Ambisi itu dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Ia bisa menjadi energi positif mendorong seseorang untuk berkembang, berprestasi, dan memberi dampak. Namun
ada ujaran bijak Leo Tolostoy yang berbunyi:”Ambition does not go well with kindneness, but rather with pride, cunning ang cruelity” yang secara harafiah artinya:
“Ambisi tidak sejalan dengan kebaikan, melainkan dengan kesombongan, kelicikan, dan kekejaman.”
Kutipan ini mengingatkan bahwa ambisi juga memiliki sisi gelap: ketika tidak dikendalikan, ia bisa menggeser nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu dikatakan juga dalam kaitan pembentukan karakter ia seumpama Pedang Bermata Dua.
Ambisi yang berlebihan sering kali membuat seseorang:
menghalalkan segala cara,
mengabaikan perasaan orang lain, lebih mengutamakan hasil dan nemempatkannta di atas proses. Di titik inilah ambisi mulai “tidak sejalan” dengan kebaikan hati.
Mengapa Ambisi Dikaitkan dengan Sifat Negatif? Menyimak kutipan Leo Tolostoy ini ada tiga hal yang bisa dipetik. Tentang kesombongan (pride), kelicikan (cunning), dan kekejaman (cruelty). Tentunya Ini bukan tanpa alasan.
Kesombongan muncul ketika keberhasilan dianggap sepenuhnya hasil diri sendiri, tanpa ruang untuk kerendahan hati. Kelicikan lahir saat seseorang mulai memanipulasi keadaan demi mencapai tujuan. Kekejaman terjadi ketika orang lain hanya dianggap sebagai alat, bukan sebagai sesama manusia sederajat.
Dalam dunia nyata di manapun itu, tempat kerja, dunia politik, bahkan pelayanan sosia, sering terlihat bagaimana ambisi yang tak terarah mengikis dan menggerus empati. Digantikan karakter jumawa meninggikan diri dan memaksakan kehendak.
Satu pertanyaan terlontar: Apakah Ambisi harus bertentangan atau berbenturan dengan kebaikan? Di sinilah diperlukan sikap kritis terhadap kutipan Tolostoy itu. Pernyataannya tidak sepenuhnya mutlak dianggap benar. Ambisi tidak harus bertentangan dengan kebaikan. Yang menjadi masalah bukan ambisinya, tetapi: motivasinya, untuk diri sendiri kah atau untuk kebaikan bersama. Lalu cara mencapainya, dan nilai yang mendasarinya.
Ambisi yang sehat bisa berjalan seiring dengan kebaikan. Ambil contoh
ambisi seorang tenaga gizi untuk menurunkan angka stunting, ambisi seorang pendidik untuk mencerdaskan generasi anak bangsa,
ambisi seorang pemimpin untuk melayani, bukan dilayani dan banyak lagi. Kesemuanya merupakan dorongan untuk memberi dampak pisitif.
Ambisi seperti ini lahir dari empati, bukan ego. Ia menjadi refleksi pribadi. Dengan demikian kutipan ini dapat dipandang sebagai peringatan:
“Berhati-hatilah dengan ambisimu—jangan sampai ia mengubah siapa jati dirimu dirimu.”
Telusuri diri dengan menghayati pertanyaan-peetanyaan:
Apakah tujuan diri ini membuat lebih peduli atau justru lebih dingin? Apakah diri ini masih menghargai orang lain dalam perjalanan mencapai tujuan?
Apakah diri ini siap berhasil tanpa kehilangan kemanusiaan atau jati diri?
Ambisi ibarat api. Ia bisa menghangatkan, tetapi juga bisa membakar. Kebaikan adalah kompas yang memastikan api itu tetap berada di jalur yang benar.
Jadi, bukan soal memilih antara ambisi atau kebaikan, melainkan bagaimana menjaga agar ambisi tetap berakar pada nilai kemanusiaan.
Memang hasil yang besar membutuhkan ambisi yang besar pula. Ambisi itu perlu, tapi tidak perlu jadi ambisius. Meski demikian ambisius menjadi diri sendiri lebih baik dibanding bangga bisa seperti orang lain.
(Abraham Raubun. B Sc, S.Ikom)


