
Jumat di Dunia, Jumat di Akhirat
Kisah Omjay Menanti Hari yang Penuh Berkah
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Pagi itu, Jumat 12 Juni 2026.
Seperti biasa, Omjay terbangun sebelum azan Subuh berkumandang. Udara Bekasi masih terasa sejuk. Dari jendela rumah sederhana di Jatibening Indah, langit tampak gelap dengan cahaya bintang yang mulai menghilang perlahan.
Omjay duduk sejenak di ruang kerja kecilnya. Di atas meja ada laptop yang hampir setiap hari menemaninya menulis. Ada juga beberapa buku yang sedang disiapkan untuk peluncuran. Namun pagi itu, pikirannya tidak tertuju pada buku, jabatan, atau aktivitas mengajar.
Pikirannya melayang jauh.
Jauh sekali.
Membayangkan sebuah hari yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai hari yang sangat dinanti oleh penghuni surga.
Hari Jumat.
Tiba-tiba Omjay teringat sebuah hadits yang pernah dibacanya.
Bahwa penghuni surga begitu merindukan datangnya hari Jumat. Hari itu disebut Yaumul Maziid, hari tambahan. Hari ketika Allah memberikan tambahan kemuliaan dan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Bahkan mereka sangat menantikan hari itu karena pada saat itulah mereka memperoleh kenikmatan terbesar, yaitu melihat wajah Allah Yang Maha Indah dan Maha Agung.
Ketika membaca hadits itu pertama kali, hati Omjay bergetar.
Air mata pernah jatuh tanpa disadari.
Mengapa?
Karena selama hidup di dunia, manusia sering mengejar tambahan yang salah.
Tambahan gaji.
Tambahan jabatan.
Tambahan harta.
Tambahan pengikut di media sosial.
Tambahan pujian.
Padahal di akhirat nanti, semua tambahan itu tidak lagi berarti.
Yang paling dirindukan adalah tambahan kemuliaan dari Allah.
—
Omjay teringat perjalanan hidupnya.
Sudah lebih dari tiga puluh tahun menjadi guru.
Sudah ribuan siswa diajar.
Sudah ratusan artikel ditulis.
Sudah puluhan buku diterbitkan.
Namun semakin bertambah usia, Omjay semakin sadar bahwa hidup ini sebenarnya sangat singkat.
Rasanya baru kemarin menjadi mahasiswa Jurusan Elektro Elektronika IKIP Jakarta.
Baru kemarin menjadi guru muda yang bersemangat mengajar.
Baru kemarin mengantar anak-anak sekolah.
Baru kemarin menunggu cucu pertama lahir.
Ternyata waktu berlari sangat cepat.
Bahkan beberapa sahabat yang dahulu tertawa bersama kini sudah mendahului menghadap Allah.
Ada sahabat kuliah yang telah meninggal.
Ada kakak tercinta yang kini telah tiada.
Ada guru-guru senior yang dulu menjadi teladan kini hanya tinggal kenangan.
Setiap Jumat, Omjay selalu teringat mereka.
Apakah mereka sedang menikmati Jumat di alam yang berbeda?
Apakah amal mereka diterima?
Apakah mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Omjay sering merenung.
—
Jumat bukan sekadar pergantian hari.
Jumat adalah pengingat.
Pengingat bahwa hidup memiliki batas.
Pengingat bahwa setiap detik umur sedang berkurang.
Pengingat bahwa suatu hari nanti kita akan meninggalkan dunia yang kita cintai.
Sayangnya, banyak orang justru menyambut Jumat seperti hari biasa.
Mereka sibuk dengan pekerjaan.
Sibuk dengan urusan dunia.
Sibuk mengejar target yang tidak pernah selesai.
Padahal Jumat adalah kesempatan emas.
Kesempatan untuk mengisi tabungan akhirat.
Kesempatan memperbanyak shalawat.
Kesempatan membaca Surat Al-Kahfi.
Kesempatan memperbanyak dzikir.
Kesempatan berdoa pada waktu-waktu mustajab.
Kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Omjay pernah mengalami masa-masa ketika penyakit datang silih berganti.
Saat gula darah naik.
Saat tekanan darah melonjak.
Saat vertigo menyerang.
Saat harus berbaring di rumah sakit.
Pada saat-saat itulah Omjay menyadari sesuatu.
Manusia sering merasa kuat ketika sehat.
Namun ketika sakit datang, semua kesombongan runtuh dalam sekejap.
Yang tersisa hanyalah doa.
Yang tersisa hanyalah harapan kepada Allah.
Yang tersisa hanyalah amal yang pernah dilakukan.
Tidak ada jabatan yang bisa menggantikan kesehatan.
Tidak ada harta yang bisa membeli satu detik umur tambahan.
Tidak ada popularitas yang mampu menghalangi kematian.
Karena itu, setiap Jumat Omjay berusaha mengingat kembali tujuan hidupnya.
Bahwa dunia hanyalah tempat singgah.
Bahwa akhirat adalah tujuan sebenarnya.
—
Ada satu pemandangan yang selalu membuat hati Omjay terharu.
Ketika berjalan menuju masjid pada hari Jumat.
Melihat para jamaah datang dengan pakaian terbaiknya.
Ada yang berjalan kaki.
Ada yang naik motor.
Ada yang datang bersama anak-anaknya.
Ada yang sudah renta dengan langkah perlahan.
Namun semuanya menuju tempat yang sama.
Masjid.
Mereka meninggalkan urusan dunia untuk memenuhi panggilan Allah.
Pemandangan sederhana itu selalu mengingatkan Omjay bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Tidak peduli kaya atau miskin.
Tidak peduli pejabat atau rakyat biasa.
Tidak peduli terkenal atau tidak dikenal.
Semua akan berdiri di hadapan Allah.
Semua akan mempertanggungjawabkan amalnya.
—
Maka ketika Jumat datang, seharusnya hati orang beriman bergembira.
Bukan karena akhir pekan akan tiba.
Bukan karena pekerjaan akan libur.
Tetapi karena Allah memberikan kesempatan baru untuk menambah pahala.
Kesempatan baru untuk memperbaiki diri.
Kesempatan baru untuk mendekat kepada-Nya.
Sebagaimana penghuni surga merindukan Jumat di akhirat karena ingin memperoleh tambahan kemuliaan dan kenikmatan, maka kita pun seharusnya merindukan Jumat di dunia untuk memperoleh tambahan keberkahan dan rahmat Allah.
Jangan biarkan Jumat berlalu tanpa shalawat.
Jangan biarkan Jumat berlalu tanpa Al-Kahfi.
Jangan biarkan Jumat berlalu tanpa doa.
Jangan biarkan Jumat berlalu tanpa istighfar.
Karena mungkin saja ini adalah Jumat terakhir dalam hidup kita.
Tak ada yang tahu apakah Jumat depan kita masih diberi kesempatan bertemu lagi.
—
Pagi itu Omjay menutup laptopnya.
Kemudian mengambil mushaf Al-Qur’an yang sudah menemani bertahun-tahun.
Dengan hati yang tenang, ia mulai membaca Surat Al-Kahfi.
Di sela-sela bacaan itu, Omjay berdoa dalam hati.
“Ya Allah, jika penghuni surga merindukan Jumat karena ingin melihat wajah-Mu, maka jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau izinkan merasakan nikmat itu kelak. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, keluarga kami, sahabat-sahabat kami yang telah mendahului kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.”
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
Selamat menjemput keberkahan hari Jumat. Perbanyak shalawat, dzikir, membaca Al-Kahfi, dan doa. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Jumat yang paling indah, bukan hanya di dunia, tetapi juga di surga-Nya kelak. ✨
Barakallahu fiikum.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com









