Dirgahayu YPTD

DR. WIJAYA KUSUMAH, M.PD

Berita, guru71 Dilihat

YPTD ke-6: Bersama Membangun Literasi di Indonesia, Sebuah Kisah Omjay

Pagi ini saya kembali mendapatkan sebuah inspirasi. Sebuah gambar perayaan ulang tahun Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan atau YPTD ke-6 muncul di hadapan saya. Warnanya cerah, penuh bunga, balon, pita emas, dan tulisan besar “Dirgahayu YPTD”. Di bagian bawah tertulis sebuah kalimat yang menurut saya sangat penting: “Bersama membangun literasi di Indonesia.”

Saya tersenyum melihatnya. Bagi saya, enam tahun bukanlah waktu yang sebentar. Enam tahun adalah perjalanan panjang yang tentu di dalamnya ada keringat, perjuangan, air mata, kegembiraan, persahabatan, dan tentu saja karya. Apalagi ketika perjalanan itu dipersembahkan untuk sesuatu yang sangat mulia, yaitu membangun budaya literasi di Indonesia.

Sebagai seorang guru yang sejak lama berkecimpung dalam dunia menulis dan blogging, saya merasakan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan manusia untuk memahami kehidupan, mengolah pengalaman, menyampaikan gagasan, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi orang lain.

Saya, Omjay, percaya bahwa setiap orang sesungguhnya mempunyai cerita. Sayangnya, tidak semua orang mau menuliskan ceritanya. Ada yang merasa hidupnya biasa saja. Ada yang merasa tidak pandai menulis. Ada pula yang mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai waktu.

Padahal, justru dari pengalaman sehari-hari itulah lahir tulisan yang paling dekat dengan hati pembaca.

Saya sering mengatakan kepada teman-teman guru dan sahabat penulis, “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” Kalimat ini bukan sekadar slogan bagi saya. Kalimat ini sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Saya belajar bahwa menulis tidak harus menunggu menjadi orang hebat. Kita menulis karena ingin berbagi pengalaman. Kita menulis karena ingin mengabadikan kenangan. Kita menulis karena ada pelajaran yang ingin disampaikan kepada generasi berikutnya.

Ketika melihat perayaan YPTD yang ke-6, saya kembali teringat bahwa perjuangan membangun literasi tidak bisa dilakukan seorang diri. Kita membutuhkan komunitas. Kita membutuhkan sahabat. Kita membutuhkan orang-orang yang mempunyai kepedulian yang sama terhadap dunia membaca, menulis, dan menerbitkan buku.

Di sinilah saya melihat pentingnya kehadiran YPTD.

Bagi saya, YPTD bukan hanya sebuah nama yayasan. Ada semangat yang jauh lebih besar di baliknya. Ada ikhtiar untuk membuat tulisan dan buku menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ada upaya untuk memberikan ruang kepada penulis agar karya mereka tidak berhenti di dalam laptop atau telepon genggam, tetapi bisa menjadi buku yang dibaca dan memberikan manfaat.

Saya sendiri merasakan betapa menyenangkannya ketika sebuah tulisan yang awalnya hanya berupa ide sederhana akhirnya berubah menjadi buku.

Dari pengalaman itulah saya semakin yakin bahwa menulis adalah sebuah perjalanan. Kita tidak pernah tahu sejauh mana tulisan kita akan pergi. Bisa jadi hari ini hanya dibaca oleh beberapa orang. Namun beberapa tahun kemudian, tulisan itu ditemukan oleh seseorang yang sedang membutuhkan inspirasi.

Itulah keajaiban menulis.

Saya pernah menulis tentang perjalanan hidup, keluarga, sekolah, guru, pendidikan, teknologi, blogging, dan berbagai pengalaman sehari-hari. Ada tulisan yang lahir karena rasa bahagia. Ada pula tulisan yang muncul karena kesedihan. Bahkan ada tulisan yang berasal dari perjalanan sederhana, seperti naik kendaraan umum, berjalan kaki, bertemu teman, mengikuti kegiatan sekolah, atau berbincang dengan guru.

Ternyata semuanya bisa menjadi bahan tulisan.

Karena itu, ketika YPTD mengusung semangat “Bersama membangun literasi di Indonesia,” saya merasa sangat dekat dengan semangat tersebut.

Literasi tidak boleh menjadi pekerjaan segelintir orang. Literasi harus menjadi gerakan bersama.

Guru dapat membangun literasi di sekolah. Orang tua dapat membangun literasi di rumah. Komunitas dapat membangun literasi di masyarakat. Penulis dapat membangun literasi melalui buku dan artikel. Blogger dapat membangun literasi melalui tulisan digital. Bahkan seorang anak pun dapat membangun literasi melalui satu paragraf sederhana yang ditulis dengan jujur.

Saya membayangkan Indonesia yang masyarakatnya gemar membaca dan menulis. Indonesia yang anak-anaknya tidak takut membuka buku. Indonesia yang gurunya tidak hanya mengajar, tetapi juga menulis. Indonesia yang pengalaman baik para orang tua tidak hilang begitu saja karena tidak pernah didokumentasikan.

Sebab pengalaman adalah guru yang sangat mahal.

Bayangkan jika seorang guru yang telah mengajar puluhan tahun tidak pernah menuliskan pengalamannya. Setelah beliau pensiun, banyak pengetahuan praktis yang ikut hilang. Sebaliknya, jika pengalaman itu dituliskan menjadi buku, artikel, atau blog, maka generasi berikutnya dapat mempelajarinya.

Di situlah saya melihat makna penting dari dokumentasi melalui tulisan.

Menulis membuat pengalaman menjadi lebih panjang umur.

Saya pun belajar bahwa buku bukan sekadar kumpulan halaman. Buku adalah rekaman perjalanan manusia. Di dalam buku ada pemikiran, pengalaman, perjuangan, dan doa seorang penulis. Karena itu, ketika seseorang menerbitkan buku, sesungguhnya ia sedang membuat sebuah warisan.

Tidak harus warisan berupa harta.

Bisa jadi warisan terbaik seseorang justru berupa ilmu dan tulisan.

Enam tahun perjalanan YPTD menjadi momentum yang baik untuk terus memperkuat gerakan tersebut. Saya berharap semakin banyak guru, dosen, mahasiswa, siswa, orang tua, dan masyarakat yang berani menulis. Jangan takut tulisan kita belum sempurna.

Tulisan pertama memang mungkin masih sederhana.

Tidak apa-apa.

Tulisan kedua bisa lebih baik.

Tulisan ketiga menjadi semakin matang.

Begitulah proses seorang penulis.

Saya sendiri tidak lahir sebagai penulis hebat. Saya hanya seseorang yang terus belajar menulis. Saya belajar dari kesalahan. Saya belajar dari pembaca. Saya belajar dari teman-teman. Saya belajar dari pengalaman hidup. Yang paling penting, saya terus menulis.

Dari perjalanan itu saya menemukan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa tulisannya terinspirasi dari tulisan saya, hati saya terasa hangat. Ketika ada guru yang akhirnya berani menerbitkan buku setelah mengikuti kegiatan menulis, saya merasa ikut bahagia. Ketika seorang peserta pelatihan mengatakan bahwa dirinya sekarang percaya diri menulis, saya merasa perjuangan selama ini tidak sia-sia.

Inilah sesungguhnya kebahagiaan seorang pegiat literasi.

Bukan sekadar mendapatkan penghargaan.

Bukan sekadar mendapatkan keuntungan.

Namun melihat orang lain tumbuh dan berkembang melalui tulisan.

Karena itu, pada usia YPTD yang ke-6 ini, saya ingin menyampaikan selamat ulang tahun dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang terus menjaga semangat literasi. Semoga YPTD semakin maju, semakin banyak melahirkan penulis dan buku berkualitas, serta semakin luas memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.

Bagi saya, perjalanan membangun literasi belum selesai.

Justru baru dimulai.

Hari ini mungkin kita merayakan enam tahun YPTD. Besok kita melanjutkan perjuangan. Akan ada lebih banyak buku yang lahir. Akan ada lebih banyak penulis baru. Akan ada lebih banyak guru yang berani menuangkan pengalaman. Akan ada lebih banyak anak muda yang menemukan bahwa menulis ternyata bisa menjadi jalan untuk berbagi dan menginspirasi.

Saya percaya, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya alam melimpah. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki manusia yang mau belajar, membaca, berpikir, dan berbagi pengetahuan.

Dan salah satu jalan untuk membangun manusia seperti itu adalah melalui literasi.

Mari kita terus membaca.

Mari kita terus menulis.

Mari kita terus berbagi.

Mari kita terus membangun Indonesia melalui kata-kata yang baik dan karya yang bermanfaat.

Selamat Dirgahayu YPTD ke-6.

Semoga semangat “Bersama Membangun Literasi di Indonesia” tidak berhenti sebagai kalimat indah di sebuah spanduk atau gambar perayaan, tetapi benar-benar menjadi gerakan nyata yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Saya, Omjay, akan terus menulis.

Sebab saya percaya, satu tulisan mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk dibaca, tetapi pesan kebaikannya bisa tinggal jauh lebih lama di hati seseorang.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam literasi.

Omjay
Guru Blogger Indonesia

Tinggalkan Balasan