
Jika
“Bagaimana ending novelmu, Jeng?”
Kembali lelaki itu menanyakan ending kisah novel yang beberapa bulan ini kugarap dan kupublikasikan lewat blog pribadiku.
Jujur saja, novel itu berisi kisahku sendiri yang penuh liku. Kisah cinta dan pertemuanku dengan lelaki di sampingku. Lelaki itu telah menjadi suamiku, hampir satu tahun ini.
Lalu, seperti apa kisah perjalanan kisahku dengannya? Yang jelas, jangan tanyakan, apakah kami sudah dikaruniai buah hati ataukah belum. Pertanyaan seperti itu takkan kujawab. Kenapa bisa begitu? Ya karena banyak teman yang mengetahui bahwa aku sendirian ketika ke mana saja, tanpa suami.
Aku menghela nafas panjang. Aku tak ingin menjawab pertanyaan suamiku itu. Ada rasa canggung, galau sekaligus bingung. Meski dalam hati aku berharap bahwa dia ingin happy ending dalam kisah novelku seperti mimpiku selama ini. Namun aku sangat takut berharap setelah kejadian demi kejadian sejak ku mengenalnya hingga saat ini.
“Kenapa setiap kutanya tak ada jawaban, Jeng?” tanyanya sekali lagi. Entah sudah berapa kali dia tanyakan hal serupa lewat email atau whatsapp. Tak kubalas. Kini aku sudah merasa trauma untuk berkomunikasi dengannya.
Jika saja pertanyaan itu diajukan dulu, aku bisa langsung menjawabnya.
“Aku tak yakin dengan ending ceritanya…” jawabku sekenanya.
“Mengapa?”
Kuangkat bahuku tanda aku tak memiliki jawaban.
“Tak cukupkah perhatianku selama ini, Jeng? Tidakkah itu membuktikan perasaanku padamu?”
“Aku sendiri sudah takut akan perasaanku, mas. Jadi sudahlah..”
“Maksudmu, ending ceritanya akan diwarnai perpisahan?”














