Guru Informatika Punya Hak Mengajar Koding

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Terbaru162 Dilihat

Guru Informatika Bergaji 350 Ribu: Masihkah Saya Punya Hak Mengajar Koding di SD?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Setiap kali saya berbincang dengan guru-guru Informatika di berbagai daerah, ada satu kisah yang selalu membuat dada saya sesak. Kisah tentang guru muda, guru cerdas, guru penuh semangat — tetapi digaji hanya 350 ribu rupiah per bulan. Angka yang bahkan tidak cukup membeli paket internet untuk satu bulan penuh. Namun mereka tetap hadir di kelas dengan senyum, tetap menyapa murid-murid dengan penuh cinta, dan tetap berjuang agar sekolahnya tidak tertinggal dari perubahan zaman.

Beberapa waktu lalu, seorang guru bertanya kepada saya dengan suara yang pelan namun penuh harapan:

“Om Jay, saya guru Informatika di sekolah swasta. Gaji saya 350 ribu. Tapi alhamdulillah saya sudah punya sertifikat pendidik Informatika dan sekarang jadi anggota PGRI. Bolehkah saya mengajar Koding/KA di SD? Apakah saya memenuhi syarat sesuai aturan terbaru?”

Pertanyaan ini bukan hanya soal administrasi. Ini adalah jeritan hati seorang guru yang ingin berkembang, ingin diakui, ingin mengabdi, dan ingin memperbaiki hidupnya. Dan saya yakin—ini bukan hanya pertanyaan satu orang, tetapi ribuan guru Informatika lain di seluruh Indonesia.


1. Perubahan Besar: Koding & Kecerdasan Artifisial Masuk ke SD

Permendikdasmen terbaru memberi sinyal kuat bahwa masa depan pendidikan Indonesia bergerak ke arah literasi digital yang lebih kokoh. Pemerintah, melalui penguatan kurikulum, telah membuka ruang bagi satuan pendidikan dasar untuk menyelenggarakan:

  • Mata Pelajaran Koding, dan

  • Mata Pelajaran Kecerdasan Artifisial (KA)

Ini bukan lagi sekadar ekstrakurikuler atau kegiatan tambahan. Banyak SD sekarang mulai memasukkan Koding/KA sebagai mata pelajaran kokurikuler dan bahkan intrakurikuler. Dan untuk mengajar mata pelajaran baru ini, Indonesia membutuhkan guru Informatika — guru yang memahami logika algoritma, computational thinking, dan etika teknologi.

Jadi, pertanyaan “apakah guru Informatika boleh mengajar Koding/KA di SD?” adalah pertanyaan yang sangat relevan.


2. Jawaban Resminya: Ya, Bisa! (Dengan Syarat yang Jelas)

Sesuai regulasi terbaru tentang kurikulum, kualifikasi pendidik, dan linieritas, guru yang memiliki:

Sertifikat pendidik Informatika

Ijazah S1/D4 dalam bidang terkait

dapat mengampu mata pelajaran Koding maupun KA di SD.

Mengapa? Karena Koding/KA masuk rumpun Informatika, bukan rumpun IPS, bukan Bahasa Indonesia, bukan pula Pendidikan Jasmani. Itu artinya, Anda yang sudah bersertifikat Informatika memiliki landasan paling kuat untuk menjadi guru pengampu.

Yang dibutuhkan hanyalah:

  1. SK Penugasan dari Kepala Sekolah

  2. Pencatatan linieritas di Dapodik

  3. Penguatan pedagogi SD (agar cara mengajar sesuai usia anak)

Jadi, kalau ada guru Informatika bertanya, “Apakah saya boleh?”
Saya jawab: Bukan hanya boleh, tapi Anda sangat dibutuhkan.


3. Tapi Bagaimana Dengan Guru Bergaji 350 Ribu?

Di sinilah hati saya terenyuh.

Negara membutuhkan guru Informatika. Sekolah membutuhkan guru Informatika. Kurikulum masa depan mengandalkan guru Informatika.
Namun banyak guru Informatika justru hidup dalam kondisi paling tidak layak.

Gaji 350 ribu sungguh tidak adil untuk seorang pendidik yang mengemban tanggung jawab mencerdaskan generasi digital.

Saya selalu mengingatkan:

“Guru bukan relawan. Guru adalah tulang punggung bangsa.”

Saya menulis ini bukan untuk merendahkan sekolah swasta yang kesulitan dana. Tetapi saya ingin mengingatkan semua pihak bahwa ketika seorang guru diberi amanah mengajar Informatika, Koding, atau AI — ia adalah aset besar bagi sekolah.

Dan aset itu harus dijaga dengan layak.

Saya berharap sekolah tempat Anda mengajar memberi tambahan honor seiring dengan meningkatnya tanggung jawab Anda mengampu mata pelajaran baru. Bila perlu, komunikasikan secara resmi. Bila tidak direspons, Anda punya PGRI yang siap berdiri di belakang Anda.


4. Bekal Penting untuk Mengajar Koding di SD

Mengajar di SD berbeda dengan mengajar di SMP atau SMA. Anak SD:

  • cepat bosan

  • lebih suka bermain

  • butuh visual, animasi, dan gerak

  • lebih senang belajar lewat cerita

Karenanya, guru Informatika di SD harus:

Membumikan konsep sulit dengan bahasa anak-anak

Misalnya “algoritma” diubah menjadi “urutan langkah bermain.”

Menggunakan aktivitas unplugged

Seperti permainan kartu, puzzle, dan simulasi.

Menghindari istilah teknis yang rumit

Membangun rasa percaya diri anak

Agar mereka merasa teknologi itu menyenangkan.

Dengan pendekatan ini, Anda tidak hanya menjadi pengajar materi, tetapi penerang masa depan bagi anak-anak SD.


5. Mengapa Guru Informatika Paling Cocok?

Karena hanya guru Informatika yang memahami:

  • logika pemrograman

  • computational thinking

  • data & algoritma

  • etika digital

  • keamanan siber

  • kecerdasan buatan

  • dan perkembangan teknologi

Anda bukan hanya mengajar “klik kanan–klik kiri.”

Anda sedang membangun fondasi kecakapan digital anak Indonesia.


6. Penutup: Tetaplah Menjadi Cahaya

Untuk guru yang bertanya kepada saya — dan untuk semua guru yang sedang membaca tulisan ini — izinkan saya menyampaikan satu hal:

Walau Anda digaji kecil, ilmu Anda besar.
Walau Anda tidak selalu dihargai, pengabdian Anda mulia.
Walau langkah Anda berat, masa depan anak-anak Indonesia ada dalam genggaman Anda.

Jika Anda memiliki sertifikat pendidik Informatika dan kualifikasi yang linier, Anda berhak dan layak mengajar Koding/KA di SD. Jangan ragu. Jangan minder. Jangan menyerah.

Negara sedang bergerak ke arah digital.
Dan Anda adalah motor penggeraknya.

Tetaplah menjadi cahaya.
Tetaplah menulis.
Tetaplah mendidik.

Karena dunia pendidikan Indonesia membutuhkan guru seperti Anda.


Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Guru Blogger Indonesia
Sekretaris Jenderal Ikatan Guru TIK dan Informatika

Tinggalkan Balasan