MENGANTAR SATU-SATUNYA PUTERI: Di Hari Sabtu yang Indah, 5 September 2026

Terbaru5 Dilihat


Hari ini langit tampak lebih lembut dari biasanya. Angin pagi menyapa pelan, seolah ikut mengerti: ada hati seorang ayah yang sedang bergetar — separuh penuh kebahagiaan yang meluap-luap, separuh lagi penuh keharuan yang tak sempat terucap.

Hari ini puteri saya, Mutuanisa Mahda Rena, melangkah menuju lembaran baru kehidupannya. Di hadapan keluarga, sahabat, dan Tuhan Yang Maha Kuasa, ia bersanding dengan Diko Prasetyo — pemuda yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya, pelindung hatinya, dan teman seperjalanan sisa usianya.

Tiga Orang Anak, Dua Pengalaman Mantu

Saya adalah ayah yang kini menginjak usia 61 tahun. Tiga anak telah Tuhan titipkan kepada saya: dua putera yang gagah, dan satu puteri yang menjadi bunga di tengah rumah kami.

Ini bukan pertama kalinya saya melepas anak membangun rumah tangga sendiri. Dulu, ketika putera saya menikah, keluarga kami bertambah — seorang menantu perempuan hadir, membawa kehangatan dan warna baru. Hati saya penuh syukur: keluarga bertambah, ikatan semakin luas, kebahagiaan pun ikut berlipat.

Kini, untuk kedua kalinya, saya berdiri di momen yang sama — namun dengan perasaan yang sedikit berbeda. Kali ini yang melangkah bukan putera, bukan pula menantu yang datang — melainkan puteri saya sendiri, yang sejak kecil saya gendong, saya didik, saya lihat tumbuh dari gadis kecil yang ceria menjadi wanita dewasa yang anggun dan mandiri.

Rasa yang Berbeda: Adat, Hati, dan Perpisahan yang Penuh Restu

Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa terasa berbeda?”

Mungkin karena ia satu-satunya puteri di antara saudara-saudaranya. Mungkin karena di dalam hati seorang ayah, anak perempuan selalu memiliki ruang yang khusus — tempat di mana kasih sayang tak pernah berubah, tak pernah berkurang, walau ia telah dewasa.

Namun saya tahu, ada juga yang mengalir dari darah dan adat yang saya bawa — sebagai orang Batak. Di adat kami, anak perempuan yang menikah berarti akan menyertai keluarga suaminya — menjadi bagian dari rumah tangga baru, menempuh perjalanan hidup yang kini berpusat pada pasangannya. Bukan berarti ia hilang dari kami — ia tetap puteri kami, tetap darah daging kami — namun arah langkahnya kini berubah. Pundak yang dulu saya yang memikul perlindungannya, kini berbagi dengan pria lain yang dipercaya Tuhan menjaganya.

Itulah sebabnya detik ini terasa begitu dalam: ada rasa syukur yang membahana, namun ada juga sedikit berat — berat karena melepas, namun ringan pula karena percaya. Percaya bahwa jodoh ini bukan kebetulan. Percaya bahwa Diko yang berdiri di sisinya hari ini adalah orang yang Tuhan siapkan untuk menemani, melindungi, dan membahagiakannya seumur hidup.

Kepada Mutuanisa dan Diko: Hidup Adalah Satu Perjalanan Baru

Kepada puteri kesayanganku:

“Nak, hari ini ayah tidak kehilangan anak — ayah justru memperoleh seorang anak lagi, dan melihatmu tumbuh menjadi wanita yang utuh. Ingatlah bahwa rumah tangga bukanlah cerita yang sempurna dari awal — ia adalah karya yang dibangun bersama, hari demi hari, dengan kesabaran, pengertian, dan doa. Jadilah pendamping yang menenangkan saat ia lelah, dan jadilah tempat pulang yang paling damai baginya. Dan jangan pernah lupa — pintu rumah ayah dan ibumu selalu terbuka, kapan pun kau butuh kembali.”

Dan kepadamu, Diko — putera yang kini menjadi bagian keluarga kami:

“Hari ini saya menyerahkan puteri saya kepadamu. Bukan karena saya tak lagi menjaganya — tapi karena saya percaya kepadamu. Perlakukanlah ia dengan lembut, hargailah ia sebagai wanita yang tumbuh dengan kasih, dan jadilah baginya apa yang saya usahakan baginya selama ini — tempat ia merasa aman, dihargai, dan dicintai sepenuh hati.”

Penutup: Doa Seorang Ayah di Hari Bahagia Ini

Hari ini di Radiant Hall, Ciputat, Tangerang Selatan, di bawah langit Sabtu yang indah ini — saya tidak menangis karena kehilangan. Saya tersenyum karena bahagia.

Kehidupan memang terus berjalan. Anak-anak yang dulu digendong kini berdiri tegak menapaki jalannya sendiri. Tugas seorang ayah bukan menahan mereka agar tetap di sisi — tugasnya adalah melepaskan mereka dengan doa, agar terbang tinggi dengan sayap yang telah ia persiapkan sejak kecil.

Semoga pernikahanmu, Mutuanisa Mahda Rena, dan Diko Prasetyo, menjadi ibadah yang panjang. Semoga rumah tanggamu penuh kasih, saling melengkapi dalam suka maupun duka, dan menjadi tempat di mana Tuhan senantiasa turunkan berkah-Nya. Dan ingatlah — ke mana pun kau pergi, siapa pun kau jadinya — di hati ayah, kau akan selalu tetap puteri kecil yang dulu pernah pulang dengan senyum lebar di wajahnya.

Selamat membangun rumah tangga baru, anakku. Ayah selalu mendoakanmu dari sini.

— Tumpal Daniel S
Sabtu, 5 September 2026
Radiant Hall, Ciputat, Tangerang Selatan

Tinggalkan Balasan