berbuat baik hari ini.
Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com








