Lebih Memilih Ulasan daripada Harga Murah: Cara Gen-Z UNJ Berbelanja di Shopee
“Murah belum tentu menguntungkan, tetapi ulasan yang jujur sering kali menjadi penentu keputusan.”
Pernahkah Anda menemukan sebuah produk di Shopee dengan tampilan yang sangat menarik dan harga yang jauh lebih murah dibandingkan toko lain? Rasanya ingin segera menekan tombol checkout. Namun, beberapa detik kemudian muncul keraguan, “Apakah barang ini benar-benar bagus atau hanya terlihat menarik di foto?”
Pengalaman seperti ini hampir pernah dialami oleh semua pengguna marketplace. Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, masyarakat memang dimanjakan dengan kemudahan berbelanja secara daring. Cukup menggunakan telepon genggam, berbagai kebutuhan dapat dibeli tanpa harus keluar rumah. Barang yang dipesan pun akan diantar langsung ke depan pintu.
Di Indonesia, Shopee menjadi salah satu marketplace yang paling banyak digunakan, terutama oleh Generasi Z. Berbagai promo menarik seperti gratis ongkos kirim, potongan harga, voucher belanja, hingga tampilan aplikasi yang mudah digunakan membuat platform ini semakin digemari. Belanja online kini bukan lagi sekadar alternatif, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan baru. Konsumen tidak dapat melihat atau memegang barang secara langsung sehingga muncul rasa khawatir terhadap kualitas produk yang akan diterima. Karena itulah, fitur ulasan dan rating menjadi sumber informasi yang sangat penting sebelum seseorang memutuskan membeli sebuah produk.
Ulasan Menjadi Sumber Kepercayaan
Pada masa lalu, masyarakat sangat mengandalkan rekomendasi dari keluarga atau teman sebelum membeli suatu barang. Dalam dunia digital, kebiasaan tersebut berkembang menjadi Electronic Word of Mouth (e-WOM), yaitu rekomendasi yang diberikan oleh sesama pembeli melalui kolom ulasan.
Bagi konsumen modern, ulasan dari pembeli lain dianggap lebih jujur dibandingkan iklan yang dibuat oleh penjual. Terlebih jika ulasan tersebut dilengkapi foto maupun video asli produk. Bukti visual seperti ini membuat calon pembeli merasa lebih yakin terhadap kualitas barang yang akan dibelinya.
Rating Bintang Menjadi Penyaring Awal
Selain ulasan, sistem rating bintang juga memiliki peranan yang sangat besar. Ketika membuka halaman produk, hampir semua orang akan melihat jumlah bintang terlebih dahulu sebelum membaca deskripsi produk.
Rating menjadi indikator cepat mengenai kualitas toko maupun barang yang dijual. Semakin tinggi rating yang dimiliki sebuah produk, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan calon pembeli.
Namun, mahasiswa Program Studi Pemasaran Digital Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Angkatan 2025 ternyata tidak hanya terpaku pada angka bintang semata. Mereka memahami bahwa rating juga dapat dimanipulasi sehingga tetap harus dikonfirmasi melalui isi ulasan para pembeli sebelumnya.
Mahasiswa Pemasaran Digital UNJ Lebih Kritis
Penelitian terhadap 17 mahasiswa aktif Program Studi Pemasaran Digital UNJ Angkatan 2025 menunjukkan hasil yang sangat menarik. Seluruh responden merupakan pengguna aktif Shopee dan telah memiliki pengalaman berbelanja di platform tersebut.
Sebanyak 100 persen responden mengaku selalu membaca ulasan sebelum membeli produk. Bahkan 64,7 persen di antaranya menyatakan sangat setuju bahwa membaca ulasan merupakan langkah wajib sebelum melakukan transaksi.
Hal yang paling menarik adalah besarnya perhatian terhadap ulasan yang disertai foto maupun video. Sebanyak 82,4 persen responden sangat setuju bahwa bukti visual jauh lebih meyakinkan dibandingkan sekadar tulisan. Mereka percaya bahwa foto hasil pembeli asli jauh lebih sulit dimanipulasi dibandingkan teks ulasan biasa.
Satu Ulasan Buruk Bisa Menggagalkan Transaksi
Penelitian ini juga menemukan fakta menarik lainnya. Mahasiswa tidak hanya mencari ulasan positif, tetapi justru sengaja membaca ulasan negatif.
Mereka ingin mengetahui kelemahan produk sebelum mengambil keputusan membeli. Bahkan lebih dari separuh responden mengaku membatalkan pembelian hanya karena menemukan satu ulasan negatif yang dianggap cukup serius.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumen muda saat ini jauh lebih berhati-hati dibandingkan generasi sebelumnya.
Rating di Bawah Empat Bintang Dianggap Berisiko
Temuan berikutnya menunjukkan adanya standar yang cukup tinggi.
Mayoritas mahasiswa secara otomatis menghindari produk yang memiliki rating di bawah empat bintang. Bagi mereka, angka tersebut merupakan sinyal adanya masalah pada kualitas produk maupun pelayanan toko.
Meskipun demikian, mereka tetap tidak mempercayai rating secara membabi buta. Banyak responden memilih bersikap netral ketika ditanya apakah rating tinggi selalu mencerminkan kualitas produk yang baik. Sikap kritis ini muncul karena mereka memahami berbagai strategi manipulasi dalam dunia pemasaran digital.
Harga Murah Tidak Lagi Menjadi Penentu
Inilah hasil penelitian yang paling menarik.
Selama ini banyak penjual menganggap harga murah merupakan senjata utama untuk menarik pembeli. Namun penelitian ini justru menunjukkan hal yang berbeda.
Sebanyak 94,2 persen responden menyatakan bahwa mereka lebih mempertimbangkan ulasan dan rating dibandingkan harga murah ketika berbelanja di Shopee.
Artinya, konsumen masa kini lebih memilih membayar sedikit lebih mahal asalkan produk tersebut memiliki reputasi yang baik, ulasan yang lengkap, serta rating tinggi.
Pepatah lama “ada harga ada rupa” kini mulai bergeser menjadi “ada ulasan yang meyakinkan, ada rasa aman.”
Pelajaran bagi Pelaku Usaha
Hasil penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi para pelaku usaha digital.
Persaingan tidak lagi hanya soal memberikan harga termurah. Justru yang lebih penting adalah menjaga kualitas produk dan pelayanan sehingga pelanggan merasa puas dan bersedia memberikan ulasan positif lengkap dengan foto maupun video.
Penjual juga perlu aktif merespons ulasan pelanggan serta mendorong pembeli memberikan pengalaman belanja secara jujur. Langkah ini akan meningkatkan kepercayaan calon konsumen sekaligus memperkuat reputasi toko.
Penutup
Penelitian terhadap mahasiswa Program Studi Pemasaran Digital UNJ Angkatan 2025 membuktikan bahwa keputusan membeli di marketplace bukan lagi ditentukan semata-mata oleh harga murah. Ulasan produk dan rating bintang telah menjadi faktor utama yang membentuk rasa percaya konsumen.
Generasi Z merupakan konsumen yang kritis, cerdas, dan tidak mudah tergoda oleh promosi semata. Mereka mencari bukti nyata melalui pengalaman pembeli lain sebelum mengeluarkan uangnya.
Bagi penjual online, temuan ini menjadi pengingat bahwa membangun kepercayaan jauh lebih berharga daripada sekadar melakukan perang harga. Reputasi yang dibangun melalui pelayanan berkualitas, ulasan autentik, dan rating tinggi akan menjadi modal utama memenangkan persaingan di era e-commerce yang semakin kompetitif.



