POV Bidan
Pukul 01.40 dini hari.
Ruang bersalin selalu punya suasana yang berbeda dari ruangan lain.
Bukan sunyi… tapi juga bukan ramai.
Udara terasa tegang — seperti semua orang sedang menunggu sesuatu yang sangat penting terjadi.
Saya membaca status pasien.
G1P0A2
Saya berhenti beberapa detik.
Bagi dunia medis itu hanya kode.
Bagi seorang ibu… itu dua kehilangan.
Saya masuk ke ruangan.
Ia terbaring miring, rambutnya basah oleh keringat, napasnya cepat. Tangannya mencengkeram pagar tempat tidur setiap kontraksi datang.
“Bu Bidan…” suaranya bergetar,
“bayi saya… selamat kan?”
Itu bukan pertanyaan tentang persalinan.
Itu pertanyaan dari seseorang yang sudah dua kali pulang dari rumah sakit tanpa bayi di pelukan.
Saya memegang tangannya.
Hangat… tapi gemetar.
“Kita jaga bersama ya, Bu. Ibu kuat.”
Kontraksi datang lagi.
Ia menjerit, lalu menangis.
Bukan hanya karena sakit.
Ada rasa takut di setiap tarikan napasnya — takut sejarah terulang.
Jam bergerak lambat.
Pembukaan bertambah pelan.
Di luar jendela, langit masih gelap.
Pukul 04.12.
“Pembukaan lengkap.”
Ia hampir tidak punya tenaga lagi.
Matanya lelah, tapi tetap memandang saya — seolah saya penjaga harapan terakhirnya.
“Sekarang ibu dorong… ya… ikut saya…”
Ia mengejan.
Sekali.
Dua kali.
“Sedikit lagi Bu… saya sudah lihat kepala bayi…”
Air matanya jatuh deras.
Ia bukan lagi menahan sakit.
Ia sedang berusaha percaya.
Satu dorongan terakhir—
Dan kepala bayi lahir.
Beberapa detik yang terasa sangat lama.
Lalu…
Tangisan itu terdengar.
Suara kecil. Serak. Tidak sempurna.
Tapi hidup.
Saya merasakan dada saya ikut lega.
Saya angkat bayi itu dan memperlihatkannya.
“Ibu… bayinya lahir.”
Ia tidak langsung melihat.
Ia menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu.
Saya tahu itu bukan tangisan kelelahan.
Itu tangisan seseorang yang akhirnya berani mencintai lagi tanpa takut kehilangan.
POV Perawat
Saya berjaga di luar ruang bersalin.
Lorong terlihat biasa — kursi tunggu, dispenser air, papan informasi.
Tapi malam itu terasa berbeda karena satu orang.
Suaminya.
Ia tidak duduk.
Tidak benar-benar berjalan.
Ia hanya berpindah dari satu titik ke titik lain… berulang-ulang.
Setiap istrinya berteriak dari dalam, langkahnya langsung berhenti.
“Masih lama ya, Mbak?”
Suaranya sangat pelan, hampir seperti takut mendengar jawabannya.
Saya tersenyum menenangkan.
“Doakan saja ya, Pak.”
Ia mengangguk.
Lalu saya melihat sesuatu:
bibirnya bergerak pelan.
Ia sedang berdoa.
Sudah hampir tiga jam ia di lorong yang sama.
Ia tidak bermain HP.
Tidak makan.
Tidak duduk lama.
Ia hanya menunggu.
Lalu—
Tangisan bayi terdengar dari dalam.
Ia membeku.
Benar-benar tidak bergerak.
Seolah otaknya belum berani percaya suara itu nyata.
Pintu belum terbuka, tapi air matanya sudah jatuh duluan.
Saya keluar membawa bayi yang sudah dibedong.
“Pak… anaknya lahir.”
Tangannya gemetar saat menerima bayi itu.
Ia menatap wajah kecil itu lama sekali.
Matanya merah.
“Ini… benar anak saya?”
Saya mengangguk.
Ia menunduk, dahinya menyentuh kepala bayi pelan… lalu menangis.
Bukan tangisan tertahan.
Tangisan lega.
Di rumah sakit saya sering melihat kesedihan.
Tapi malam itu saya melihat seorang pria sembuh dari ketakutan yang ia simpan selama empat tahun.
POV Suami
Empat tahun terakhir hidup saya diisi dua hal: menunggu dan menenangkan.
Dua kali saya mengantar istri saya hamil.
Dua kali saya pulang membawa dia… tanpa bayi.
Saya masih ingat ruang IGD itu.
Dokter bicara pelan.
“Tidak bisa dipertahankan.”
Saya tidak tahu harus berkata apa.
Yang saya lakukan hanya memegang tangannya saat dia menangis sampai tertidur.
Ketika ia hamil lagi, kami tidak merayakan.
Kami hanya diam-diam berharap.
Setiap kontrol kami tegang.
Setiap malam saya sering terbangun memastikan dia masih bernapas tenang.
Malam ini saya berdiri di lorong ruang bersalin.
Saya tidak berani duduk.
Setiap ia berteriak dari dalam, dada saya ikut sakit.
Tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa.
Saya hanya berdoa kalimat yang sama berulang-ulang:
Ya Allah… kali ini saja…
Waktu berjalan sangat lambat.
Lalu tiba-tiba—
Tangisan bayi.
Saya tidak langsung bahagia.
Saya takut itu hanya perasaan saya.
Ketika perawat keluar dan memberikan bayi itu ke tangan saya, saya hampir tidak berani menyentuhnya.
Kecil.
Hangat.
Nyata.
Setelah Azan dan Iqamah, saya berbisik di telinganya:
“Ayah di sini… kami sudah menunggumu lama sekali.”
Saya masuk melihat istri saya.
Ia lemah, tapi tersenyum sambil menangis.
Untuk pertama kalinya saya melihat dia menangis… tanpa luka di hatinya.
Malam itu saya sadar:
Beberapa orang menunggu sembilan bulan untuk menjadi orang tua.
Kami menunggu empat tahun, dua kehilangan, dan ratusan doa.
Dan semua penantian itu akhirnya terjawab…
oleh satu tangisan kecil di ruang bersalin.









