Teknologi dalam kehidupan saya

DR. WIJAYA KUSUMAH, M.PD

Terbaru7 Dilihat

Teknologi dalam Kehidupan Saya: Dari WhatsApp, Tatap Layar, hingga Kecerdasan Buatan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. – Omjay Guru Blogger Indonesia

Malam ini, peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35 kembali belajar bersama. Tema yang kami angkat sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: “Teknologi dalam Kehidupan Saya.”

Saya sengaja memilih tema ini karena teknologi bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia. Teknologi sudah berada di tangan kita, bahkan mungkin menjadi benda pertama yang kita cari ketika bangun tidur dan benda terakhir yang kita lihat sebelum memejamkan mata.

Salah satu teknologi yang sangat dekat dengan kehidupan saya dan peserta KBMN PGRI adalah WhatsApp.

Sejak KBMN PGRI Gelombang 1 sampai Gelombang 35, WhatsApp Group menjadi salah satu sarana utama untuk belajar bersama. Materi dapat dikirimkan dengan cepat. Peserta dapat membaca kapan saja. Diskusi dapat berlangsung tanpa harus berada di ruangan yang sama.

Sederhana, tetapi luar biasa.

Bahkan Prof. Eko Indrajit, pembina kami di KOGTIK PGRI, pernah memberikan saran agar kami menggunakan WhatsApp saja untuk pembelajaran. Alasannya sangat masuk akal. Peserta akan lebih mudah mendapatkan materi. Kuncinya sebenarnya sederhana: mau duduk sebentar dan kemudian membaca.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi dalam dunia pendidikan maknanya sangat dalam.

Teknologi tidak akan memberikan manfaat apabila manusia tidak mau menggunakannya untuk belajar.

Kita boleh memiliki smartphone yang mahal, internet yang cepat, laptop yang canggih, dan berbagai aplikasi pembelajaran. Namun semuanya tidak akan berarti apabila kita tidak memiliki kemauan untuk belajar.

Dari Tatap Muka Menuju Tatap Layar

Pengalaman saya dengan teknologi dalam pendidikan sebenarnya sudah berlangsung cukup lama.

Saya pernah menjadi dosen di Universitas Terbuka selama sekitar empat tahun. Pada awalnya, proses pembelajaran masih banyak dilakukan secara tatap muka. Namun perlahan, perkembangan teknologi mengubah cara kami berinteraksi dengan mahasiswa.

Kami mulai mengenal pembelajaran melalui tatap layar.

Bagi saya, perubahan tersebut merupakan pengalaman yang sangat menarik. Sebagai orang yang belajar dan mengajar dalam bidang teknologi pendidikan, saya melihat sendiri bagaimana teknologi dapat membantu guru dan dosen menyampaikan materi kepada peserta didik.

Indonesia adalah negara kepulauan.

Ada peserta didik yang tinggal di kota besar. Ada pula yang tinggal jauh di pelosok daerah. Jarak menjadi salah satu tantangan dalam pendidikan.

Karena itu, akses internet yang cepat dan merata sangat dibutuhkan oleh warga negara Indonesia.

Teknologi membuat jarak menjadi lebih pendek.

Guru di Jakarta dapat berbicara dengan siswa di daerah lain. Dosen dapat menyampaikan materi kepada mahasiswa yang berada jauh dari kampus. Penulis dapat berbagi gagasan kepada pembaca yang bahkan belum pernah ditemuinya secara langsung.

Inilah salah satu keajaiban teknologi.

Teknologi Membantu Saya Menjadi Guru

Dalam kehidupan saya sekarang, teknologi adalah alat bantu untuk menyampaikan materi yang saya ajarkan.

Apalagi dahulu saya pernah mengajar mata kuliah Media Pembelajaran.

Dari sana saya semakin memahami bahwa teknologi bukanlah tujuan akhir pendidikan. Teknologi hanyalah alat.

Tujuan akhirnya tetap sama: bagaimana peserta didik belajar, memahami, mengalami, dan mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupannya.

Teknologi hanyalah jembatan.

Guru tetap menjadi manusia yang membimbing perjalanan belajar.

Karena itulah saya selalu percaya bahwa teknologi boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tetap membutuhkan hati.

Dari Teknologi Pendidikan Lahir KBMN PGRI

Pengalaman saya menggunakan teknologi dalam pembelajaran kemudian membawa saya kepada sebuah perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya membuka Kelas Belajar Menulis Nusantara atau KBMN PGRI.

Kelas ini berkembang dari waktu ke waktu. Peserta datang dari berbagai daerah. Mereka belajar menulis, membaca, membuat blog, menerbitkan buku, dan berbagi pengalaman.

Sarana yang digunakan pun tidak selalu rumit.

WhatsApp menjadi salah satu kendaraan utama kami.

Sesekali kami menggunakan Zoom atau Google Meet apabila diperlukan untuk menyampaikan materi secara langsung.

Dari sinilah saya semakin yakin bahwa teknologi yang sederhana sekalipun dapat memberikan dampak besar apabila digunakan dengan benar.

Alhamdulillah, sudah banyak peserta KBMN PGRI yang menyelesaikan proses belajar dan mendapatkan sertifikat.

Ada yang kemudian menerbitkan buku.

Ada yang mulai aktif menulis di blog.

Ada yang menulis di media massa.

Ada pula yang akhirnya menjadi narasumber dan berbagi ilmu kepada orang lain.

Teknologi menjadi jembatan yang mempertemukan banyak orang dengan kesempatan baru.

Sekitar 21 Hari Lagi: OTN 8

Menariknya, tema pembelajaran malam ini juga sangat bersinggungan dengan kegiatan yang sedang kami persiapkan.

Dalam waktu sekitar 21 hari lagi, komunitas guru TIK dan Informatika akan melaksanakan OTN 8.

Informasi OTN 8 2026

Kami ingin teknologi semakin dekat dengan kehidupan siswa dan guru.

Melalui OTN 8, kami ingin memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal dan mengembangkan kemampuan di bidang teknologi, informatika, koding, robotik, kecerdasan artifisial, dan bidang terkait lainnya.

Kami juga berharap kegiatan ini dapat melewati proses kurasi Puspresnas Kemdikdasmen.

Bagi kami, kegiatan seperti OTN bukan hanya tentang lomba dan siapa yang menjadi juara.

Lebih dari itu, kami ingin menumbuhkan keberanian anak-anak untuk mencoba teknologi, memecahkan masalah, berkreasi, dan menghasilkan sesuatu.

Sebab anak-anak hari ini adalah generasi yang akan hidup dalam dunia teknologi yang jauh lebih maju.

Tugas kita sebagai guru bukan menjauhkan mereka dari teknologi.

Tugas kita adalah membimbing mereka agar mampu menggunakan teknologi dengan cerdas, kreatif, etis, dan bertanggung jawab.

Sekarang Kita Memasuki Era AI

Perjalanan teknologi tidak berhenti pada WhatsApp, Zoom, Google Meet, blog, atau berbagai aplikasi pembelajaran.

Sekarang kita memasuki era Artificial Intelligence atau AI, yang sering kita sebut sebagai kecerdasan buatan.

Saya sendiri merasakan bahwa dengan adanya AI, kegiatan belajar membaca dan menulis menjadi semakin mudah.

Orang dapat memperoleh ide tulisan dalam hitungan detik.

Kita dapat meminta bantuan AI untuk membuat kerangka tulisan, memperbaiki struktur kalimat, mencari alternatif judul, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu menyusun sebuah buku.

Saya sendiri pernah diajari membuat buku hanya dengan satu prompt menggunakan ChatGPT berbayar.

Luar biasa?

Tentu saja.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan.

Kecerdasan buatan memang pintar, tetapi manusia yang membuatnya jauh lebih pintar.

Karena itu, jangan takut kepada AI.

Gunakan AI sebagai alat bantu.

Jangan sampai kita justru menjadi alat bagi AI.

AI Boleh Membantu, tetapi Pengalaman Tetap Milik Kita

Sebagai seorang penulis, saya mempunyai prinsip sederhana.

AI boleh membantu kita menemukan ide.

AI boleh membantu kita membuat kerangka.

AI boleh membantu kita memperbaiki tulisan.

AI boleh membantu kita belajar.

Tetapi pengalaman hidup tetap milik kita.

Tidak ada AI yang mengalami masa kecil kita.

Tidak ada AI yang merasakan perjuangan kita menjadi guru.

Tidak ada AI yang merasakan kebahagiaan ketika buku pertama kita terbit.

Tidak ada AI yang merasakan air mata ketika kita mengalami kegagalan.

Dan tidak ada AI yang bisa menggantikan seluruh pengalaman manusia.

Karena itulah tulisan yang paling kuat sering kali bukan tulisan yang paling rumit.

Tulisan yang paling kuat adalah tulisan yang jujur dan berasal dari pengalaman.

Saya Masih Mengingat Pesan Almarhum Dr. Nusa Putra

Ada satu kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat.

Kalimat tersebut disampaikan oleh almarhum Dr. Nusa Putra, guru menulis saya ketika belajar di Pascasarjana UNJ.

Beliau mengatakan bahwa untuk menulis, kita tidak perlu terlalu banyak berpikir sampai akhirnya tidak pernah mulai.

Kita hanya perlu duduk sebentar dan mulai menulis.

Kalimat itu sudah disampaikan sekitar sepuluh tahun lalu.

Namun sampai sekarang masih melekat kuat dalam ingatan saya.

Mengapa?

Karena memang benar.

Banyak orang ingin menjadi penulis.

Tetapi tidak banyak yang mau duduk dan mulai menulis.

Banyak orang mempunyai pengalaman luar biasa.

Tetapi pengalaman tersebut hilang begitu saja karena tidak pernah dituliskan.

Banyak guru memiliki cerita inspiratif.

Tetapi cerita tersebut hanya berhenti menjadi percakapan di ruang guru.

Padahal bisa jadi cerita sederhana seorang guru mampu mengubah hidup seorang pembaca.

Duduklah Sebentar, Lalu Menulislah

Malam ini saya ingin mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 melakukan hal yang sederhana.

Tidak perlu mencari tema yang terlalu jauh.

Lihatlah kehidupan kita sendiri.

Teknologi apa yang paling membantu kehidupan Anda?

Apakah WhatsApp?

Apakah smartphone?

Apakah laptop?

Apakah internet?

Apakah Zoom?

Apakah Google Meet?

Apakah blog?

Apakah AI?

Atau mungkin sebuah teknologi sederhana yang selama ini menemani perjalanan hidup Anda?

Pilih satu.

Kemudian ceritakan.

Kapan pertama kali mengenalnya?

Mengapa Anda menggunakannya?

Apa yang berubah setelah Anda menggunakannya?

Apa manfaatnya?

Apa masalah yang pernah Anda alami?

Apa pelajaran yang Anda dapatkan?

Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, sebuah tulisan akan lahir.

Tidak perlu menunggu sempurna.

Tidak perlu menunggu punya laptop mahal.

Tidak perlu menunggu mendapatkan ide yang luar biasa.

Ambil smartphone Anda.

Buka WhatsApp atau aplikasi pengolah kata.

Kemudian mulailah menulis.

Sebab sering kali masalah terbesar seorang penulis bukan tidak punya ide.

Masalah terbesar seorang penulis adalah tidak segera mulai menulis.

Teknologi Adalah Alat, Manusia Tetap Pemegang Kendali

Saya bersyukur hidup di zaman teknologi.

Saya dapat mengajar menggunakan teknologi.

Saya dapat menulis menggunakan teknologi.

Saya dapat berkomunikasi dengan guru dan peserta KBMN dari berbagai daerah menggunakan teknologi.

Saya dapat mengembangkan kegiatan OTN menggunakan teknologi.

Saya juga dapat belajar menggunakan kecerdasan artifisial.

Namun saya tidak ingin teknologi mengambil alih kehidupan saya.

Teknologi harus tetap menjadi alat.

Manusia tetap menjadi pengendali.

Sebab secanggih apa pun teknologi, pendidikan tetap membutuhkan keteladanan.

Tulisan tetap membutuhkan pengalaman.

Dan manusia tetap membutuhkan manusia lainnya.

Malam ini, setelah materi KBMN PGRI Gelombang 35 selesai, mungkin ada peserta yang masih bingung harus menulis apa.

Saya hanya ingin mengingatkan pesan guru menulis saya, almarhum Dr. Nusa Putra.

Duduklah sebentar.

Kemudian mulailah menulis.

Tidak perlu menunggu tulisan menjadi sempurna.

Tuliskan pengalaman Anda.

Tuliskan perjuangan Anda.

Tuliskan teknologi yang menemani kehidupan Anda.

Tuliskan bagaimana teknologi mengubah cara Anda belajar, bekerja, mengajar, berkomunikasi, dan berkarya.

Karena suatu hari nanti, teknologi akan terus berubah.

Aplikasi yang hari ini kita gunakan mungkin suatu saat akan ditinggalkan.

Namun cerita tentang perjalanan hidup kita akan tetap memiliki nilai.

Teknologi membantu kita bekerja lebih cepat.

Teknologi membantu kita belajar lebih mudah.

Teknologi membantu kita berkomunikasi lebih jauh.

Tetapi hanya manusia yang bisa memberikan makna.

Dan hanya tulisan yang mampu membuat pengalaman itu tetap hidup ketika kita sudah tidak lagi berada di sana.

Mari gunakan teknologi untuk belajar.

Mari gunakan teknologi untuk berkarya.

Mari gunakan teknologi untuk menulis.

Dan yang paling penting:

Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah manusia yang mampu menggunakan teknologi untuk menginspirasi sesama.

Salam literasi.

Menulislah dengan hati. Menulislah setiap hari. Karena guru yang menulis adalah guru yang menginspirasi.

Tinggalkan Balasan