SELERA MAKAN DAN SISA MAKANAN DI PIRING ANAK

Terbaru1 Dilihat

Selera makan adalah salah satu faktor penting yang memengaruhi asupan makanan pada anak guna mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.

Selera makan bukan sekadar keinginan untuk makan, tetapi juga terkait dengan kondisi fisik, psikologis, lingkungan, dan kebiasaan makan yang dimiliki seorang anak. Anak dengan selera makan baik, cenderung lebih mudah menghabiskan makanan yang disajikan di piring mereka. Porsi makanan yang disajikan tentu pada umumnya tak akan tersisa. Karena itu selera makan yang baik membantu memastikan pemenuhan kebutuhan gizi mereka.

Disinilah tidak akan terjadi “food waste” yaitu makanan tersisa yang sebenarnya masih layak dikonsumsi tetapi dibuang begitu saja. Ambil contoh pemberian makan anak sekolah (School Feeding).

Pemberian makanan di sekolah tujuannya mulia, menjamin status gizi baik anak sekolah. Konsepnya bagus, manfaatnya sudah diakui banyak negara. Namun itu jika tahap penerapan atau pelaksanaan taat pada persyaratan dan ketentuan sesuai konsepnya. Ditambah manajemen yang baik serta komitmen yang tinggi untuk mengawal tidak terjadinya penyimpangan yang mendahulukan kepentingan pribadi yang membawa petaka, sehingga menghambat terciptanya kualitas unggul anak negeri.

Penyediaan porsi makanan bagi anak sekolah memang diperhitungkan. Setidaknya memberi kontribusi tambahan  untuk memenuhi kebutuhan yang dianjurkan (recommended dietary allowance) bagi anak-anak. Namun habis disantap atau tidaknya porsi yang disajikan juga dipengaruhi selera makan.

Banyak faktor yang memengaruhi selera anak.
Kondisi kesehatan seperti demam, infeksi, gangguan pencernaan. Aktivitas fisik; anak yang aktif biasanya memiliki kebutuhan energi lebih besar. Lingkungan makan yang nyaman dan menyenangkan. Pola makan keluarga dan contoh yang diberikan orang tua. Variasi makanan dalam rasa, warna, bentuk, dan tekstur. Kondisi emosional, seperti kecemasan, tekanan, atau suasana hati.

Selera makan merupakan jembatan yang menghubungkan anak dengan kebutuhan gizinya. Anak yang makan dengan lahap belum tentu bergizi baik jika makanannya tidak seimbang. Sebaliknya, anak yang tampak makan sedikit belum tentu bermasalah apabila pertumbuhan dan perkembangannya tetap optimal.

Oleh karena itu, perhatian utama sebaiknya tidak hanya pada banyaknya makanan yang masuk, tetapi juga pada kualitas makanan, pola makan, dan kondisi tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Hasil pemberian makanan ini tentu perlu diukur dan diserahkan pada ahlinya.

Setidaknya dapat dilakukan pengukuran “food waste” yang pada dasarnya bukan  kegiatan sekadar menghitung makanan yang dibuang, melainkan menjadi alat evaluasi kesehatan, finansial, dan operasional program.

Juga membantu asupan zat gizi sehingga dapat mengurangi kesenjangan antara zat gizi yang disajikan dengan yang benar-benar dikonsumsi oleh anak. Mengidentifikasi menu yang tidak disukai agar anggaran bahan baku dapat dialihkan ke menu lain yang lebih padat gizi dan diminati sehingga meningkatkan efisiensi  penggunaan anggaran.

Selain itu dapat dilakukan penyesuaikan ukuran porsi standar berdasarkan kelompok umur siswa untuk menghindari pengeluaran berlebih pada porsi yang terlalu besar.

Dengan sistem penyelenggaraan dan manajemen tersetralistik tidak menutup kemungkinan munculnya masalah yang “complicated“. Idealnya, nendejatkan penyajian makanan, diliyani lewat dapur dan kantin sekolah  guna menjamin keamana dan mutu makanan.

Apapun pendekatan yang dilakukan, intinya tentu upaya tidak hanya terfokus pada pemberian makanan, namun dampak pemberiannya penting diperhatikan demi peningkatan status gizi optimal sasaran penerima.
(Abraham Raubun. B.Sc,
S Ikom)

Tinggalkan Balasan