Menang dengan Kebijaksanaan, Bukan dengan Amarah: Kisah Omjay Belajar Menjaga Lisan
Inspirasi Pagi, Rabu, 19 Agustus 2026
Pagi ini Omjay kembali mendapatkan pelajaran kehidupan yang sederhana, tetapi begitu dalam maknanya. Kadang-kadang nasihat terbaik bukanlah sesuatu yang baru kita dengar, melainkan sesuatu yang sudah sering kita dengar tetapi belum sepenuhnya kita jalankan.
Kemenangan diperoleh dengan kebijakan. Kebijakan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar. Pikiran yang benar adalah dengan menyimpan baik-baik segala rahasia.
Kalimat itu membuat Omjay berhenti sejenak. Dalam perjalanan kehidupan, ternyata tidak semua hal harus dibicarakan. Tidak semua rahasia harus dibuka. Tidak semua cerita harus disampaikan kepada orang lain. Ada saatnya kita harus belajar diam, bukan karena tidak mampu berbicara, tetapi karena kita memahami bahwa diam adalah bagian dari kebijaksanaan.
Sebagai seorang guru dan blogger, Omjay setiap hari berhadapan dengan banyak orang. Ada siswa, guru, orang tua, sahabat, teman di komunitas, dan banyak orang yang datang membawa cerita. Ada yang bercerita tentang keberhasilan. Ada pula yang datang membawa kesedihan, masalah keluarga, persoalan pekerjaan, bahkan kegelisahan yang tidak sanggup mereka ceritakan kepada banyak orang.
Di situlah Omjay belajar bahwa kepercayaan adalah amanah.
Ketika seseorang bercerita kepada kita, jangan buru-buru menjadikannya bahan pembicaraan. Jangan menjadikan kelemahan orang lain sebagai hiburan. Sebab, bisa jadi suatu hari nanti kita berada dalam posisi yang sama dan berharap ada seseorang yang mampu menjaga cerita kita dengan baik.
Omjay juga teringat sebuah nasihat yang sangat menyentuh hati:
Yang paling patut mengampuni ialah orang yang paling memiliki kemampuan untuk menghukum.
Betapa indahnya kalimat tersebut.
Orang yang benar-benar kuat bukanlah orang yang selalu membalas kesalahan orang lain. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika mempunyai kesempatan untuk membalas.
Dalam kehidupan, kita mungkin pernah disakiti. Pernah diremehkan. Pernah dituduh. Pernah disalahpahami. Bahkan mungkin pernah diperlakukan tidak adil oleh orang yang kita percaya.
Rasanya ingin membalas.
Namun, ketika hati mulai tenang, kita sadar bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang luka. Sebaliknya, memaafkan bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan adalah cara kita membebaskan hati dari beban kebencian.
Omjay belajar bahwa hidup ini terlalu singkat untuk terus menyimpan dendam.
Ada satu lagi nasihat yang membuat Omjay semakin berhati-hati dalam berbicara:
Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu.
Sederhana sekali, tetapi sulit dilakukan.
Sebelum berbicara, sebenarnya kita hanya perlu bertanya kepada diri sendiri, “Kalau kalimat ini ditujukan kepada saya, apakah saya akan merasa senang?”
Jika jawabannya tidak, mungkin sebaiknya kita menahan diri.
Lidah memang tidak bertulang. Ia bisa bergerak ke mana saja. Namun, satu kalimat yang keluar dari mulut terkadang tidak bisa ditarik kembali. Luka karena perkataan bisa lebih dalam daripada luka karena benda tajam.
Omjay sering mengingatkan diri sendiri bahwa menulis juga harus demikian. Jangan hanya mengejar tulisan yang ramai dibaca. Jangan mengejar viral dengan mengorbankan perasaan orang lain. Menulislah dengan hati.
Sebab, tulisan memiliki umur yang panjang.
Perkataan mungkin hanya terdengar beberapa detik, tetapi tulisan bisa dibaca bertahun-tahun kemudian. Karena itu, seorang penulis harus belajar bertanggung jawab terhadap setiap kata yang dituliskannya.
Kemudian ada nasihat yang sangat dalam:
Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.
Omjay memaknainya sebagai ajakan untuk berpikir sebelum berbicara.
Orang bijak tidak membiarkan lidahnya berlari lebih cepat daripada pikirannya. Ia mempertimbangkan apakah perkataannya benar, apakah bermanfaat, dan apakah waktunya tepat.
Sebaliknya, orang yang tidak berpikir sering kali berbicara terlebih dahulu, kemudian menyesal setelahnya.
Itulah sebabnya Omjay ingin terus belajar menjadi manusia yang lebih baik. Tidak mudah memang. Usia bertambah, pengalaman bertambah, tetapi ternyata belajar mengendalikan diri tetap menjadi pekerjaan seumur hidup.
Kadang kita merasa sudah banyak pengalaman. Namun, satu kejadian kecil bisa mengajarkan sesuatu yang belum pernah kita pahami sebelumnya.
Pagi ini Omjay kembali belajar bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain.
Kemenangan sejati adalah ketika kita berhasil mengalahkan ego dalam diri sendiri.
Kita menang ketika mampu memilih diam daripada menyakiti. Kita menang ketika mampu memaafkan meskipun punya kesempatan membalas. Kita menang ketika mampu menjaga rahasia meskipun orang lain mungkin ingin mengetahuinya. Kita menang ketika mampu berpikir jernih sebelum mengambil keputusan.
Dan yang paling penting, kita menang ketika hati tetap baik meskipun dunia tidak selalu memperlakukan kita dengan baik.
Semoga pagi ini kita semua diberi kemampuan untuk menjaga lisan, menjaga hati, menjaga rahasia, dan menjaga kepercayaan.
Jangan terburu-buru membalas. Jangan mudah menyebarkan cerita. Jangan mengatakan sesuatu yang kita sendiri tidak ingin mendengarnya.
Mari belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana.
Karena pada akhirnya, bukan berapa banyak orang yang berhasil kita kalahkan yang akan dikenang, tetapi berapa banyak hati yang berhasil kita jaga agar tidak terluka.
Tetap semangat menjalani hari.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Barakallah fiikum.







