Persahabatan dari Balik Teralis Pagar
Tung Widut
Hasan dan Sulis bersahabat dari pertama menjadi guru honorer. Suka duka di sekolah dengan gaji dua digit disambut dengan candaan yang menyamarkan rasa duka. Kesabaran menggunakan ijasah yang terlanjur didapatkan dengan dalih mencari mengalaman. Suatu pandangan yang kadang dilihat sebelah mata oleh pembisnis. Kadang pula diremehkan dari sebuah kenyataan karena penghasilan yang tak mencukupi. Mungkin sudah jiwanya menjadi seorang pendidik., awal ditempuh dengan senyuman setiap pagi dan sejuta harapan di masa mendatang. Harapan keduanya menjadi kenyataan. Hasan yang seorang guru agama mendapat tugas pertama pindah ke sekolah lain. Sulis dan keempat temanya tetap di sekolah lama.
Setelah sekian lama berpisah serah terima jabatan kepala sekolah Sulis dengan Hasan pun terjadi. Rasa sejuta gembira membara di hati mereke. Sulis berangkat dengan senyum setumpuk kebahagiaan. Membayangkan bisa bercengkerama dengan sahabat lamanya itu.
Sulis berasa di deret terdepan setelah kepala Sekolah agar segera bertemu sahabat. Saat kaki Sulis akan melangkah masuk pintu gerbang terdengar suara menggelegar.
“Anda tidak boleh masuk. Ini daerah kekuasaan saya, ” kata sesorang bersamaan tertutupnya pintu gerbang.
Sulis tercegang sebentar lalu mundur kala orasi-orasi sejarah kepemilikan diceritakan dari awal. Disitulah sahabat lamanya mengulurkan tangan dari balik pagar terali yang terkunci. Hasan menyalami sahabat-sahabat lamanya.



