Episode Senior yang Ditiru

Cerpen, KMAB, YPTD448 Dilihat
Cover oleh Ajinatha

“Mencari teman itu yang baik.” Kira-kira begitu nasehat ibu sama bapak saat masih kecil. Dan lumrahnya anak, pastinya ngeyel. Alhasil ibu akan marah.

Setelah menjadi ibu, aku paham kalau nasehat ibu sangat bermanfaat. Bagaimanapun yang namanya teman memang bisa memengaruhi perilaku dan sikap seseorang.

“Kamu jangan mau kalau dipacar-pacarkan sama Atun,” nasehat ibu, waktu aku masih SMP. Memang waktu itu ada teman yang katanya suka sama aku. Padahal aku nggak suka. Aku masih kekanakan. Lebih senang kalau berteman.

Aku tak mau jadi pikiran ibu. Ibu sudah mikir kakak yang berpacaran dengan lelaki yang tidak disukai karena perilakunya. Karena kasihan sama ibu, aku hanya manut saja. Toh masa puber tak harus mengenal lawan jenis dan saling suka.

Sampai saat ini, nasehat ibu aku usahakan kupatuhi. Biar ibu di sana bisa tenang. Semoga saja aku bisa menjadi anak shalih yang bisa membahagiakan ibu yang sudah tiada.

***

Sekarang bicara tentang pertemanan. Teman dunia nyata dan dunia maya, berseliweran. Konflik? Pasti ada. Namanya manusia punya kepentingan dan ego sendiri-sendiri.

Nah, ada sebuah story dari mas Lamaj. Ada foto yang bersangkutan sedang menikmati alam. Berulang kali foto itu kuamati. Memastikan mataku tidak salah dalam melihat fotonya.

Apa sih fotonya?

Mas Lamaj ternyata merokok. Kukira dia kaum bebas rokok. Ternyata ahli hisap juga.

“Ngebul juga ternyata,” komenku.

Balasannya lucu-lucu tapi aneh juga.

“Meniru senior Ibu Hida.” Balasan cukup singkat tetapi unsur kejutnya lumayan juga. Aku tahu, siapa senior yang dimaksud adalah mas Rizal.

“Mungkin ada nilai filosofi penting dari kegiatan ngebul ya, mas?” Cecarku pada mas Lamaj.

“Filosofis sekali pertanyaan Ibu Hida?” Sebuah pertanyaan yang mewakili jawaban. Tetapi tak perlu kujawab.

Aku tak bisa mengimbangi ilmu filsafat pak dosen itu. Dia jagonya menulis filsafat. Tak seperti emak-emak sepertiku yang cuma menulis cerita-cerita yang embuh.

Sudahlah. Mereka sudah tua. Toh kenal pun cuma lewat dunia maya. Kalau mereka merokok, asapnya tak kuhirup juga. Plus, aku me nasehati suamiku sendiri juga mental. Ahahah. Hadehhh.

 

Melikan, 4 Agustus 2022

 

Tinggalkan Balasan